KOMPAS.com - Sistem pangan global, meskipun sangat penting untuk menopang miliaran kehidupan, ternyata gagal dalam memenuhi aspek kesehatan, hak asasi, dan terutama keberlangsungan alam.
Sebuah laporan yang baru saja diterbitkan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Chatham House menyoroti tiga hambatan sistematis yang harus diatasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Tiga hambatan itu termasuk paradigma makanan yang lebih murah, konsolidasi pasar, serta ketergantungan jalur investasi.
Laporan berjudul Unlocking Sustainable Transition for Agribusiness ini juga tidak hanya mengidentifikasi tiga hambatan tetapi juga mengusulkan solusi dengan menguraikan peran berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi antarpemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta hingga masyarakat sipil. dalam membuka jalan menuju agribisnis yang lebih berkelanjutan.
Mengutip Eco Business, Selasa (8/7/2025), Doreen Robinson, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di UNEP, menjelaskan melalui Kerangka Keanekaragaman Hayati Global, pemerintah sudah berkomitmen untuk mengurangi subsidi yang membahayakan keanekaragaman hayati, mengurangi polusi dari nutrisi, pestisida, dan bahan kimia berbahaya, serta melindungi setidaknya 30 persen daratan dan lautan.
Baca juga: Sistem Pangan Berkelanjutan Cegah 300 Juta Orang Kekurangan Gizi
Namun, meski ada komitmen tersebut dan momentum politik yang melimpah, Robinson menegaskan bahwa sistem pangan global tetap rentan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim, kerusakan alam, dan polusi.
"Membuka potensi agribisnis pun sangat penting untuk mencapai sistem pangan yang berkelanjutan, adil, dan mendukung kesehatan," katanya lagi.
Ada beberapa fakta mengejutkan dan masalah besar terkait sistem pangan global saat ini.
Secara global, lebih dari 800 juta orang menghadapi kelaparan saat ini.
Sekitar 30 persen makanan dari panen hingga konsumsi terbuang sia-sia, pola makan yang buruk berkontribusi terhadap 1 dari 5 kematian dini, hingga biaya tersembunyi yang ditimbulkan sistem pangan terhadap lingkungan dan kesehatan bisa mencapai 20 triliun dolar AS.
Agribisnis, bisnis yang padat modal dan input yang terlibat dalam rantai nilai pertanian yang terindustrialisasi merupakan inti dari sistem ini.
Ini berarti perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi produksi dan distribusi makanan berperan sentral dalam masalah-masalah yang disebutkan di atas.
Pelaku swasta merupakan pusat dari sistem pangan global. Dan yang paling kuat di antara mereka adalah agribisnis besar dan para investor.
Mereka punya potensi besar untuk mengubah, dalam skala besar dan dengan cepat, cara makanan diproduksi dan dikonsumsi.
Pasar makanan kita sekarang ini juga didorong oleh prinsip makanan harus murah yang didukung oleh subsidi, pajak, dan aturan yang ada.
Masalahnya, meskipun makanan jadi murah untuk diproduksi dan dibeli, sebenarnya ada biaya tersembunyi yang sangat besar di baliknya, terutama untuk lingkungan dan kesehatan kita dalam jangka panjang.
Misalnya, karena makanan murah, orang cenderung makan berlebihan dan banyak yang terbuang.
Paradigma makanan murah akhirnya menciptakan dua masalah besar yakni kekuatan pasar yang terkonsentrasi di tangan perusahaan besar yang sulit diubah, dan pola investasi lama yang membuat petani makin bergantung pada korporasi, yang pada akhirnya merugikan lingkungan dan keberlanjutan.
Baca juga: Tambang Ancam Ekosistem Kerapu dan Ketahanan Pangan di Raja Ampat
Artinya ada kebutuhan mendesak untuk mengubah standar dan sistem pajak agar memperhitungkan biaya lingkungan dan kesehatan jangka panjang dari sistem pangan saat ini.
Laporan ini pun menyarankan agar pemerintah membuat lebih banyak aturan dan melakukan penelitian agar praktik ramah lingkungan dihargai serta meningkatkan biaya untuk bisnis yang merusak lingkungan.
Kekuatan konsumen dan gerakan masyarakat punya peran besar dalam mendorong perusahaan dan investor untuk bertindak lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam sistem pangan.
Makin banyak insiatif dalam meningkatkan pengawasan terhadap praktik agribisnis dan keputusan investor maka akan makin besar untuk mendorong pengurangan emisi berbahaya, polusi tanah dan air, dan peningkatan nilai gizi makanan.
Lebih lanjut, jika sistem pangan bertransisi ke arah yang lebih berkelanjutan maka kita akan melihat hasil-hasil positif seperti mesin pertanian dan produksi bahan kimia yang tidak lagi terlalu bergantung pada bahan bakar fosil, makanan yang berasal dari beragam lanskap, bukan hanya monokultur.
Selain itu juga pengolahan daging bisa menghasilkan keuntungan lebih besar melalui produk berkualitas tinggi, berdampak rendah, dan kesejahteraan hewan yang tinggi. Lalu, munculnya alternatif daging berbasis tumbuhan atau daging hasil budidaya.
Baca juga: Tambang Ancam Ekosistem Kerapu dan Ketahanan Pangan di Raja Ampat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya