Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sistem Pangan Berkelanjutan Punya 3 Hambatan, Salah Satunya Makanan Murah

Kompas.com, 8 Juli 2025, 20:25 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sistem pangan global, meskipun sangat penting untuk menopang miliaran kehidupan, ternyata gagal dalam memenuhi aspek kesehatan, hak asasi, dan terutama keberlangsungan alam.

Sebuah laporan yang baru saja diterbitkan oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Chatham House menyoroti tiga hambatan sistematis yang harus diatasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Tiga hambatan itu termasuk paradigma makanan yang lebih murah, konsolidasi pasar, serta ketergantungan jalur investasi.

Laporan berjudul Unlocking Sustainable Transition for Agribusiness ini juga tidak hanya mengidentifikasi tiga hambatan tetapi juga mengusulkan solusi dengan menguraikan peran berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi antarpemerintah, lembaga keuangan, sektor swasta hingga masyarakat sipil. dalam membuka jalan menuju agribisnis yang lebih berkelanjutan.

Mengutip Eco Business, Selasa (8/7/2025), Doreen Robinson, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di UNEP, menjelaskan melalui Kerangka Keanekaragaman Hayati Global, pemerintah sudah berkomitmen untuk mengurangi subsidi yang membahayakan keanekaragaman hayati, mengurangi polusi dari nutrisi, pestisida, dan bahan kimia berbahaya, serta melindungi setidaknya 30 persen daratan dan lautan.

Baca juga: Sistem Pangan Berkelanjutan Cegah 300 Juta Orang Kekurangan Gizi

Namun, meski ada komitmen tersebut dan momentum politik yang melimpah, Robinson menegaskan bahwa sistem pangan global tetap rentan dan berkontribusi terhadap perubahan iklim, kerusakan alam, dan polusi.

"Membuka potensi agribisnis pun sangat penting untuk mencapai sistem pangan yang berkelanjutan, adil, dan mendukung kesehatan," katanya lagi.

Ada beberapa fakta mengejutkan dan masalah besar terkait sistem pangan global saat ini.

Secara global, lebih dari 800 juta orang menghadapi kelaparan saat ini.

Sekitar 30 persen makanan dari panen hingga konsumsi terbuang sia-sia, pola makan yang buruk berkontribusi terhadap 1 dari 5 kematian dini, hingga biaya tersembunyi yang ditimbulkan sistem pangan terhadap lingkungan dan kesehatan bisa mencapai 20 triliun dolar AS.

Agribisnis, bisnis yang padat modal dan input yang terlibat dalam rantai nilai pertanian yang terindustrialisasi merupakan inti dari sistem ini.

Ini berarti perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi produksi dan distribusi makanan berperan sentral dalam masalah-masalah yang disebutkan di atas.

Pelaku swasta merupakan pusat dari sistem pangan global. Dan yang paling kuat di antara mereka adalah agribisnis besar dan para investor.

Mereka punya potensi besar untuk mengubah, dalam skala besar dan dengan cepat, cara makanan diproduksi dan dikonsumsi.

Pasar makanan kita sekarang ini juga didorong oleh prinsip makanan harus murah yang didukung oleh subsidi, pajak, dan aturan yang ada.

Masalahnya, meskipun makanan jadi murah untuk diproduksi dan dibeli, sebenarnya ada biaya tersembunyi yang sangat besar di baliknya, terutama untuk lingkungan dan kesehatan kita dalam jangka panjang.

Misalnya, karena makanan murah, orang cenderung makan berlebihan dan banyak yang terbuang.

Paradigma makanan murah akhirnya menciptakan dua masalah besar yakni kekuatan pasar yang terkonsentrasi di tangan perusahaan besar yang sulit diubah, dan pola investasi lama yang membuat petani makin bergantung pada korporasi, yang pada akhirnya merugikan lingkungan dan keberlanjutan.

Baca juga: Tambang Ancam Ekosistem Kerapu dan Ketahanan Pangan di Raja Ampat

Artinya ada kebutuhan mendesak untuk mengubah standar dan sistem pajak agar memperhitungkan biaya lingkungan dan kesehatan jangka panjang dari sistem pangan saat ini.

Laporan ini pun menyarankan agar pemerintah membuat lebih banyak aturan dan melakukan penelitian agar praktik ramah lingkungan dihargai serta meningkatkan biaya untuk bisnis yang merusak lingkungan.

Kekuatan konsumen dan gerakan masyarakat punya peran besar dalam mendorong perusahaan dan investor untuk bertindak lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam sistem pangan.

Makin banyak insiatif dalam meningkatkan pengawasan terhadap praktik agribisnis dan keputusan investor maka akan makin besar untuk mendorong pengurangan emisi berbahaya, polusi tanah dan air, dan peningkatan nilai gizi makanan.

Lebih lanjut, jika sistem pangan bertransisi ke arah yang lebih berkelanjutan maka kita akan melihat hasil-hasil positif seperti mesin pertanian dan produksi bahan kimia yang tidak lagi terlalu bergantung pada bahan bakar fosil, makanan yang berasal dari beragam lanskap, bukan hanya monokultur.

Selain itu juga pengolahan daging bisa menghasilkan keuntungan lebih besar melalui produk berkualitas tinggi, berdampak rendah, dan kesejahteraan hewan yang tinggi. Lalu, munculnya alternatif daging berbasis tumbuhan atau daging hasil budidaya.

Baca juga: Tambang Ancam Ekosistem Kerapu dan Ketahanan Pangan di Raja Ampat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
BrandzView
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau