Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Perusahaan Besar di Dunia Mundur dari Komitmen Keberlanjutan

Kompas.com, 29 Agustus 2024, 10:50 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam 1,5 tahun terakhir, banyak perusahaan besar di dunia mulai mundur dari komitmen keberlanjutan mereka, yang terkait dengan lingkungan dan masyarakat.

Pada Juni 2024, misalnya, Tractor Supply Co., perusahaan ritel bidang pertanian, peternakan, dan perawatan hewan peliharaan, mengumumkan penghapusan semua pekerjaan yang berfokus pada keragaman, kesetaraan, dan inklusi, serta menarik kembali target emisi karbonnya.

Padahal sebelumnya, perusahaan ini menargetkan emisi nol bersih pada tahun 2040, serta meningkatkan jumlah manajer dari kelompok minoritas hingga 50 persen.

Baca juga: Tak Kunjung Diterapkan, Pajak Karbon Masih Tunggu Regulasi Pemerintah

Pada minggu yang sama, enam perusahaan minyak terbesar di Kanada menghapuskan target dekarbonisasi dari situs web mereka. Lalu sebulan sebelumnya, Nike mengurangi jumlah manajer keberlanjutan (sustainability) sebagai bagian dari pengurangan biaya.

Tren ini menggambarkan penurunan komitmen perusahaan terhadap berbagai target keberlanjutan, seperti dilansir dari Harvard Business Review, Rabu (28/8/2024). 

Beberapa contoh lain, karena kenaikan harga minyak, BP dan Shell mengurangi komitmen mereka untuk menurunkan emisi karbon; produsen sepatu Crocs menunda target emisi nol bersih mereka dari tahun 2030 ke 2040; bahkan Microsoft gagal mencapai target pengurangan karbon akibat pertumbuhan AI.

Baca juga: Green Logistic Bisa Kurangi Emisi Karbon hingga 70 Persen

Sementara, menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), perusahaan seperti Coca Cola dan Nestle "menunda" tujuan pengurangan plastik setelah gagal mencapai target pengurangan plastik murni.

Penurunan komitmen terhadap keberlanjutan ini dianggap sebagai langkah yang kurang bijaksana. Namun, apa sebenarnya alasan di balik tren ini? 

Kenapa perusahaan mundur?

Meskipun setiap perusahaan memiliki alasan tersendiri, Profesor di Tufts University sekaligus penulis opini, Kenneth P. Pucker, menjelaskan beberapa faktor umum yang menyebabkan penurunan komitmen keberlanjutan perusahaan akhir-akhir ini. 

Di barat, kampanye politik anti-ESG atau environmental, social, governance yang dipimpin oleh kelompok konservatif telah meredam antusiasme terhadap prinsip Keragaman, Kesetaraan, Inklusi (Diversity, equity, and inclusion/DEI), keberlanjutan perusahaan, dan investasi ESG.

Baca juga: Berapa Banyak Emisi Karbon yang Dihasilkan Jet Pribadi?

Selain itu, kinerja ekuitas ESG yang lebih rendah dibandingkan dana tradisional telah menyebabkan perpindahan triliunan dolar dari dana ESG, yang membuat perusahaan kurang menekankan hasil ESG.

Kemudian, banyak perusahaan merasa kesulitan membenarkan investasi dalam keberlanjutan, karena manfaatnya sering kali tidak berwujud dan sulit diukur.

Misalnya, berapa nilai yang harus diberikan untuk menghindari kerusakan reputasi akibat investasi dalam audit rantai pasokan? Bagaimana Chief Financial Officer (CFO) seharusnya menghitung nilai penghindaran pajak karbon di masa depan? Atau bagaimana menghitung manfaat rekrutmen dan retensi dari perusahaan yang berkelanjutan?

Selain itu, banyak target yang sejak awal tidak realistis. Banyak perusahaan yang berkomitmen untuk tujuan besar tanpa melakukan pekerjaan utama mereka.

Baca juga: AS Gelontorkan Rp 19,6 Triliun untuk Kembangkan Penangkapan Karbon

"Ketika target awal ditetapkan, kami mungkin meremehkan skala dan kompleksitas yang diperlukan untuk mencapai target keberlanjutan," ujar CEO Unilever Hein Schumacher. 

Dengan demikian, menyadari potensi greenwashing, aturan hukum mulai menerapkan undang-undang yang memaksa perusahaan untuk menarik kembali tujuan atau target yang terlalu ambisius.

Misalnya, Kanada baru saja mengesahkan amandemen Undang-Undang yang menargetkan klaim dan tindakan terkait "greenwashing." Sanksi untuk pelanggaran bisa mencapai 10 juta Dollar untuk pelanggaran pertama.

Dengan tantangan-tantangan itu, wajar jika antusiasme terhadap keberlanjutan perusahaan berkurang dan perusahaan menarik kembali janji dekarbonisasi mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau