Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bus Makin Modern tetapi Belum Inklusif, Perempuan dan Disabilitas Terpinggirkan

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 18:31 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Program Studi Teknik Fisika Universitas Multimedia Nusantara, Rahmi Andarini, menyoroti bahwa transportasi publik belum bisa memenuhi kebutuhan penumpangnya. Hal ini dikarenakan akses transportasi umum yang tak sepenuhnya terintegrasi.

Penumpang mau tak mau harus berpindah-pindah atau transit, dan justru menyebabkan ongkos menjadi lebih mahal. Selain itu, fasilitas seperti halte serta terminal mssih belum memadai. 

"Yang lebih penting adalah bahwa sistem public transport masih mengabaikan kebutuhan dari penumpang wanita, lansia, dan disabilitas," ujar Rahmi dalam acara di Jakarta Pusat, Selasa (5/8/2025).

Alhasil, banyak orang lebih memilih menumpangi kendaraan pribadi ataupun ojek online. Rahmi dan timnya lantas menyurvei penumpang yang melintasi jalur Palur, Solo, Jawa Tengah.

Baca juga: Dari New York ke Jakarta, Apa Kata Pakar soal Bus Listrik dan Emisi Gas Rumah Kaca?

Mereka mengukur parameter kenyamanan udara, temperatur, kelembapan, kondisi terminal, serta tingkat polusinya. Mayoritas responden ialah perempuan. 

Survei yang dilakukan di Terminal Palur menunjukkan kenyamanan terminal masih jauh dari ideal. Sebab, terminal dibiarkan terbuka tanpa pendingin udara dan penghalang sinar matahari, tempat duduk minim, tidak terawat, kurangnya pencahayaan, serta kurangnya toilet bersih, hingga ruang ibadah.

"76 persen menyatakan bahwa cukup nyaman kondisi terminalnya. Dari beberapa temuan itu sebisa mungkin ada shading untuk mengurangi panas matahari ke dalam ruangan terminal," jelas Rahmi.

"Memperbaiki kondisi tempat duduk kebersihannya, dan lighting, karena kami tidak menemukan sumber listrik waktu itu," imbuh dia.

Baca juga: Bus Listrik Bisa Pangkas Emisi GRK, tetapi Berpotensi Jadi Proyek FOMO

Sementara itu, salah satu penyandang tunanetra dari Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), mengakui sejauh ini fasilitas transportasi umum termasuk bus listrik belum ramah untuk disabilitas.

Di Transjakarta, misalnya, tak selalu ada petugas yang berjaga untuk membantu mereka ketika menumpangi bus.

"Jadi sebagai disabilitas netra, itu salah satu hal yang bisa menghambat dalam kami menggunakan transportasi publik. Tidak hanya di bus, tetapi di haltenya pun kadang untuk petugasnya enggak banyak, kecuali di jam-jam sibuk," tutur dia.

Lainnta, akses penanda jalan untuk mereka juga kerap rusak. Sehingga, dia meminta ada perbaikan kenyamanan, keamanan, maupun ketersediaan petugas di setiap halte dan bus.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau