Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ramai PHK dan Susah Dapat Kerja? FAO Ajak Lirik Sektor Pertanian

Kompas.com, 7 Juli 2025, 19:14 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melihat sektor pertanian dan pangan sebagai solusi untuk mengatasi tingkat pengangguran pemuda global yang berada di tingkat mengkhawatirkan.

Laporan FAO berjudul The Status of Youth in Agrifood Systems yang dirilis pada tanggal 3 Juli 2025 mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: lebih dari 20 persen dari 1,3 miliar pemuda di dunia saat ini tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak sedang dalam pelatihan (NEET).

Jika pengangguran ini berhasil ditangani, terutama di kalangan pemuda usia 20-24 tahun, hal itu berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 1,4 persen.

Menariknya, FAO mengungkapkan sekitar 45 persen dari peningkatan PDB tersebut diperkirakan berasal dari peningkatan partisipasi pemuda dalam sistem agrifood.

Baca juga: Pertanian Hijau Terbukti Tingkatkan Biodiversitas dan Panen, Tapi Butuh Subsidi

Mengutip Down to Earth, Senin (7/7/2025), laporan mencatat pula secara global, 44 persen pemuda yang bekerja di seluruh dunia mengandalkan sistem agrifood untuk mencari nafkah.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa yang bekerja di sektor yang sama (38 persen).

Namun, meski hampir separuh pemuda bekerja di sektor agrifood, pemuda yang bekerja di bidang tersebut telah menurun 54 persen dari tahun 2005.

Ini menunjukkan adanya tren penurunan minat atau kesempatan kerja bagi pemuda di sektor ini dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan pun memberikan peringatan akan potensi kekurangan tenaga kerja dalam sistem agrifood di masa depan karena penurunan jumlah pemuda di pedesaan.

Saat ini, 54 persen pemuda tinggal di perkotaan, terutama di Asia Timur. Sebaliknya, pemuda pedesaan hanya menyumbang 5 persen dari total populasi dalam sistem agrifood industri.

Para penulis laporan ini pun menekankan urgensi pemerintah untuk membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik bagi pemuda.

Lebih lanjut, hampir 85 persen pemuda di seluruh dunia tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah. Di negara-negara ini, sistem agrifood sangat penting untuk mata pencarian mereka.

Artinya, banyak pemuda di negara-negara miskin sangat bergantung pada sektor pertanian dan pangan untuk hidup.

Baca juga: Pemakaian AI Melesat, Pertanian Asia Pasifik Bakal Lebih Adaptif Iklim

Namun, meskipun demikian, kerawanan pangan di kalangan pemuda juga sangat tinggi dan mengkhawatirkan.

Angka tersebut meningkat dari 16,7 persen pada periode 2014-2016 menjadi 24,4 persen pada periode 2021-2023. Peningkatan kerawanan pangan ini terutama berdampak pada pemuda di Afrika.

Belum lagi tantangan perubahan iklim akan sangat merugikan sektor pertanian yang pada akhirnya akan mengancam mata pencaharian jutaan pemuda.

"Laporan ini adalah panduan penting yang menunjukkan bagaimana sektor pertanian dan pangan bisa menjadi kunci untuk menciptakan pekerjaan yang baik dan memastikan ketersediaan pangan bagi pemuda, sekaligus menjadikan pemuda sebagai agen perubahan utama dalam transformasi sistem pangan global," tulis QU Dongyu, Direktur Jenderal FAO, dalam kata pengantar di laporan ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau