Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Prasyarat agar Swasembada Pangan Sejalan dengan Keberlanjutan

Kompas.com, 23 Juli 2025, 11:45 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com — Swasembada pangan kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan sektor pertanian.

Namun, menurut Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, capaian tersebut belum tentu menjamin ketahanan pangan dalam jangka panjang.

“Kalau tidak dilakukan secara komprehensif, swasembada tidak otomatis menjamin ketahanan pangan secara berkelanjutan,” ujar Puji saat dihubungi Kompas.com, Selasa (22/7/2025).

Puji menegaskan bahwa ketahanan pangan mencakup cakupan yang lebih luas dari sekadar produksi dalam negeri. Ada empat pilar utama yang harus dijaga, yaitu, ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Namun, swasembada, dalam banyak kebijakan, baru menyentuh aspek ketersediaan.

Padahal, kata dia, tantangan pangan Indonesia tidak hanya soal bisa memproduksi sendiri, tetapi juga apakah pangan itu bisa diakses dan dimanfaatkan secara adil oleh seluruh masyarakat, serta tersedia secara konsisten sepanjang waktu.

Salah satu tantangan utamanya adalah distribusi. Wilayah produksi pangan yang jauh dari daerah konsumsi, serta sistem logistik yang belum merata, kerap membuat pasokan pangan tidak tepat sasaran.

“Misalnya ada daerah surplus, tapi tidak serta-merta bisa langsung menutupi defisit di daerah lain karena distribusinya masih lemah,” jelasnya.

Selain distribusi, ada juga tantangan ketergantungan terhadap satu komoditas. Maka dari itu, menurut Puji, swasembada harus disertai kebijakan yang mendorong diversifikasi pangan serta sistem distribusi yang adil dan perlindungan sosial bagi kelompok rentan.

Baca juga: Ngebut Capai Swasembada Pangan Setahun, Pemerintah Alokasikan Rp 1,7 T untuk Pompa Air

Untuk menjembatani swasembada dengan ketahanan pangan yang berkelanjutan, Puji menyebut ada lima prasyarat utama.

Pertama, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja dalam sistem yang terintegrasi. Kolaborasi lintas lembaga dan sektor penting untuk menyatukan arah, dari pengembangan teknologi hingga kebijakan sosial.

Kedua, akses terhadap sumber daya harus merata. Petani kecil perlu diberi akses terhadap lahan, air, benih unggul, dan teknologi, tanpa diskriminasi. Ketimpangan akses bisa menjadi hambatan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang adil.

“Semua ini harus tersedia secara merata dan tidak diskriminatif,” ujar Puji

Ketiga, sistem pertanian perlu diarahkan ke praktik yang lebih adaptif dan ramah lingkungan. BRIN, misalnya, tengah mendorong riset pertanian presisi dan pengembangan varietas yang tahan terhadap krisis iklim yang ada. Tujuannya bukan hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi kerentanan terhadap krisis iklim.

“Saat ini juga saya sedang melakukan pelatihan untuk percepatan kerjasama riset pangan, tidak hanya untuk mendukung swasembada pangan, tetapi juga optimalisasi produksi dan pengembangan pertanian yang presisi,” tambah Puji.

Keempat, riset dan inovasi tidak bisa dilepaskan dari pendampingan langsung kepada petani. Sistem pangan yang berkelanjutan hanya bisa terbentuk jika pelaku di lapangan, petani dan komunitas lokal, ikut terlibat aktif dan mendapatkan dukungan yang memadai.

Baca juga: Swasembada Pangan dalam Setahun, Doable atau Impossible?

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau