JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Jambi, Sumatera Barat, dan Riau. Mengutip Antara, Selasa (22/7/2025), karhutla terjadi di Desa Gambut Jaya, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.
Kepala Daops Manggala Agni Muaro Jambi, Sandy Prabowo, mengungkapkan api sulit dipadamkan lantaran terkendala sumber air dan akses petugas menuju lokasi kejadian.
"Kebakaran terjadi sejak beberapa hari lalu berdasarkan laporan warga, dan saat ini kami sudah menurunkan tim ke lokasi karhutla di Desa Gambut Jaya untuk bergabung dengan TNI-Polri, BPBD, Satgas Karhutla Jambi, dan warga, serta perusahaan setempat untuk memadamkan api," ujar Sandy.
Sebanyak 100 petugas gabungan, lanjut dia, berjibaku memadamkan api di lahan gambut tersebut.
Baca juga: BRIN Klaim Pemanfaatan Satelit Turunkan 30,8 Persen Luas Area Karhutla
Sementara itu, BMKG Provinsi Jambi mencatat peningkatan suhu panas di Jambi dalam beberapa pekan terakhir dengan suhu maksimal mencapai 35 derajat celsius pada 16 Juli 2025.
"Meskipun masih tercatat masih normal saat musim kemarau di Jambi, namun suhunya dirasakan lebih panas oleh masyarakat karena intensitas matahari yang tinggi dan tutupan awan berkurang," jelas Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Jambi, Nabila.
Api turut membakar hutan dan lahan di Sumatera Barat. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) bahkan berencana meminta perpanjangan bantuan tim Manggala Agni wilayah Provinsi Jambi untuk penanganan karhutla.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, menjelaskan dua regu Manggala Agni wilayah Jambi ditempatkan secara khusus di Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota yang telah menetapkan status tanggap darurat karhutla.
Penetapan status itu, menyusul kecamatan di Solok yang terdampak karhutla. Sementara di Kabupaten Limapuluh Kota, karhutla terjadi di 10 dari 13 kecamatan yang ada.
Baca juga: Menteri LH Minta Industri Sawit Berkoordinasi untuk Mitigasi Karhutla
"Target awal personel Manggala Agni hanya sekitar lima hari membantu karhutla Sumbar, namun itu tergantung situasi di lapangan karena bisa saja kita minta bantuan perpanjangan," tutur Ferdinal.
Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Sumbar Januari-21 Juli 2025, terjadi 66 kali karhutla yang tersebar di sejumlah daerah dengan luas sekitar 201 hektare. Angka itu diperkirakan lebih banyak jika divalidasi dengan penanganan yang dilakukan BPBD atau instansi lain.
Dishut Sumbar menduga, karhutla dipicu adanya aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar sehingga meluas ke area hutan.
"Dari hasil informasi petugas yang melakukan pemadaman karhutla di lapangan, diduga api ini berasal dari pembukaan lahan dengan cara dibakar sehingga api menjalar ke kawasan hutan," papar Ferdinal.
Dia meyakini, masyarakat setempat tidak berniat membakar kawasan hutan dan sebatas membersihkan lahan pertanian. Namun, tiupan angin dan kemarau panjang kemungkinan menyebabkan api mudah menjalar ke area lain sehingga sulit dipadamkan.
"Ini masih dugaan awal kita berdasarkan laporan di lapangan. Namun penyebab karhutla ini butuh pendalaman apakah disengaja atau tidak," ucap dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya