Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisingnya Penambangan Laut Dalam Ancam Ekosistem Pasifik

Kompas.com, 16 Juni 2025, 21:58 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Peneliti memperingatkan bahwa kebisingan alias polusi suara yang dihasilkan oleh aktivitas penambangan di dasar laut dalam dapat menimbulkan bahaya yang tidak terlihat bagi makhluk hidup di laut.

Mereka mendesak agar industri penambangan laut dalam bersikap lebih transparan sehingga langkah-langkah dapat diambil untuk mengurangi dampak negatif dari polusi kebisingan tersebut.

Penelitian telah membuktikan bahwa kebisingan yang dihasilkan di laut dalam dapat memicu serangkaian dampak ekologis yang luas dan serius.

Kebisingan tersebut mampu mengubah keanekaragaman jenis makhluk hidup di laut, serta memengaruhi perilaku misalnya, cara berburu atau berkomunikasi dan bahkan fungsi tubuh banyak spesies laut.

Imbasnya adalah rantai makanan dan seluruh ekosistem laut berpotensi terganggu. Sementara ekosistem ini merupakan sumber utama kehidupan dan mata pencaharian bagi banyak masyarakat pesisir, salah satunya di Amerika Latin.

Baca juga: Lalu Lintas Laut Meningkat Seiring Hilangnya Es, Ancam Iklim Global

Mengutip Phys, Senin (16/6/2025) temuan tersebut disimpulkan setelah peneliti melakukan analisis yang melibatkan lebih dari 2.800 penelitian sebelumnya, yang semuanya berfokus pada Zona Clarion-Clipperton (CCZ) .

Itu merupakan sebuah dataran bawah laut raksasa di Samudra Pasifik antara Hawaii dan Meksiko yang merupakan area eksplorasi mineral terbesar di dunia yang dipenuhi dengan endapan kobalt, nikel, mangan, dan tanah yang kaya mineral.

Hasil analisis tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar jenis hewan yang hidup di CCZ ternyata peka terhadap suara.

Menurut penelitian, hingga sepertiga spesies ikan di CCZ mungkin bersifat soniferus, yang berarti mereka menghasilkan atau membawa suara.

Polusi suara pun dapat menyebabkan perubahan fisiologi dan perilaku spesies tersebut.

"Mereka menggunakannya untuk segala hal, mulai dari komunikasi, mencari pasangan, menghindari predator, mencari makanan," jelas rekan penulis studi Lucille Chapuis, seorang pakar bioakustik laut di Universitas La Trobe di Melbourne, Australia.

Baca juga: Gagasan Tambang Laut Dalam Muncul, PBB Ingatkan Perlunya Aturan

Sebagian besar kehidupan laut, termasuk invertebrata, ikan, dan mamalia, bergantung pada suara untuk berkomunikasi, menavigasi, dan menghindari predator.

"Jika kita menambahkan kebisingan ke dalam sistem, maka fungsi-fungsi ini hanya akan tersamarkan atau terganggu," kata Chapuis lagi.

Lebih lanjut, kurangnya transparansi dari perusahaan pertambangan juga berarti bahwa data tentang kebisingan tidak tersedia.

"Secara harfiah tidak ada data yang dipublikasikan di luar sana tentang tingkat kebisingan pada aktivitas pertambangan yang sebenarnya," tambah Washburn.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya juga turut memperingatkan bahwa penambangan laut dalam yang tidak diatur dapat mengubah lautan menjadi "Wild West" yang tidak memiliki hukum.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
LSM/Figur
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
LSM/Figur
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau