Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tenaga Angin Bisa Pulihkan Laut, Cukup Sisihkan 1 Persen Dana Proyek

Kompas.com, 9 Juli 2025, 20:06 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga dapat memainkan peran penting dalam memulihkan ekosistem yang rentan, baik di atas maupun di bawah permukaan air.

Studi yang dilakukan oleh tim ilmuwan internasional dan dipublikasikan dalam jurnal BioScience ini menyebut, dengan hanya mengalokasikan satu persen dari dana pembangunan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, mulai dari sekarang hingga tahun 2050, kita bisa membiayai proyek-proyek pemulihan lingkungan laut hingga jutaan kilometer persegi.

Dana sebesar satu persen itu bisa digunakan untuk berbagai inisiatif restorasi yang mencakup habitat dasar laut, terumbu karang, padang lamun, dan lahan basah pesisir: ekosistem yang penting bagi keanekaragaman hayati, populasi ikan, dan ketahanan iklim.

"Angin lepas pantai memiliki peluang unik untuk tidak hanya mendukung transisi energi tetapi juga menjadi industri kelautan pertama yang memberikan kontribusi positif bersih terhadap restorasi ekosistem skala besar," kata penulis utama studi Christiaan van Sluis, dikutip dari Phys, Rabu (9/7/2025).

Baca juga: Inggris Genjot Tenaga Angin Darat, Target 29 GW pada 2030

Menurut van Sluis, metode tersebut bisa dilakukan dengan cara menjadikan restorasi lingkungan sebagai bagian yang terintegrasi dan wajib dalam setiap proyek angin lepas pantai.

Dengan menjadikan restorasi sebagai syarat perizinan atau kriteria dalam proses tender, pemerintah dapat memastikan bahwa industri ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga berkontribusi positif terhadap kesehatan laut.

"Dengan memasukkan persyaratan keanekaragaman hayati ke dalam prosedur perizinan dan tender proyek angin lepas pantai sekarang juga, kita bisa membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati hanya dengan sebagian kecil dari total investasi," tambahnya.

Restorasi ekosistem laut ini nantinya tidak hanya bermanfaat bagi tumbuhan dan hewan, tetapi juga bagi manusia.

Laut dan habitat pesisir yang sehat menyerap karbon, melindungi garis pantai, dan mendukung populasi ikan.

Menurut studi tersebut, setiap dolar yang diinvestasikan dalam restorasi ekosistem dapat menghasilkan manfaat sosial sebesar 2 dolar AS hingga 12 dolar AS.

Ini relevan karena sektor angin lepas pantai diperkirakan akan tumbuh secara eksponensial, dari 56 gigawatt pada tahun 2021 menjadi sekitar 2.000 gigawatt pada tahun 2050.

Baca juga: Perubahan Iklim Ancam Energi Angin, Potensinya Bisa Berkurang

Para peneliti menyerukan agar pemerintah mewajibkan setiap proyek pembangkit listrik tenaga angin di laut untuk menyisihkan sebagian dananya untuk restorasi lingkungan laut.

Pasalnya, industri ini tumbuh sangat cepat, upaya restorasi harus jadi bagian standar dan wajib dari semua kebijakan, bukan sekadar pilihan.

Negara-negara seperti Belanda, Denmark, dan Inggris sudah punya sistem yang bagus untuk memasukkan pertimbangan lingkungan dalam lelang proyek angin lepas pantai.

Jika ini dilakukan secara global dan diatur undang-undang, proyek bisa lebih efisien, persaingan lebih sehat, dan yang terpenting, ekosistem laut tidak akan dikorbankan hanya demi harga termurah.

"Pencantuman kriteria non-harga dalam tender telah berhasil di beberapa proyek di Belanda. Saatnya tepat untuk meningkatkan skala restorasi laut dalam peluncuran energi angin lepas pantai global," ujar Karen Vennik, Direktur Komersial Energi Lepas Pantai dan Kesehatan Laut di Van Oord.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau