Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroplastik Hambat Laut Serap Karbon, Ancaman untuk Iklim

Kompas.com, 5 Mei 2025, 15:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mikroplastik yang tersebar di lautan tidak hanya membahayakan ekosistem perairan saja.

Survei global terhadap partikel kecil tersebut mengungkapkan mikroplastik juga bisa memengaruhi kemampuan laut untuk menyimpan dan menghilangkan karbon.

Dalam survei ini, para peneliti meninjau pengukuran mikroplastik yang dilakukan selama dekade terakhir dari hampir 2000 lokasi di seluruh dunia.

Sementara sebagian besar pengukuran mikroplastik difokuskan pada permukaan laut yang dangkal, kumpulan data tersebut mencakup sampel dari berbagai kedalaman, termasuk bagian terdalam laut.

Mereka menemukan betapa luasnya penyebaran mikroplastik di lingkungan, bahkan mencapai tempat terdalam di lautan seperti Palung Mariana, di mana lebih dari 13.000 partikel mikroplastik per meter kubik terukur hampir 7 kilometer di bawah permukaan laut.

Baca juga: KLH Dukung Bali Larang Produksi AMDK di Bawah 1 Liter, Ingatkan Bahaya Mikroplastik

"Ada jutaan metrik ton mikroplastik di seluruh bagian dalam laut," kata Tracy Mincer dari Florida Atlantic University, dikutip dari New Scientists, Senin (5/5/2025).

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa partikel-partikel plastik, yang terdiri dari polimer, merupakan bagian penting dari materi karbon yang ada di dalam air laut.

Bahkan di kedalaman 2000 meter, di mana kehidupan lebih jarang, plastik menyumbang hingga 5 persen dari total partikel karbon yang ditemukan.

Ini mengindikasikan bahwa plastik telah menjadi komponen yang cukup dominan dalam siklus karbon laut, terutama di kedalaman yang lebih dalam.

Lebih lanjut, dampak ekologis dari meluasnya penyebaran mikroplastik di laut belum banyak dipahami.

Akan tetapi salah satu kekhawatiran utama adalah bahwa jika plankton memakan plastik yang mengapung, hal ini dapat mengganggu proses alami penyerapan karbon dioksida (CO2) oleh laut.

Baca juga: Mikroplastik Picu Biomineralisasi, Ganggu Keseimbangan Biota Laut

Plankton biasanya membantu membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran dan bangkai mereka. Jika mereka makan plastik, jumlah karbon yang tenggelam bisa berkurang, yang pada akhirnya dapat menghambat kemampuan laut dalam mengurangi CO2 di atmosfer.

Meskipun demikian, Aron Stubbins dari Universitas Northeastern di Massachusetts menekankan bahwa kesimpulan tersebut masih dalam tahap awal untuk memahami seberapa besar efek negatif mungkin terjadi.

Keberadaan mikroplastik yang meluas di seluruh kolom air laut adalah masalah penting yang tidak dapat lagi diabaikan oleh para ilmuwan yang mempelajari fungsi lautan.

Survei ini membantu menjelaskan pula mengapa jumlah plastik yang diperkirakan masuk ke laut jauh lebih besar daripada jumlah plastik yang terlihat di permukaan atau di dasar laut, yakni banyak plastik tersebut ternyata telah terpecah menjadi mikroplastik dan tersebar di seluruh kedalaman air.

Studi dipublikasikan di jurnal Nature.

Baca juga: KLH Dukung Bali Larang Produksi AMDK di Bawah 1 Liter, Ingatkan Bahaya Mikroplastik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Pemerintah
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
Swasta
Pertamina NRE dan Medco Jajaki Pengembangan Biodiesel HACPO dan Bioetanol
Pertamina NRE dan Medco Jajaki Pengembangan Biodiesel HACPO dan Bioetanol
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau