Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waste Station dan Single Stream Recycling, Strategi Rekosistem Ajak Anak Muda Kelola Sampah

Kompas.com, 8 Juli 2025, 19:00 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Menarik perhatian anak muda terhadap isu pengelolaan sampah menjadi tantangan tersendiri.

Maka dari itu Rekosistem memilih pendekatan yang menggabungkan teknologi dan gaya hidup digital yang lekat dengan generasi muda.

Waste station ini semacam mini bank sampah yang dipadukan dengan aplikasi di smartphone,” ujar Angga Adhitya Fritz Aradhana, Senior VP of Business Growth & Partnerships Rekosistem, dalam acara Kick-Off Program Akademi Sekolah Lestari (ASRI) bertajuk Bersemi Generasi Lestari, Senin (7/7/2025).

Menurut Angga, melalui aplikasi tersebut, pengguna bisa mengakses laporan sampah yang mereka setorkan dan menemukan titik waste station terdekat. Sistemnya bekerja seperti bank sampah, setiap penyetoran akan mendapatkan Rekopoints yang dapat ditukar dengan voucher atau saldo digital.

Saat ini, Rekosistem telah hadir di 40 titik di Jakarta dan tersebar di 9 provinsi dan 21 kota. Untuk pengelolaan sampah, mereka juga bermitra dengan berbagai pihak seperti pengepul, sesama bank sampah, hingga pemulung, mulai dari Santang hingga Jayapura.

Baca juga: Segenap Gerakan Kolektif Warga Jakarta Utara Kelola Sampah

“Dengan adanya waste station di berbagai titik itu, harapannya masyarakat, khususnya anak muda, bisa memiliki kebiasaan memilah sampah,” jelas Angga.

Namun ia menyadari, kebiasaan memilah sampah bukan hal yang mudah dibentuk. Menurutnya, hal-hal rumit kerap dihindari oleh anak muda. Maka dari itu, Rekosistem memperkenalkan sistem bernama single stream recycling, di mana pengguna cukup memisahkan sampah organik dan anorganik ke dalam dua wadah terpisah.

“Yang organik dengan yang organik, sehingga bisa dibikin kompos. Yang anorganik sama yang anorganik, nanti bisa disetorkan ke Rekosistem terdekat,” ujar Angga.

Selain itu, Rekosistem juga menyediakan tempat sampah yang sudah dipisah berdasarkan kategori dan dilabeli secara jelas di beberapa titik yang ramai dikunjungi masyarakat . Namun, menurut Angga, tantangan tetap muncul karena rendahnya literasi pengelolaan sampah di kalangan generasi muda. Akibatnya, banyak yang tetap membuang sampah tidak sesuai kategori.

Masalah kepercayaan juga menjadi kendala. Banyak anak muda merasa enggan memilah sampah karena menganggap usahanya sia-sia, setelah melihat petugas pengangkut mencampur kembali sampah yang sudah mereka pisahkan.

Angga menilai, kondisi ini menunjukkan perlunya kerja sama lintas sektor untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya efektif, tetapi juga membangun kepercayaan dan keterlibatan publik.

Menurutnya, ini bukan hanya untuk mengatasi masalah sampah secara lebih masif, tapi juga untuk menggerakkan anak muda agar lebih peduli terhadap lingkungan sehingga praktik pengelolaan sampah ini bisa berkelanjutan.

Berdasarkan data dari situs resmi Rekosistem, hingga saat ini mereka telah mendaur ulang lebih dari 10 juta kilogram sampah organik. Angka ini, menurut Angga, masih bisa terus ditingkatkan jika semakin banyak anak muda terlibat.

Baca juga: Bank Sampah Kepulauan Seribu Mampu Tekan 80 Persen Limbah Rumah Tangga

Untuk menjangkau lebih banyak generasi muda, Rekosistem memaksimalkan pendekatan lewat media sosial. Angga mengatakan bahwa, konten dengan sisi emosional cenderung lebih menarik perhatian mereka.

“Misal, ada konten anak anjing mungut sampah. Itu banyak mengundang perhatian anak muda, mereka jadi berpikir, ‘anjing aja peduli sama lingkungan’,” ungkapnya.

Dengan pendekatan tersebut, ia mencatat adanya peningkatan pengikut media sosial hingga 2.000 dalam waktu satu minggu.

Bagi Angga, hal ini menjadi penanda bahwa perubahan bisa dimulai dari cara komunikasi yang sesuai.

Menurutnya, pendekatan emosional yang relevan dan mudah dipahami bisa mendorong partisipasi, tidak hanya dari anak muda, tapi juga dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha, yang kini juga banyak didorong untuk mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
El Nino Bukan Vonis Kekeringan
Pemerintah
Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Swasta
Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api
Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api
LSM/Figur
Ampas Kopi Gayo 'Disulap' jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
Ampas Kopi Gayo "Disulap" jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau