KOMPAS.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melihat sektor pertanian dan pangan sebagai solusi untuk mengatasi tingkat pengangguran pemuda global yang berada di tingkat mengkhawatirkan.
Laporan FAO berjudul The Status of Youth in Agrifood Systems yang dirilis pada tanggal 3 Juli 2025 mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: lebih dari 20 persen dari 1,3 miliar pemuda di dunia saat ini tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak sedang dalam pelatihan (NEET).
Jika pengangguran ini berhasil ditangani, terutama di kalangan pemuda usia 20-24 tahun, hal itu berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 1,4 persen.
Menariknya, FAO mengungkapkan sekitar 45 persen dari peningkatan PDB tersebut diperkirakan berasal dari peningkatan partisipasi pemuda dalam sistem agrifood.
Baca juga: Pertanian Hijau Terbukti Tingkatkan Biodiversitas dan Panen, Tapi Butuh Subsidi
Mengutip Down to Earth, Senin (7/7/2025), laporan mencatat pula secara global, 44 persen pemuda yang bekerja di seluruh dunia mengandalkan sistem agrifood untuk mencari nafkah.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa yang bekerja di sektor yang sama (38 persen).
Namun, meski hampir separuh pemuda bekerja di sektor agrifood, pemuda yang bekerja di bidang tersebut telah menurun 54 persen dari tahun 2005.
Ini menunjukkan adanya tren penurunan minat atau kesempatan kerja bagi pemuda di sektor ini dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan pun memberikan peringatan akan potensi kekurangan tenaga kerja dalam sistem agrifood di masa depan karena penurunan jumlah pemuda di pedesaan.
Saat ini, 54 persen pemuda tinggal di perkotaan, terutama di Asia Timur. Sebaliknya, pemuda pedesaan hanya menyumbang 5 persen dari total populasi dalam sistem agrifood industri.
Para penulis laporan ini pun menekankan urgensi pemerintah untuk membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik bagi pemuda.
Lebih lanjut, hampir 85 persen pemuda di seluruh dunia tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Di negara-negara ini, sistem agrifood sangat penting untuk mata pencarian mereka.
Artinya, banyak pemuda di negara-negara miskin sangat bergantung pada sektor pertanian dan pangan untuk hidup.
Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim
Namun, meskipun demikian, kerawanan pangan di kalangan pemuda juga sangat tinggi dan mengkhawatirkan.
Angka tersebut meningkat dari 16,7 persen pada periode 2014-2016 menjadi 24,4 persen pada periode 2021-2023. Peningkatan kerawanan pangan ini terutama berdampak pada pemuda di Afrika.
Belum lagi tantangan perubahan iklim akan sangat merugikan sektor pertanian yang pada akhirnya akan mengancam mata pencaharian jutaan pemuda.
"Laporan ini adalah panduan penting yang menunjukkan bagaimana sektor pertanian dan pangan bisa menjadi kunci untuk menciptakan pekerjaan yang baik dan memastikan ketersediaan pangan bagi pemuda, sekaligus menjadikan pemuda sebagai agen perubahan utama dalam transformasi sistem pangan global," tulis QU Dongyu, Direktur Jenderal FAO, dalam kata pengantar di laporan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya