Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Buktikan, Urine Manusia Betul-betul Bisa Jadi Pupuk

Kompas.com, 30 Maret 2025, 16:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi yang dilakukan peneliti dari Institute of Environmental Science and Technology at the Universitat Autònoma de Barcelona (ICTA-UAB), Spanyol, mengungkap, urine manusia bisa dipakai sebagai alternatif pupuk ramah lingkungan.

Pengaplikasian urine ini pun dapat memberikan manfaat lingkungan yang signifikan seperti mengurangi emisi CO2 dan konsumsi air.

Hasil studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Resources, Conservation and Recycling.

Mengutip Phys, Sabtu (29/3/2025), permintaan global untuk pupuk pertanian terus meningkat setiap hari. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) permintaan global untuk nitrogen sebagai pupuk tumbuh setiap tahun sebesar 1 persen, yang berarti peningkatan sebesar 1,074 juta ton setiap tahun.

Baca juga: Sekolah Lapang Pertanian Dorong Petani sebagai Garda Depan Konservasi Air

Produksi pupuk ini sangat bergantung pada sumber energi yang tidak terbarukan seperti gas alam, minyak, dan batu bara, yang mewakili konsumsi energi dan emisi CO2 yang signifikan.

Studi baru ini pun mencoba memberikan solusi dengan menunjukkan bagaimana urine manusia dapat digunakan sebagai sumber nutrisi dalam pertanian perkotaan.

Urine manusia atau yang sering disebut "air kuning" sendiri merupakan sumber nutrisi yang melimpah, terutama nitrogen yang sangat dibutuhkan dalam pertanian.

Pemanfaatan urine memungkinkan penggunaan sumber daya yang ada di sekitar dan mengurangi kebutuhan akan bahan-bahan dari luar, sehingga mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan.

Selain itu, penggunaan urine juga mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang terbatas dan mendorong siklus yang lebih ramah lingkungan.

Untuk mengukur seberapa praktis penggunaan urine, para peneliti melakukan uji coba di gedung bioklimatik milik ICTA-UAB. Gedung ini dilengkapi dengan fasilitas percobaan pemulihan nitrogen dan rumah kaca di atapnya, di mana efek nitrogen yang diperoleh dari urine terhadap tanaman tomat diuji.

Proses awal dimulai di fasilitas yang terletak di bawah tanah, di mana urine dari urinoir pria tanpa air dikumpulkan dan dialirkan ke sebuah reaktor khusus.

Di dalam reaktor, urine dicampur dengan zat basa untuk mengontrol tingkat keasamannya. Pada saat yang sama, mikroorganisme bekerja mengubah urea yang terkandung dalam urine menjadi nitrat, yaitu bentuk nitrogen yang lebih mudah diserap oleh tanaman.

Baca juga: Upaya Pemulihan DAS Cisadane Lewat Pertanian Regeneratif dan Agroforestri

Nitrat yang dihasilkan dalam reaktor kemudian digunakan untuk mengairi tanaman tomat hidroponik di rumah kaca yang terletak di atap gedung. Menurut penelitian, satu meter kubik air kuning yang diolah menghasilkan 7,5 kg nitrogen, yang memungkinkan penanaman 2,4 metrik ton tomat di luar ruangan.

Walaupun penelitian ini masih dalam tahap laboratorium, hasilnya mengindikasikan bahwa dampak lingkungan dan biaya dapat ditekan jika proses pemulihan urine diterapkan dalam skala yang lebih luas yaitu dengan menghubungkan seluruh urinoir di gedung ke reaktor pemulihan nitrogen.

Penelitian eksperimental hingga kini masih terus berlangsung, termasuk analisis terhadap potensi keberadaan senyawa obat-obatan yang dikonsumsi manusia dalam jaringan tanaman.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau