Sementara itu, pendekatan bertahap secara global juga menguntungkan sebanyak 7 triliun dolar AS, namun jika pelarangan dilakukan dengan jadwal yang berbeda antara negara kaya dan miskin, penghematannya akan paling sedikit, yaitu 4,7 triliun dolar AS.
Baca juga: Semua Kawasan Komersial di Jakarta Harus Kelola Sampah Mandiri, Tak Bebani APBD
Lebih lanjut, walaupun melarang plastik bermasalah secara langsung butuh biaya awal yang lumayan untuk administrasi (323 juta dolar AS), ini akan jauh terbayar dengan penghematan besar dalam biaya pengelolaan sampah sebesar 50 miliar dolar AS.
Biaya administrasi ini bahkan bisa lebih rendah lagi jika negara-negara maju membantu negara-negara berkembang.
Namun meskipun ada manfaat lingkungan dan sosial yang besar dari pelarangan plastik, sektor swasta akan menghadapi kerugian finansial yang signifikan, terutama dalam bentuk pasar yang menyusut.
Perkiraan biaya transisi akibat larangan plastik adalah sekitar 143 juta dolar AS, sementara total kerugian, termasuk penyusutan pasar plastik, bisa mencapai 228 miliar dolar AS jika ada larangan segera.
Perkiraan kerugian bagi sektor swasta ini mungkin terlalu tinggi karena perhitungan tersebut hanya melihat dampak langsung pada pasar pengganti plastik yang dilarang dan belum memperhitungkan potensi besar dari pasar baru seperti produk yang dapat digunakan kembali, sistem daur ulang, dan model bisnis sirkular.
Sehingga sebenarnya manfaat ekonomi bagi sektor swasta sebenarnya bisa lebih besar dari yang diperkirakan dalam studi ini.
Baca juga: Dorong Daur Ulang Plastik di Sekolah, Mesin Penukar Sampah Pertama Hadir di Sukabumi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya