KOMPAS.com - Perusahaan teknologi Jerman, SAP , menyatakan bahwa permintaan perangkat lunak untuk tujuan pengelolaan dan dokumentasi praktik keberlanjutannya terus meningkat.
Peningkatan itu terjadi meskipun politik iklim sedang tidak berpihak pada keberlanjutan, seperti keluarnya Amerika Serikat dari Kesepakatan Paris yang kan efektif berlaku mulai 27 Januari 2026 mendatang.
Chief Financial Officer (CFO) SAP, Dominik Asam, seperti diwartakan Reuters pada Sabtu (2/2/2025) mengatakan, "Topik keberlanjutan tak akan hilang dari diskusi para investor."
Ia memprediksi bahwa apapun yang terjadi akibat dinamika politik iklim, perusahaan tetap membutuhkan angka yang dapat dipercaya serta perangkat analisis untuk membuat keputusan terkait keberlanjutan.
"Saya berbicara dengan banyak investor di Forum Ekonomi Dunia di Davos yang peduli dengan keberlanjutan. Mereka tetap optimistis di tengah hasil pemilu terbaru di AS," tambahnya.
Baca juga: PWC: Pendanaan untuk Perusahaan Rintisan Teknologi Iklim Berkurang
Asam melihat potensi perangkat lunak Green Ledger milik SAP yang masih dalam tahap awal pengembangan. Ia menyatakan bahwa perangkat lunak itu membantu perusahaan dalam membuat laporan keberlanjutan mereka seandal laporan neraca keuangan.
Eropa akan mulai memberlakukan kewajiban pelaporan keberlanjutan mulai tahun 2028 dalam kerangka European Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD).
Selain perusahaan kimia Covestro 1COVG.DE, saat ini perangkat lunak tersebut terutama digunakan oleh SAP sendiri, tetapi CFO SAP memperkirakan akan ada kontrak yang segera ditandatangani. "Akan banyak perkembangan di paruh kedua tahun ini," katanya.
Baca juga: Transisi Energi, Kerjasama Teknologi dengan China dan UAE Perlu
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya