KOMPAS.com — Koridor habitat harimau di Indonesia kian terfragmentasi, menyempit, bahkan terputus akibat tekanan pembangunan dan alih fungsi lahan.
Kondisi ini mengancam keberlanjutan populasi harimau, baik secara genetik maupun ekologis.
Menurut Febri Widodo, Conservation Science and Innovation Specialist WWF Indonesia, fragmentasi habitat menjadi salah satu dari tiga ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup harimau.
“Jika wilayah jelajah harimau kecil, otomatis daya dukung dan daya tampungnya juga sedikit. Apalagi populasi mangsanya rendah, seperti yang terjadi di Sumatera,” ujar Febri, pada Kompas.com, Rabu (30/7/2025).
Lebih lanjut, Febri menjelaskan bahwa harimau membutuhkan ruang jelajah luas untuk bertahan hidup. Ketika habitat mereka terbelah oleh pembukaan hutan atau aktivitas manusia, ruang gerak mereka semakin terbatas. Kondisi ini makin berat karena populasi mangsa di alam juga terus menurun.
Selain itu, menurut Febri, fragmentasi habitat juga memutus konektivitas antarpopulasi. Harimau yang terisolasi di kantong-kantong kecil tidak dapat berinteraksi atau berkembang biak dengan individu dari wilayah lain.
“Ini bisa menimbulkan inbreeding atau perkawinan sedarah yang menyebabkan penurunan kualitas genetik, cacat fisik, dan daya tahan tubuh yang lemah terhadap penyakit,” jelasnya.
Risikonya bukan hanya gangguan fisik, tetapi juga ancaman kepunahan jangka panjang. Fragmentasi juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan harimau, terutama saat kawasan hutan dibelah oleh jalan, kebun, atau permukiman.
Baca juga: Dampak Berlapis Karhutla, Bunuh Harimau dan Hanguskan Habitatnya
“Sering kali konflik ini berujung pada perburuan atau kematian harimau, yang semakin mengancam populasinya,” ujar Febri.
Untuk menjaga konektivitas habitat, WWF memantau lanskap utama harimau melalui dua indikator, perubahan tutupan hutan (primer dan sekunder) serta perubahan penggunaan lahan, seperti konversi menjadi kebun, sawah, atau infrastruktur.
Di Sumatera, menurut Febri, banyak hutan atau kebun karet semi-alami telah berubah menjadi perkebunan sawit dan bentuk penggunaan lahan yang lebih intensif.
“Fakta di lapangan menunjukkan penyusutan habitat harimau bisa lebih dari 1 persen di beberapa wilayah,” ungkap Febri.
Meskipun di tempat lain penyusutannya kurang dari 1 persen, skalanya tetap signifikan tergantung topografi dan pengelolaan wilayah.
Febri menjelaskan ada dua tipe konektivitas habitat, pertama, koridor satwa berupa jalur semi-permeabel seperti kebun dengan sisa hutan sekunder dan kedua, critical connectivity linkages, yaitu habitat yang benar-benar terputus oleh jalan besar.
Pada wilayah semi-permeabel, pendekatan kolaboratif lebih relevan diterapkan untuk menjaga konektivitas antar habitat.
Baca juga: Ahli IPB: Hukum yang Kurang Bertaring Sebab Harimau Sumatera Kian Terdesak
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya