JAKARTA, KOMPAS.com - Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Sumatera Selatan, berupaya menjaga populasi gajah sumatera melalui program pengembangbiakan atau breeding. Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengungkapkan konservasi dilakukan secara eks situ maupun in situ.
"Salah satu program kunci adalah keberadaan Pusat Latihan Gajah (PLG), yang telah menjalankan program pengembangbiakan gajah sumatera secara aktif," kata Zaidi saat dihubungi, Selasa (5/8/2025).
Pusat latihan tersebut menjadi lokasi pengelolaan gajah jinak dan semi liar, serta tempat perkembangbiakan alami.
Zaidi menyebut, beberapa anak gajah lahir di PLG, menunjukkan keberhasilan menjaga populasi melalui pendekatan yang terkontrol dan terintegrasi.
Baca juga: 261 Gajah Hidup di Way Kambas, Konservasi Berlanjut di Tengah Ancaman
"Gajah-gajah di sini dirawat dengan pendekatan medis dan etologi atau perilaku satwa yang sesuai, serta dipantau kesehatannya secara rutin oleh dokter hewan dan pawang gajah," tutur dia.
Selain itu, TNWK juga mengembangkan Elephant Response Unit (ERU), untuk meredam konflik gajah dengan manusia di sekitar kawasan sekaligus mengamankan habitat.
"Keberadaan ERU tidak hanya efektif dalam mengurangi konflik, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap upaya breeding karena kondisi gajah jinak yang sehat, terawat, dan berada dalam lingkungan yang mendukung reproduksi," imbuh Zaidi.
Sepanjang 2024, satu ekor anak gajah sumatera lahir di Taman Nasional Way Kambas yakni pada 26 Februari 2024. Sedangkan pada 2023, tercatat tiga bayi gajah sumatera lahir di lokasi tersebut.
"Humlah gajah liar di TNWK diperkirakan mencapai sekitar 160-180 individu dan gajah captive yang berada di PLG dan ERU sekitar 61 individu pada tahun 2024," jelas Zaidi.
Baca juga: 90.000 Hektare, Lahan HTI Prabowo Bisa Dukung Konservasi Gajah dengan Pengelolaan Baik
Di sisi lain, fragmentasi habitat memicu gajah lebih rentan berkonflik dengan manusia. Pasalnya, hewan ini kerap berkeliling lalu memasuki lahan yang telah dibuka untuk permukiman.
Zaidi menyebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi ancaman serius bagi gajah sumatera.
"Karhutla tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga memaksa satwa keluar dari habitat alaminya. Oleh karena itu, mitigasi karhutla menjadi prioritas penting dalam strategi konservasi gajah saat ini," papar dia.
Pihaknya lantas berpatroli secara rutin, melakukan early warning system, bekerja sama dengan TNI/Polri, serta masyarakat guna pemadaman dini karhutla.
Tantangan konservasi lainnya ialah perburuan, pendanaan dan sumber daya manusia terbatas untuk patroli, pengawasan, serta pengelolaan habitat. Kemudian, perubahan iklim yang berpengaruh pada ketersediaan air maupun sumber makanan.
"Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, mitra NGO, dan akademisi, tantangan ini dapat diatasi secara bertahap melalui pendekatan konservasi partisipatif," ucap Zaidi.
Baca juga: Pakar Satwa Liar Ungkap, Lahan HTI Prabowo Perlu Restorasi agar Jadi Rumah Nyaman bagi Gajah
Balai TNWK juga melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata berbasis lanskap dan gajah. Wisata edukatif, interpretasi gajah liar, dan pelatihan pemandu lokal dilakukan di sejumlah lokasi penyangga TNWK.
"Keterlibatan masyarakat ini tidak hanya membantu mengurangi tekanan terhadap kawasan, tetapi juga menciptakan jejaring sosial yang mendukung konservasi jangka panjang," tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya