Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transisi Energi di Kepulauan, Infrastruktur dan Insentif Kunci Suksesnya

Kompas.com, 4 Juli 2025, 19:29 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut bahwa sejumlah pulau di Indonesia, seperti Sulawesi, Timor, dan Sumbawa, memiliki potensi untuk 100 persen menggunakan energi terbarukan.

Potensi ini menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan transisi energi nasional yang berkelanjutan, terutama dalam mendorong kemandirian energi wilayah kepulauan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun, langkah menuju sistem kelistrikan yang sepenuhnya berbasis energi terbarukan tidak lepas dari berbagai tantangan teknis.

Hal ini disampaikan oleh Isaac Portugal dari Renewable Integration Security Unit, International Energy Agency (IEA), yang menyoroti pentingnya menjaga ketahanan dan fleksibilitas jaringan untuk mengakomodasi sumber energi terbarukan yang bersifat variabel, seperti tenaga surya dan angin.

“Yang harus diperhatikan adalah teknologi penyeimbang, baik itu baterai, PHES (pump hydro energy storage), ataupun sistem operasi fleksibel, yang semuanya bersifat padat modal (capital intensive),” ujar Isaac sebagai dikutip dari keterangan tertulis IESR, Jumat (4/7/2025).

Baca juga: IESR Dorong ASEAN JETP, Potensi Dana Transisi Energi Capai Rp 2.000 Triliun

Menurutnya, perencanaan dan perancangan sistem insentif yang tepat dibutuhkan agar teknologi penyeimbang ini dapat diimplementasikan secara efektif, terutama dalam mendukung integrasi energi terbarukan di wilayah-wilayah terpencil.

Sejalan dengan hal tersebut, Analis Sistem Ketenagalistrikan IESR Abraham Octama Halim menjelaskan bahwa target transisi energi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 cukup ambisius. RUPTL menargetkan penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42,6 gigawatt (GW), serta 10,3 unit sistem penyimpanan energi (energy storage system).

Dengan target tersebut, Abraham menekankan pentingnya memastikan kesiapan kapasitas jaringan kelistrikan saat ini untuk mendukung integrasi energi terbarukan yang bersifat variabel. Ia menyebut bahwa pembangkitan energi nasional ke depan akan bergeser dari dominasi energi fosil menuju energi terbarukan.

Berdasarkan pemodelan IESR terhadap Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), bauran energi terbarukan variabel diperkirakan meningkat dari 2,4 persen pada 2024 menjadi sekitar 29 persen pada 2060.

“Kenaikan bauran energi terbarukan variabel ini membutuhkan penyeimbang sistem, baik berupa sistem penyimpanan energi seperti baterai, ataupun pembangkit energi yang dioperasikan secara fleksibel,” ujarnya.

Menurut Abraham, teknologi penyeimbang yang dibutuhkan akan berbeda tergantung pada skala waktu operasinya. Oleh karena itu, integrasi teknologi ini ke dalam perencanaan sistem energi menjadi hal krusial agar transisi energi tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah mulai mengambil langkah konkret dari sisi regulasi.

Baca juga: Sulawesi, Timor, dan Sumbawa Bisa Hidup 100 Persen dari Energi Terbarukan

Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Farah Heliantina, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyederhanakan proses perizinan untuk mendukung percepatan investasi energi terbarukan oleh pihak swasta.

Ia mengatakan bahwa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 yang baru disahkan, menggantikan PP No. 5 Tahun 2021, memberikan landasan hukum yang lebih kuat dan prosedur yang lebih ringkas bagi investor.

“Dengan begitu, kontribusi (investasi) pada APBD dan APBN akan meningkat,” ujar Farah.

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur energi terbarukan di berbagai wilayah, termasuk pulau-pulau yang selama ini mengalami keterbatasan akses energi, sekaligus memperkuat komitmen Indonesia menuju sistem energi yang adil, bersih, dan berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau