Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sembilan Titik Laut Dalam di Sumatra Punya Potensi Tinggi, dari Udang hingga Beragam Karang

Kompas.com, 10 Juli 2025, 14:38 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil awal eksplorasi laut dalam yang dilakukan melalui program Indonesia OceanX Mission pada 2024 menunjukkan potensi ekosistem yang kaya di sembilan lokasi perairan sekitar Sumatra.

Program yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), OceanX, dan Konservasi Indonesia ini menyoroti temuan spesies laut dalam yang melimpah, serta mengungkap tantangan konservasi yang perlu ditindaklanjuti secara berkelanjutan.

Lokasi-lokasi dengan potensi yang tinggi tersebut ditemukan di sebelah selatan perairan Nias, Pulau Siberut, hingga daratan Sumatra.

Di kedalaman 150 hingga 1.000 meter, para peneliti mencatat dominasi teripang, sementara pada kedalaman 1.000 hingga 5.000 meter, ditemukan beberapa spesies pari dan hiu.

Menurut Rian Prasetia, peneliti dari Konservasi Indonesia sekaligus Senior Manager Blue Halo S, eksplorasi ini juga mendeteksi beragam fauna lain dengan peran ekologis penting.

“Ditemukan kelompok udang dan kepiting yang termasuk dalam kelas Malacostraca, termasuk yang paling banyak dari fauna laut lainnya. Mereka memiliki peran penting sebagai pemangsa maupun pemakan detritus di ekosistem dasar laut,” ujar Rian kepada Kompas.com, Kamis (10/7/2025).

Lebih lanjut, Rian mengatakan bahwa terdapat bintang laut dari kelas Asteroidea, berbagai jenis karang dari kelas Anthozoa dan Octocorallia seperti karang lunak dan kipas laut, serta bulu babi dari kelas Echinoidea.

Temuan ini mencerminkan kompleksitas komunitas bentik di wilayah survei yang menjadi dasar penting untuk analisis struktur komunitas serta strategi pengelolaan kawasan konservasi.

Baca juga: Potensi Rumput Laut Besar, tetapi Baru 11 Persen Lahan Budidaya yang Dimanfaatkan

Meski begitu, hingga kini belum ditemukan indikasi spesies baru atau langka karena proses identifikasi baru mencapai tingkat filum dan kelas.

“Untuk bisa mengidentifikasi hingga tingkat genus atau spesies, dibutuhkan analisis lanjutan yang lebih mendalam,” ujar Rian.

Maka dari itu, Rian menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, termasuk pelibatan ahli taksonomi, universitas, dan lembaga riset. Menurutnya, kapasitas identifikasi yang lebih kuat merupakan kunci untuk mengungkap keanekaragaman hayati laut dalam secara akurat, sekaligus mendukung pemetaan kawasan konservasi.

Selain keragaman hayati, eksplorasi ini juga menyoroti tantangan dalam pengelolaan sumber daya laut berkelanjutan.

Rian mengatakan bahwa sampah plastik ditemukan bahkan hingga kedalaman 5.000 meter. Ini menandakan tekanan aktivitas manusia terhadap ekosistem laut dalam, termasuk di Wilayah Pengelolaan dan Perikanan (WPP) 572.

Meski dampaknya terhadap spesies dan habitat belum dapat disimpulkan, temuan ini menambah urgensi riset lanjutan untuk memahami keterkaitannya dengan aktivitas seperti penangkapan ikan dan eksplorasi sumber daya.

Dalam hal habitat penting, Rian menjelaskan bahwa sejauh ini juga belum teridentifikasi secara pasti keberadaan zona pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), atau tempat makan (feeding ground).

Baca juga: Mikroplastik Bisa Bersatu dengan Ganggang dan Tenggelam ke Dasar Laut

Namun, riset yang dilakukan oleh Charles PH Simanjuntak dari IPB University terkait distribusi ichthyoplankton di perairan barat Sumatra berpotensi mengungkap lokasi-lokasi tersebut untuk beberapa komoditas ikan pelagis penting. Hasil analisisnya masih ditunggu dalam beberapa bulan mendatang.

Lebih jauh, Rian mengatakan bahwa eksplorasi sweeping dengan menggunakan teknologi ROV (Remotely Operated Vehicle) pada kedalaman 60 hingga 5.000 meter, melintasi zona mesofotik hingga batipelagik sepanjang 26,25 kilometer, telah mendeteksi sebanyak 26.245 individu biota nekton dan bentik.

Namun, proses identifikasinya mengalami kendala, terutama karena kompleksitas morfologi spesies laut dalam dan keterbatasan referensi taksonomi spesifik untuk wilayah WPP 572. Sebagian besar footage yang diperoleh juga menampilkan gambar biota yang belum sepenuhnya jelas.

Hingga saat ini, Rian menyebut, seluruh footage telah melalui proses identifikasi awal, tetapi baru mencapai level filum atau kelas. Untuk mencapai taksonomi yang lebih rinci seperti genus atau spesies, diperlukan waktu, bantuan tenaga ahli, dan referensi pustaka tambahan.

Baca juga: Pertemuan Langka Dua Pari Manta, Panggilan Konservasi Laut Raja Ampat

Rangkaian riset ini masih terus berlangsung. Hasil akhirnya diharapkan dapat memperkuat basis data biodiversitas laut dalam Indonesia serta mendukung target pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan atau Marine Protected Area (MPA) berbasis ekosistem.

Temuan awal ini bukan hanya memperluas pemahaman tentang kekayaan laut dalam Indonesia, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan riset yang berkelanjutan untuk menjaga masa depan laut Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
LSM/Figur
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
LSM/Figur
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
Pemerintah
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
Swasta
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pemerintah
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Swasta
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pemerintah
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
99 Ton Ikan Salem Ilegal Gagal Masuk Indonesia, Kerugiannya Bisa Capai Rp 4,8 Miliar
Pemerintah
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Darurat Sampah, Pemkot Tangsel Salahkan Pedagang Kaki Lima
Pemerintah
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Sri Mulyani Masuk Dewan Gates Foundation Milik Bill Gates, Ini Jejaknya di Indonesia
Pemerintah
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global tembus 2,2 Triliun Dollar AS
Pemerintah
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
Kemandirian BUMN Jadi Fondasi Strategis Menuju ESG dan Negara Kesejahteraan
LSM/Figur
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
IEA: Keluarnya AS Tak Pengaruhi Komitmen Transisi Energi di Asean
Pemerintah
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
Kubah Es Raksasa di Greenland Berpotensi Mencair Lagi, Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau