"Hujan deras dapat melepaskan lebih banyak air dalam waktu singkat daripada yang dapat segera dikeringkan oleh sistem tersebut sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor, kata E. Shaji, profesor geologi di Universitas Kerala.
“Dan dengan ancaman peristiwa hujan badai yang semakin meningkat intensitas dan frekuensinya, tindakan drastis untuk membatasi aktivitas pembangunan dipandang penting untuk mitigasi dan adaptasi,” paparnya.
Lebih lanjut, dengan curah hujan yang tidak menentu dan intensitas tinggi yang diprediksi akan meningkat frekuensinya maka tanah longsor kemungkinan akan lebih sering terjadi.
Perubahan iklim dan peningkatan suhu diperkirakan juga akan memicu lebih banyak tanah longsor di masa mendatang.
Antara tahun 1998 dan 2017, tanah longsor diperkirakan telah memengaruhi 4,8 juta orang dan menyebabkan lebih dari 18.000 kematian di seluruh dunia, menurut WHO.
“Seperti halnya gempa bumi, bangunanlah yang membunuh orang dan bukan tanah longsor,” tambah Shaji.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya