Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rob, Iklim, dan Pantura: Mengapa Warga Tetap Tinggal Meski Terendam?

Kompas.com, 4 Juni 2025, 13:01 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski rumah tergenang air laut hingga tiga meter setiap hari, banyak warga pesisir di Demak, Jakarta, dan Pekalongan memilih untuk tetap tinggal.

Fenomena ini dikenal sebagai immobility, atau ketidaksediaan masyarakat berpindah tempat walau terdampak bencana iklim. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Inayah Hidayati, menyebut keputusan ini tidak bisa dipahami hanya dari logika ancaman lingkungan, tapi juga dari sisi ekonomi, sosial, dan budaya.

Dalam acara diseminasi hasil penelitian bertajuk “Forced Labor and Climate Change: Focus on Women and Children”, Selasa (3/6/2025), Inayah menegaskan bahwa langkah paling aman dalam menghadapi kenaikan permukaan air laut adalah bermigrasi ke wilayah yang lebih tinggi dan tidak tergenang.

“Karena pasti akan sangat tidak nyaman tinggal di rumah yang tergenang air setinggi 1–3 meter setiap hari,” ujarnya.

Namun, hasil penelitiannya menunjukkan banyak warga justru memilih bertahan. Pilihan ini paling banyak ditemui di kawasan pesisir utara Jawa, termasuk Jakarta, Demak, dan Pekalongan.

Alasan utamanya, menurut Inayah, adalah faktor ekonomi. Banyak warga mengaku tidak memiliki cukup biaya dan sumber daya untuk pindah ke tempat baru.

Di Jakarta, misalnya, warga tetap tinggal karena menilai masih mudah mendapatkan pekerjaan, meskipun lingkungan tempat tinggal mereka terendam.

Di Semarang, lokasi yang dekat dengan sumber pencarian seperti ikan dan kerang menjadi alasan utama bertahan. Hal serupa terjadi di Demak dan Pekalongan, di mana para nelayan khawatir kehilangan akses ke laut jika harus berpindah.

“Selain soal pekerjaan, keterikatan sosial juga jadi faktor penting,” ujar Inayah.

Banyak warga mengaku sudah nyaman dengan lingkungan mereka saat ini, termasuk kedekatan dengan tetangga. Hubungan sosial yang kuat ini membuat mereka lebih siap beradaptasi terhadap banjir rob yang terjadi.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Separuh Dunia Rasakan Panas Ekstrem Sebulan

Aspek budaya pun tak bisa diabaikan. Di beberapa kasus, warga memilih bertahan karena keterikatan terhadap leluhur mereka.

“Di Demak dan Pekalongan, ada orang-orang yang tidak ingin meninggalkan tempat tinggalnya karena nilai-nilai budaya dan warisan leluhur,” kata Inayah. Meski harus menggunakan perahu untuk beraktivitas karena jalan-jalan terendam, mereka tetap memilih tinggal.

Program bantuan dari pemerintah juga turut memengaruhi keputusan tersebut. Di Jakarta, misalnya, banyak program politik menyasar komunitas pesisir sehingga masyarakat merasa terbantu untuk bertahan di tempat mereka sekarang.

“Masih banyak faktor emosional atau pribadi yang membuat seseorang memilih tinggal atau pindah,” kata Inayah.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung masyarakat yang memilih untuk tetap tinggal agar dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Sejauh ini, pemerintah telah membangun sejumlah infrastruktur untuk merespons banjir rob, seperti tanggul besar di Jakarta, tanggul semi permanen di Bedono, Semarang, hingga sistem drainase di berbagai lokasi. Namun, menurut Inayah, pendekatan ini masih bersifat jangka pendek.

Ke depan, ia berharap pemerintah melakukan evaluasi yang menyeluruh untuk mengambil tindakan yang dapat membantu masyarakat yang terdampak perubahan iklim secara berkelanjutan.

“Rencana adaptasi ke depan harus bisa mengintegrasikan pengetahuan lokal atau nilai-nilai lokal agar lebih bermanfaat bagi masyarakat yang memilih untuk tidak berpindah,” ujarnya.

Baca juga: Hutan Mangrove Lebih Kuat dari Dugaan, Tahan Badai akibat Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau