JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Program Studi Teknik Fisika Universitas Multimedia Nusantara, Rahmi Andarini, menyoroti bahwa transportasi publik belum bisa memenuhi kebutuhan penumpangnya. Hal ini dikarenakan akses transportasi umum yang tak sepenuhnya terintegrasi.
Penumpang mau tak mau harus berpindah-pindah atau transit, dan justru menyebabkan ongkos menjadi lebih mahal. Selain itu, fasilitas seperti halte serta terminal mssih belum memadai.
"Yang lebih penting adalah bahwa sistem public transport masih mengabaikan kebutuhan dari penumpang wanita, lansia, dan disabilitas," ujar Rahmi dalam acara di Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025).
Alhasil, banyak orang lebih memilih menumpangi kendaraan pribadi ataupun ojek online. Rahmi dan timnya lantas menyurvei penumpang yang melintasi jalur Palur, Solo, Jawa Tengah.
Baca juga: Dari New York ke Jakarta, Apa Kata Pakar soal Bus Listrik dan Emisi Gas Rumah Kaca?
Mereka mengukur parameter kenyamanan udara, temperatur, kelembapan, kondisi terminal, serta tingkat polusinya. Mayoritas responden ialah perempuan.
Survei yang dilakukan di Terminal Palur menunjukkan kenyamanan terminal masih jauh dari ideal. Sebab, terminal dibiarkan terbuka tanpa pendingin udara dan penghalang sinar matahari, tempat duduk minim, tidak terawat, kurangnya pencahayaan, serta kurangnya toilet bersih, hingga ruang ibadah.
"76 persen menyatakan bahwa cukup nyaman kondisi terminalnya. Dari beberapa temuan itu sebisa mungkin ada shading untuk mengurangi panas matahari ke dalam ruangan terminal," jelas Rahmi.
"Memperbaiki kondisi tempat duduk kebersihannya, dan lighting, karena kami tidak menemukan sumber listrik waktu itu," imbuh dia.
Baca juga: Bus Listrik Bisa Pangkas Emisi GRK, tetapi Berpotensi Jadi Proyek FOMO
Sementara itu, salah satu penyandang tunanetra dari Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), mengakui sejauh ini fasilitas transportasi umum termasuk bus listrik belum ramah untuk disabilitas.
Di Transjakarta, misalnya, tak selalu ada petugas yang berjaga untuk membantu mereka ketika menumpangi bus.
"Jadi sebagai disabilitas netra, itu salah satu hal yang bisa menghambat dalam kami menggunakan transportasi publik. Tidak hanya di bus, tetapi di haltenya pun kadang untuk petugasnya enggak banyak, kecuali di jam-jam sibuk," tutur dia.
Lainnta, akses penanda jalan untuk mereka juga kerap rusak. Sehingga, dia meminta ada perbaikan kenyamanan, keamanan, maupun ketersediaan petugas di setiap halte dan bus.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya