Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perkotaan di Pulau Jawa Jadi Penyumbang Emisi Karbon Individu Tertinggi

Kompas.com, 24 Juli 2025, 11:10 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com —  Aktivitas manusia di wilayah perkotaan dinilai menjadi penyumbang emisi karbon individu tertinggi di Pulau Jawa.

Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat bahwa tahun 2024 merupakan tahun terpanas secara global, dengan suhu rata-rata mencapai 1,47 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Dalam upaya memahami kontribusi individu terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), IESR mengkaji jejak karbon masyarakat di kawasan perkotaan, semi perkotaan, dan perdesaan.

Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa wilayah perkotaan mencatat jejak karbon individu tertinggi dibanding dua wilayah lainnya. Rata-rata emisi individu di kawasan perkotaan mencapai 3,4 ton setara karbon dioksida (CO?e) per tahun, setara dengan karbon yang hanya dapat diserap oleh sekitar 25 pohon dalam kurun waktu 20 tahun.

“Tingginya emisi individu di wilayah perkotaan berasal dari sektor transportasi, makanan, dan rumah tangga,” ujar Deon Arinaldo, Manajer Transformasi Sistem Energi IESR, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Rabu (23/7/2025).

Baca juga: Gas Flaring Lesatkan Emisi Karbon, Sumbang 389 Juta Ton pada 2024

Metode Penelitian

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kajian ini dilakukan di sembilan wilayah dengan karakteristik geografis berbeda.

Wilayah perkotaan mencakup, Jakarta Selatan, Bandung, dan Yogyakarta. Wilayah semi perkotaan mencakup, Bogor, Cirebon, dan Serang serta wilayah perdesaan yang mencakup Purworejo, Banjarnegara, dan Cianjur.

Kajian ini juga melibatkan 483 responden dari total populasi 11,7 juta jiwa. Hasilnya menunjukkan bahwa emisi individu per tahun mencapai 3,39 ton CO2e di perkotaan, 2,81 ton di semi perkotaan, dan 2,33 ton di perdesaan.

Temuan ini, menurut Deon, dapat menjadi dasar untuk merancang kebijakan pengurangan emisi yang lebih kontekstual, seperti integrasi kebijakan transportasi rendah karbon di kawasan urban, untuk mencegah meningkatnya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, angin kencang, dan gelombang tinggi yang disebabkan oleh dampak iklim karena emisi ini.

Platform Penghitung Jejak Karbon

Di sisi lain, untuk mendorong kesadaran publik, IESR juga mengembangkan platform Jejakkarbonku.id untuk menghitung jejak karbon individu, yang mana pengguna cukup memasukkan data harian, seperti moda transportasi, konsumsi listrik, dan pilihan makanan ke dalam kalkulator digital.

Hasil perhitungan langsung menampilkan emisi individu dan memungkinkan perbandingan dengan rata-rata emisi nasional maupun global.

Deon menekankan bahwa kesadaran kolektif atas jejak karbon individu tidak hanya penting untuk menurunkan emisi, tetapi juga dapat menciptakan tekanan pasar terhadap produk dan layanan rendah karbon.

Baca juga: Pemerintah Bakal Beri Insentif Industri Rendah Karbon Lewat RUU EBET

Sementara itu, Irwan Sarifudin, Koordinator Clean Energy Hub IESR, mengungkapkan bahwa transportasi menyumbang 43,34 persen dari total emisi individu, diikuti makanan (34,91 persen), dan rumah tangga (21,08 persen).

“Tingginya emisi dari sektor transportasi mencerminkan dominasi kendaraan pribadi, minimnya transportasi publik yang efisien, serta meningkatnya mobilitas di wilayah urban,” kata Irwan.

Kontribusi dari sektor makanan sebagian besar berasal dari konsumsi produk olahan dan hewani, yang memiliki jejak emisi tinggi dari proses produksi hingga distribusi. Sedangkan di sektor rumah tangga, emisi berasal dari penggunaan listrik dan bahan bakar seperti LPG untuk kebutuhan domestik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Menteri LH Sebut Gelondongan Kayu Terseret Banjir Sumatera Bisa Dimanfaatkan
Pemerintah
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
Bioetanol dari Sorgum Disebut Lebih Unggul dari Tebu dan Singkong, tapi..
LSM/Figur
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Asia Tenggara Catat Kenaikan 73 Persen pada Hasil Obligasi ESG
Pemerintah
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
4 Penambang Batu Bara Ilegal di Teluk Adang Kalimantan Ditangkap, Alat Berat Disita
Pemerintah
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Drone Berperan untuk Pantau Gajah Liar Tanpa Ganggu Habitatnya
Swasta
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
6 Kukang Sumatera Dilepasliar di Lampung Tengah
Pemerintah
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
RI dan UE Gelar Kampanye Bersama Lawan Kekerasan Digital terhadap Perempuan dan Anak
Pemerintah
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
UNCTAD Peringatkan Sistem Perdagangan Dunia Rentan Terhadap Risiko Iklim
Pemerintah
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Tak Perbaiki Tata Kelola Sampah, 87 Kabupaten Kota Terancam Pidana
Pemerintah
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Bencana di Sumatera, Menteri LH Akui Tak Bisa Rutin Pantau Jutaan Unit Usaha
Pemerintah
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
DP World: Rantai Pasok Wajib Berubah untuk Akhiri Krisis Limbah Makanan
LSM/Figur
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
KLH Periksa 8 Perusahaan terkait Banjir Sumatera, Operasional 4 Perusahaan Dihentikan
Pemerintah
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
TN Way Kambas Sambut Kelahiran Bayi Gajah Betina, Berat 64 Kilogram
LSM/Figur
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Menteri LH Sebut Kayu Banjir Bukan dari Hulu Batang Toru
Pemerintah
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
TPA Suwung Bali Ditutup 23 Desember 2025, Ini Alasannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau