Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

OECD: Biaya Kekeringan Diperkirakan Naik 35 Persen pada 2035

Kompas.com, 7 Juli 2025, 20:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru yang dirilis Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyebut kekeringan telah meningkat tajam. Imbasnya, biaya ekonomi akibat kekeringan diproyeksikan meningkat signifikan dalam dekade mendatang.

Rata-rata kekeringan pada tahun 2035 diperkirakan akan menelan biaya setidaknya 35 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Sementara itu, mengutip Down to Earth, Senin (7/7/2025) secara global, kerugian dan kerusakan ekonomi akibat kekeringan meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3-7,5 persen.

Sektor yang paling terdampak adalah pertanian. Akibat kekeringan, hasil panen bisa menurun hingga 22 persen di tahun-tahun yang sangat kering.

Laporan berjudul OECD Global Drought Outlook: Trends, Impacts and Policies to Adapt to a Drier World tersebut mengevaluasi risiko kekeringan saat ini dan di masa depan, dampaknya terhadap ekosistem, perekonomian, dan masyarakat, serta menguraikan respons kebijakan untuk beradaptasi dan meningkatkan ketahanan.

Baca juga: Kekeringan Ancam Dunia, Kerugian Ekonomi dan Kemanusiaan Meningkat

Dalam analisis tersebut terungkap bahwa 40 persen dari planet ini telah mengalami kekeringan yang lebih sering dan intens dalam beberapa dekade terakhir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Pada tahun 2023, hampir setengah (48 persen) dari luas daratan global mengalami setidaknya satu bulan kekeringan ekstrem, tingkat kekeringan terbesar kedua yang diamati sejak tahun 1951.

Titik panas dengan peningkatan frekuensi dan intensitas kekeringan meliputi Amerika Serikat bagian barat, Amerika Selatan, Eropa selatan dan timur, Australia selatan, Afrika utara dan selatan, dan Rusia.

Kekeringan pun menyebabkan kerugian produktivitas pertanian, perdagangan, industri, dan produksi energi.

Lebih lanjut, analisis OECD kemudian menemukan pula kejadian kekeringan ini tak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga lingkungan dan sosial.

Sejak tahun 1980, sebanyak 37 persen daratan global telah mengalami kehilangan kelembaban tanah yang signifikan.

Demikian pula, tingkat air tanah menurun secara global, dengan 62 persen akuifer yang dipantau mengalami penurunan, sementara banyak sungai di seluruh dunia mengalami penurunan aliran sungai yang signifikan.

Perubahan ketersediaan air ini mempercepat degradasi tanah dan berdampak negatif pada ekosistem seperti hutan dan lahan basah, yang memengaruhi biomassa dan distribusi tanaman.

Baca juga: Pemanasan Global Bisa Ubah Pola Hujan, Timbulkan Kekeringan dan Banjir

Hal ini mengancam keanekaragaman hayati dan mengganggu layanan ekosistem penting, termasuk pemurnian air dan penyerapan karbon, yang memperburuk risiko kekeringan di masa mendatang.

Kekeringan juga bertanggung jawab atas 34 persen kematian terkait bencana dan memperburuk kemiskinan, ketidaksetaraan, dan pengungsian, terutama di Afrika sub-Sahara.

Laporan ini pun mendesak negara-negara untuk mengadopsi strategi proaktif dan terpadu untuk meningkatkan ketahanan dan mendukung adaptasi di dunia yang lebih kering.

Penerapan solusi yang ada secara lebih luas diperlukan untuk mencapai dampak di seluruh sistem. Misalnya saja inovasi dalam penggunaan air, termasuk melalui daur ulang dan pemanenan air, dapat secara signifikan mengurangi pengambilan air oleh industri dan manufaktur.

Budidaya tanaman yang tahan kekeringan juga dapat ditingkatkan melalui insentif dan penyelarasan langkah-langkah regulasi, dan sistem irigasi yang lebih efisien dapat secara signifikan mengurangi penggunaan air global.

Selain itu penggunaan lahan berkelanjutan dan pengelolaan ekosistem juga memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan alami terhadap kekeringan dan menjaga layanan ekosistem penting terkait air.

Baca juga: RI Perlu Pensiunkan 72 PLTU, Cegah Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celsius

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau