KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru menemukan bahwa 60 kapal pengangkut gas alam cair (LNG) saat ini tidak beroperasi di seluruh dunia akibat transisi energi terbarukan.
Nilai aset yang 'mangkrak' ini mencapai lebih dari 11,36 miliar dolar AS.
Hal ini pun menunjukkan perlunya industri perkapalan untuk mengevaluasi ulang strategi investasinya seiring dengan pergeseran sistem energi global menuju energi terbarukan.
Temuan tersebut berdasarkan analisis kelompok kebijakan iklim Solutions for Our Climate (SFOC).
Melansir Edie, Jumat (1/8/2025), banyak kapal pengangkut LNG itu dibangun tanpa jaminan kontrak jangka panjang sehingga menciptakan risiko finansial yang besar.
Sebagai gambaran biaya pembuatan setiap kapal rata-rata 194,6 juta dolar AS. Jadi jika tidak beroperasi, total investasi yang tak terpakai bisa mencapai 11,67 miliar dolar AS.
Baca juga: Ironi Energi: Emisi Pecahkan Rekor meskipun Energi Terbarukan Melonjak
Sementara bila kapal-kapal dijual sebagai besi tua, nilainya bakal anjlok drastis. Diperkirakan hanya sekitar 318 juta dolar AS, jauh lebih rendah dari biaya pembuatannya.
Kondisi tersebut membuat sektor perkapalan berhadapan pada risiko kerugian finansial yang sangat besar karena aset mahal mereka tidak menghasilkan uang dan nilai jualnya sangat rendah.
Tarif angkutan juga menurun. Tarif sewa kontrak satu tahun untuk kapal pengangkut LNG modern yang menggunakan mesin tri-fuel diesel electric (TFDE) telah turun menjadi 20.000 dolar AS per hari, yang merupakan penurunan lebih dari 60 persen dari tahun ke tahun.
Bahkan kapal-kapal yang lebih baru dan hemat bahan bakar dengan mesin dua tak (two-stroke engine) hanya menghasilkan 30.000 dolar AS per hari.
Dengan tarif yang mendekati atau di bawah titik impas (breakeven), para operator mulai mengistirahatkan kapal-kapal lebih awal. Sudah ada delapan kapal pengangkut LNG yang dihancurkan pada tahun 2025, menyamai total kapal yang dihancurkan sepanjang tahun 2024.
Meskipun saat ini sudah ada kelebihan pasokan kapal pengangkut LNG, pembangunan kapal-kapal baru tetap berlanjut.
Menurut Clarkson Research, saat ini ada 303 kapal pengangkut LNG yang sedang dibangun di seluruh dunia. Sebanyak 98 kapal dijadwalkan akan selesai pada tahun 2026, dan 98 kapal lainnya pada tahun 2027.
Lebih lanjut, meskipun para ahli mengatakan bahwa penurunan permintaan LNG adalah tren sementara yang diperkirakan akan pulih pada tahun 2026, industri galangan kapal diperingatkan agar tidak memesan kapal pengangkut LNG baru tanpa menilai dengan cermat pertumbuhan permintaan dan kapasitas armada yang sudah ada. Hal ini bertujuan untuk menghindari penurunan struktural.
Baca juga: ASEAN Butuh 100 Miliar Dollar AS untuk Transmisi Energi Terbarukan
Badan Energi Internasional (IEA), dalam Laporan Pasar Gas terbarunya, memproyeksikan perlambatan sementara pertumbuhan permintaan gas alam global dari 2,8 persen pada tahun 2024 menjadi 1,3 persen pada tahun 2025.
Namun, permintaan diperkirakan akan pulih pada tahun 2026, didukung oleh peningkatan pasokan LNG global sebesar 7 persen atau setara dengan 40 miliar meter kubik, seiring dimulainya produksi proyek-proyek baru di AS, Kanada, dan Qatar.
“LNG semakin kalah daya saingnya dengan energi terbarukan, dan era pengangkut bahan bakar fosil akan segera berakhir," ungkap Peneliti rantai pasokan energi SFOC, Rachel Eun-bi Shin.
“Sekalipun kita melihat penyesuaian pasar jangka pendek, industri galangan kapal harus menghindari kesalahan dalam menilai situasi yang dapat menyebabkan kelebihan pasokan pengangkut LNG lebih lanjut,” tambahnya.
Pasalnya, penurunan yang diperkirakan, yang sering disebut sebagai "jeram pesanan", dapat memengaruhi stabilitas keuangan di sektor ini. Beberapa pihak pun menyerukan peralihan ke jenis kapal yang lebih beragam dan rendah emisi.
Baca juga: Ember Energy: Katanya Dunia Mau Gas Energi Bersih, Nyatanya Cuma Naik 2 Persen
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya