Penulis
KOMPAS.com - Peneliti dari China mengembangkan strategi katalisis elektrifikasi inovatif yang mampu menghilangkan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang dihasilkan, sehingga menghasilkan emisi bersih negatif. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada Sabtu (12/7/2021).
Karbon dioksida dan metana merupakan dua gas rumah kaca utama yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Mengurangi, dan jika menghilangkan menghilangkan gas-gas ini dari atmosfer, telah menjadi prioritas penting dalam dunia sains.
Sebelumnya, untuk menghilangkan karbon dioksida dan metana, para ilmuwan melakukan proses yang disebut dry reforming of methane (DRM), mengubah metana dan karbon dioksida menjadi hidrogen dan karbon monooksida.
Meski metode tersebut bisa digunakan untuk CO2 dan metana sekaligus serta mendukung ekonomi sirkular karena gas yang dihasilkan bisa dipakai untuk industri, pendekatan itu juga punya kelemahan sebab butuh suhu lebih dari 800 derajat Celsius untuk melakukannya serta harus menggunakan bahan bakar fosil.
Baca juga: Mobil Listrik Hasilkan Emisi 73 Persen Lebih Rendah, Bantu Capai Target Iklim
Dalam praktiknya, karbon dioksida yang dilepaskan selama proses itu sering kali lebih banyak daripada yang berhasil dikonversi, sehingga menghambat upaya pengurangan emisi dan mitigasi perubahan iklim.
Tim peneliti dari Ningbo Institute of Materials Technology and Engineering (NIMTE), Chinese Academy of Sciences, bersama Universitas Jinan, mengembangkan strategi baru berbasis katalisis elektrifikasi untuk DRM. Mereka menamakan electrified DRM (e-DRM).
Dengan dibantu katalis atau pemercepat reaksi berbasis Nickel–Lanthanum Oxide, proses DRM jadi lebih efisien hingga 80 persen. Proses tetap stabil dalam jangka waktu 120 jam, kontras dengan proses tradisional yang tak stabil hanya dalam 10 jam.
Dengan memanfaatkan listrik terbarukan dari sumber seperti angin, matahari, tenaga air, dan nuklir, proses ini dapat mengkonversi lebih banyak karbon dioksida dibandingkan jumlah yang dihasilkan saat pembangkitan listrik. Sekai lagi, jika menggunakan sumber energi terbarukan.
Menurut NIMTE, terobosan ini berpotensi mendorong transisi DRM dari penelitian laboratorium menuju penerapan komersial, membantu industri masa depan mampu mengelola emisi karbonnya.
Baca juga: Gula dan Minyak Goreng Juga Sumber Emisi, Industri Perlu Hitung Dampaknya
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya