Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Kemiskinan Global Bisa Diakhiri tanpa Mengorbankan Iklim

Kompas.com, 16 Mei 2025, 12:52 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Saat dunia berusaha menghentikan pemanasan global dengan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil sesuai dengan target iklim, penelitian baru menemukan bahwa memberikan standar hidup layak untuk semua orang tetap bisa dilakukan, asalkan pengurangan emisi dilakukan dengan cepat dan serius.

Penelitian ini dilakukan oleh Jarmo Kikstra dari Program Energi, Iklim, dan Lingkungan di International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA), Austria. Penelitian ini melihat skenario energi yang sesuai dengan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Dengan adanya perubahan iklim dan miliaran orang masih kekurangan kebutuhan dasar, mengatasi kedua masalah ini secara bersamaan bukan hanya mungkin, tapi juga sangat penting,” ujar IIASA sebagaimana dikutip dari ecowatch pada Kamis (14/5/2025).

Baca juga: WRI Gandeng Petani Gayo Produksi Kopi Berkelanjutan di Tengah Krisis Iklim

Para peneliti mempelajari apakah skenario dalam SDGs dan Perjanjian Paris dapat menyediakan cukup energi bagi semua orang untuk memiliki akses ke layanan penting seperti pemanas dan pendingin rumah, memasak yang aman, layanan kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

“Tujuan kami adalah memahami apa yang dibutuhkan untuk menghapus kemiskinan ekstrem sambil tetap menjalankan aksi iklim,” kata Kikstra.

“Kami tidak hanya ingin orang keluar dari kemiskinan ekstrem, tapi juga membayangkan masa depan yang lebih baik, dengan standar hidup layak sebagai standar minimum untuk semua orang di dunia,” lanjut dia.

Dengan menggunakan model baru bernama DESIRE, tim peneliti membandingkan skenario energi yang memprioritaskan pembangunan berkelanjutan dengan skenario yang hanya melanjutkan tren saat ini.

Salah satu hasil penting dari studi ini adalah bahwa skenario pembangunan berkelanjutan bisa mengurangi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimum.

Dalam skenario ini, jumlah orang yang tidak punya cukup energi untuk kebutuhan dasar rumah tangga diperkirakan turun lebih dari 90 persen— jauh lebih cepat dibanding tren saat ini.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa emisi yang dibutuhkan untuk mendukung standar hidup layak sebenarnya jauh lebih kecil daripada total emisi saat ini.

Efisiensi, Pertumbuhan, dan Pemerataan

Shonali Pachauri, salah satu penulis studi dan kepala Kelompok Riset Solusi Sosial dan Kelembagaan Transformatif, mengatakan bahwa efisiensi, pertumbuhan, dan pemerataan semua penting untuk memastikan semua orang bisa mendapatkan cukup sumber daya.

“Bukan hanya soal menyediakan lebih banyak layanan di tempat yang membutuhkannya, tapi juga soal cara menyediakannya dengan lebih baik dan memastikan sumber daya tidak terbuang, melainkan digunakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan,” tambah Kikstra.

Baca juga: Regulator Perbankan Global Kompak Atasi Risiko Iklim

Studi berjudul “Menutup Kesenjangan Kehidupan Layak dalam Skenario Energi dan Emisi: Memperkenalkan DESIRE” diterbitkan di jurnal Environmental Research Letters.

“Ini adalah studi pertama yang menggabungkan kajian rinci soal kebutuhan energi dengan pemodelan global pengurangan emisi. Jika dilakukan dengan benar, kebutuhan energi di masa depan bisa turun sepertiga, dan emisi bisa ditekan hingga nol,” kata Bas van Ruijven, salah satu penulis studi dan kepala Kelompok Riset Sistem Layanan Berkelanjutan di IIASA.

Para penulis menekankan pentingnya menggabungkan aksi iklim dengan pembangunan. Tapi mereka juga memperingatkan bahwa tanpa kebijakan iklim yang kuat, bahkan kebutuhan dasar pun tidak akan terpenuhi tanpa melanggar batas-batas Perjanjian Paris.

Salah satu poin utama dari studi ini adalah bahwa hanya sekitar sepertiga dari konsumsi energi global yang benar-benar dibutuhkan untuk kehidupan layak. Dua pertiganya digunakan untuk hal-hal di luar kebutuhan dasar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau