Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 3 Desember 2023, 15:13 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pemimpin agama dunia, ilmuwan, dan pejabat politik global berkumpul  meresmikan Faith Pavilion, pada hari keempat COP28, Minggu (3/12/2023).

Kegiatan ini merupakan kali pertama digelar di COP untuk membahas peran komunitas agama dan lembaga keagamaan dalam mengatasi krisis iklim.

Diselenggarakan di bawah naungan Presiden Uni Arab Emirat (UAE) Syeikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, acara tersebut juga dihadiri oleh Menteri Toleransi dan Hidup Berdampingan UEA Syeikh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan, dan Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin, mewakili Paus Fransiskus.

Imam Besar Al-Azhar dan Paus Fransiskus berpidato di depan hadirin secara virtual melalui video. Keduanya mendesak pentingnya tindakan segera melawan perubahan iklim.

Baca juga: COP28 Sambut Platform Investasi Solusi Iklim, Nilainya Rp 11,6 Triliun

Faith Pavilion merupakan koalisi mitra agama, didedikasikan untuk keterlibatan komunitas agama dan akan menjadi tuan rumah panel dengan para pemimpin agama, ilmuwan, dan pemimpin politik, serta mendorong dialog antargenerasi yang melibatkan pemuda dan perwakilan masyarakat adat.

Dalam pidato videonya, Paus Fransiskus mengatakan, dunia membutuhkan aliansi yang tidak merugikan seseorang, namun demi kepentingan semua orang.

Dia mengajak semua perwakilan agama, memberikan contoh dan menunjukkan bahwa perubahan adalah mungkin, menunjukkan gaya hidup yang penuh hormat dan berkelanjutan.

"Dan mari kita dengan sungguh-sungguh meminta para pemimpin negara untuk melestarikan rumah kita bersama," seru Paus.

Sementara Imam Besar Al-Azhar mengatakan, inisiatif luar biasa dari beragam tokoh agama untuk menandatangani Pernyataan Antaragama Abu Dhabi COP28 dan mendirikan Faith Pavilion merupakan peluang berharga dalam membuat suara para pemimpin agama didengar dalam menghadapi tantangan global.

Baca juga: Indonesia Kawal 4 Agenda Krusial dalam COP28

"Terutama memajukan perlindungan rumah kita bersama dari kehancuran yang tidak dapat diubah, yang semakin besar setiap tahunnya," ujar Imam.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden COP28 Sultan Al Jaber menyatakan, perubahan iklim tidak terlalu peduli dengan politik, perbatasan, atau perbedaan agama.

Keberhasilan kita bergantung pada kemampuan untuk bersatu sebagai satu komunitas global untuk menyelesaikan masalah ini, dan komunitas agama global memainkan peran penting dalam menanamkan kesadaran akan tanggung jawab sosial bersama semua orang di seluruh dunia terhadap perlindungan lingkungan.

"Komunitas agama telah bersatu dalam momen bersejarah penuh harapan, perdamaian, dan optimisme, bersatu dalam komitmen bersama untuk melindungi planet kita," ucapnya.

Baca juga: Presiden COP28 Bantah Investigasi BBC soal Kesepakatan Energi Fosil Jelang KTT

Faith Pavilion dibangun berdasarkan keberhasilan pertemuan sebelumnya yang dihadiri lebih dari 200 pemimpin agama, ilmuwan, pemuda, akademisi dan pakar lingkungan hidup di Abu Dhabi pada Global Faith Leaders' Summit pada tanggal 6 dan 7 November.

Selama KTT tersebut, 28 pemimpin agama menandatangani 'Pertemuan Hati Nurani: Bersatu untuk Kebangkitan Planet' yang juga dikenal sebagai 'Pernyataan Antaragama Abu Dhabi untuk COP28', yang menyatakan “keprihatinan bersama” atas meningkatnya dampak iklim, serta komitmen bersama untuk mengatasi krisis tersebut.

Pernyataan tersebut dipajang di Faith Pavilion, yang terletak di Zona Biru pada COP28.

Menyadari bahwa lebih dari 84 persen populasi dunia menganut suatu agama, Faith Pavilion berupaya menyatukan perwakilan agama, komunitas, dan lembaga untuk mendukung aksi iklim dan tujuan yang digariskan dalam Perjanjian Paris.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau