Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Bikin Kadar Oksigen di Danau-danau Dunia Menurun

Kompas.com, 4 April 2025, 10:45 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Studi yang diterbitkan Maret 2025 lalu menemukan bahwa kadar oksigen di danau di seluruh dunia menurun akibat pemanasan global dan gelombang panas.

Para peneliti menemukan tren penurunan ini setelah menganalisis data kadar oksigen terlarut — yaitu jumlah oksigen dalam air — pada lebih dari 15.000 danau di seluruh dunia selama 20 tahun terakhir.

Hasil penelitian yang diterbitkan di Science Advances ini menunjukkan, 83 persen danau di dunia mengalami penurunan kadar oksigen di permukaan airnya. 

Tingkat kehilangan oksigen di danau bahkan lebih cepat dibandingkan lautan dan sungai, menandakan bahwa masalah ini cukup serius.

Para peneliti mengungkapkan bahwa penyebab utama penurunan oksigen adalah pemanasan global, menyumbang 55 persen dari total penurunan dengan mengurangi kelarutan oksigen dalam air. 

Selain itu, meningkatnya kandungan nutrisi di danau—disebut sebagai eutrofikasi—bertanggung jawab atas sekitar 10 persen dari total kehilangan oksigen.

Studi ini juga menganalisis dampak gelombang panas, yang menunjukkan bahwa suhu ekstrem menyebabkan penurunan oksigen lebih cepat dan signifikan, dengan penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan kondisi suhu rata-rata.

Peneliti menekankan bahwa perubahan ini berdampak besar pada ekosistem air tawar yang membutuhkan kadar oksigen cukup untuk menopang biota dan menjaga keseimbangan ekologi.

"Kehilangan oksigen dapat menyebabkan kepunahan spesies, kematian organisme air, serta runtuhnya industri perikanan komersial," kata Zhang Yunlin, peneliti Institut Geografi dan Limnologi Nanjing, Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Sebelumnya, penelitian lain pada tahun 2021 yang diterbitkan dalam jurnal Nature juga melaporkan bahwa penurunan kadar oksigen terjadi di permukaan dan dasar danau di daerah beriklim sedang. 

Namun, studi terbaru ini memberikan gambaran yang lebih luas karena mencakup danau di seluruh dunia yang memiliki luas lebih dari 10 kilometer persegi, termasuk danau di daerah tropis dan beriklim dingin yang belum diteliti dalam studi sebelumnya.

Studi ini juga menyoroti perlunya tindakan segera untuk mengatasi ancaman kehilangan oksigen. 

Co-author Shi Kun, peneliti dari institut yang berbasis di Nanjing, mengatakan bahwa upaya harus difokuskan pada pengurangan konsentrasi nutrisi di danau. Beberapa langkah yang disarankan termasuk membatasi penggunaan pupuk, mengurangi limbah ternak, serta meningkatkan pengelolaan limbah domestik dan industri di perkotaan.

"Menanam vegetasi bawah air dan membangun lahan basah juga dapat membantu memulihkan ekosistem danau," kata Shi kepada Xinhua.

Namun, studi ini tidak memberikan rekomendasi khusus mengenai penyebab utama perubahan iklim dan gelombang panas.

Penelitian ini melibatkan para ilmuwan dari Universitas Nanjing, China, dan Universitas Bangor, Inggris.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
BrandzView
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau