Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerataan Gizi, Dompet Dhuafa Kirim 35 Ribu Domba dan Kambing ke Daerah Minim Pekurban

Kompas.com, 22 Mei 2025, 12:05 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Ketimpangan distribusi hewan kurban masih jadi masalah klasik tiap Idul Adha. Di kota besar seperti Jakarta, daging kurban berlimpah. Tapi di wilayah 3T —terpencil, terluar, terdalam— sebagian warga bahkan tak mencicipinya.

Menjawab kesenjangan ini, Dompet Dhuafa menggulirkan program Tebar Hewan Kurban (THK) ke daerah-daerah minim pekurban, termasuk Provinsi Lampung.

Hal ini disampaikan Wawan Setiawan, Supervisor Program Pemberdayaan Masyarakat Kota Lampung, dalam acara Jurnalis Press Touring bertajuk Kurban Se-Ngaruh Itu pada Rabu (21/5/2025).

“Kalau di Jakarta, daging cukup banyak, antusiasme berkurban juga tinggi. Sementara di daerah-daerah seperti Lampung Utara, Lampung Timur, Lampung Barat, dan Tanggamus bahkan mengalami defisit kurban,” ujar Wawan saat ditemui di lokasi kemitraan DD Farm, Gading Rejo, Pringsewu.

Wawan menambahkan, dua tahun terakhir, beberapa wilayah di Lampung Selatan tidak menerima hewan kurban sama sekali.

“Jadi masyarakat di sana tidak bisa merasakan daging yang seharusnya bisa mereka nikmati, setidaknya setahun sekali,” lanjutnya.

THK menjembatani semangat berkurban masyarakat urban dengan kebutuhan gizi warga pelosok. Hewan kurban dari kota-kota besar disalurkan ke desa-desa yang minim pekurban.

“H-1 Idul Adha, domba-domba akan dibawa ke daerah terpencil dan disembelih oleh masyarakat setempat pada hari raya,” terang Wawan.

Baca juga: Studi: Pria Hasilkan Emisi Lebih Tinggi, Mobil dan Daging Sebabnya

Masyarakat dilibatkan langsung dalam proses penyembelihan hingga distribusi daging.

Tahun ini, Dompet Dhuafa menargetkan penyaluran sekitar 35 ribu domba dan kambing secara nasional. Di Lampung, targetnya 320 domba ke empat daerah prioritas: Lampung Utara, Lampung Timur, Lampung Barat, dan Tanggamus.

Kepala Cabang Dompet Dhuafa Kota Lampung, Nandrianto, menyebut program ini juga memberdayakan peternak lokal. Domba diperoleh dari mitra binaan.

“Program ini jadi upaya pemerataan manfaat kurban sekaligus memberdayakan peternak kecil,” ujarnya.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya stok domba sesuai standar kualitas. DD Farm menetapkan empat kelas: premium (29–32 kg), medium (26–28 kg), standar (23–25 kg), dan ekonomis (18–22 kg).

“Kadang targetnya 20 domba premium, tapi yang lolos quality control hanya 15. Tapi karena tadi, kami bermitra juga dengan peternak lain, termasuk peternak rumahan dan UMKM, jadi bisa saling melengkapi,” jelas Wawan.

Distribusi ke daerah 3T juga terkendala infrastruktur.

“Ambil contoh saja kalau kita mau ke Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, di sana medannya masih tanah. Saat cuaca bagus pun susah dilalui, apalagi saat musim hujan makin licin,” tuturnya.

Meski begitu, semangat menebar manfaat kurban tetap menyala. Satu domba premium bisa dibagi jadi 18 bungkus daging.

“Target kita membawa sekitar 30 hewan kurban ke setiap daerah, harapannya bisa cukup untuk menjangkau banyak warga,” tambah Wawan.

Program THK telah berjalan sejak 1994, setahun setelah Dompet Dhuafa berdiri. Hingga kini, spiritnya tetap: menghadirkan keadilan sosial agar momen kurban juga dinikmati mereka yang jauh dari pusat perhatian.

Baca juga: Sebar Kurban di Pelosok Maluku, Human Initiative Hadirkan Harapan untuk Warga

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau