Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Darurat Karhutla, BMKG Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Sumut

Kompas.com, 29 Juli 2025, 12:58 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sekitar area Geopark Kaldera Toba, Sumatera Utara. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus meningkatkan ketersediaan air.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyampaikan OMC pada 26-31 Juli 2025 terbukti bisa menurunkan hujan di Kabupaten Simalungun yang menjadi target utama.

”Hujan tersebut diharapkan tidak hanya membantu upaya pemadaman lahan yang terbakar, tetapi juga berperan penting dalam membasahi lahan gambut agar tidak mudah terbakar di kemudian hari serta menambah cadangan air di sekitar Danau Toba,” ungkap Seto dalam keterangannya, Selasa (29/7/2025).

Baca juga: Menhut Wanti-wanti Kemarau hingga Awal Agustus, Berpotensi Picu Karhutla

Sejauh ini, BMKG menyemai lima sorti dengan berat 3.300 kilogram NaCl menggunakan pesawat Casa 212 dari Skadron Udara 4 Abdulrachman Saleh Malang. Rute penyemaian mencakup Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Pulau Samosir, dan Kabupaten Asahan.

Seto menjelaskan, OMC digelar berdasarkan permintaan pemerintah daerah untuk mengandalikan karhutla di kawasan vital Geopark Kaldera Toba. Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumut menunjukkan, wilayah tersebut menjadi salah satu area yang paling terdampak.

Desakan lainnya karena Sumut diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada periode Juli-Agustus 2025.

Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, menuturkan teknik OMC melibatkan penyaluran material NaCl ke dalam awan melalui pesawat. Penyemaian akan memicu proses kondensasi dan mempercepat terbentuknya hujan.

“Modifikasi cuaca ini merupakan salah satu bentuk aksi kesiapsiagaan pemerintah dalam mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia,” kata dia.

Modifikasi cuaca tersebut diharapkan bisa menekan jumlah titik panas dan mencegah meluasnya api yang mengancam status Toba Caldera sebagai Unesco Global Geopark.

Baca juga: BMKG: Curah Hujan Riau Sangat Rendah Awal Agustus, Waspada Karhutla

"Keberhasilan operasi ini tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan aset pariwisata strategis nasional, tetapi juga untuk mencegah bencana kabut asap yang lebih besar dan berdampak pada kesehatan masyarakat serta stabilitas ekonomi di Sumatra Utara," jelas Edison.

Sebelumnya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mewanti-wanti karhutla diperkirakan meningkat drastis di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan analisis curah hujan dasarian atau 10 harian, sebagian besar wilayah Riau, Jambi, dan Kalimantan masih berada dalam kategori curah hujan rendah hingga awal Agustus.

Peta potensi kemudahan kebakaran memperlihatkan dominasi warna merah, yang menandakan tingkat kemudahan lahan untuk terbakar sangat tinggi. Artinya, ujar Dwikorita, lahan dapat terbakar secara alami tanpa pemicu eksternal.

Pihaknya lalu memperkirakan musim hujan bakal berlangsung pada Oktober mendatang.

“Musim hujan belum datang. OMC bukan jaminan. Kuncinya adalah patroli ketat, deteksi dini, dan pemadaman cepat,” papar Dwikorita.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau