Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jaga Populasi, TN Way Kambas Gencarkan "Breeding" Gajah Sumatera

Kompas.com, 6 Agustus 2025, 11:45 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Sumatera Selatan, berupaya menjaga populasi gajah sumatera melalui program pengembangbiakan atau breeding. Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengungkapkan konservasi dilakukan secara eks situ maupun in situ.

"Salah satu program kunci adalah keberadaan Pusat Latihan Gajah (PLG), yang telah menjalankan program pengembangbiakan gajah sumatera secara aktif," kata Zaidi saat dihubungi, Selasa (5/8/2025).

Pusat latihan tersebut menjadi lokasi pengelolaan gajah jinak dan semi liar, serta tempat perkembangbiakan alami.

Zaidi menyebut, beberapa anak gajah lahir di PLG, menunjukkan keberhasilan menjaga populasi melalui pendekatan yang terkontrol dan terintegrasi.

Baca juga: 261 Gajah Hidup di Way Kambas, Konservasi Berlanjut di Tengah Ancaman

"Gajah-gajah di sini dirawat dengan pendekatan medis dan etologi atau perilaku satwa yang sesuai, serta dipantau kesehatannya secara rutin oleh dokter hewan dan pawang gajah," tutur dia.

Selain itu, TNWK juga mengembangkan Elephant Response Unit (ERU), untuk meredam konflik gajah dengan manusia di sekitar kawasan sekaligus mengamankan habitat.

"Keberadaan ERU tidak hanya efektif dalam mengurangi konflik, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap upaya breeding karena kondisi gajah jinak yang sehat, terawat, dan berada dalam lingkungan yang mendukung reproduksi," imbuh Zaidi.

Sepanjang 2024, satu ekor anak gajah sumatera lahir di Taman Nasional Way Kambas yakni pada 26 Februari 2024. Sedangkan pada 2023, tercatat tiga bayi gajah sumatera lahir di lokasi tersebut.

"Humlah gajah liar di TNWK diperkirakan mencapai sekitar 160-180 individu dan gajah captive yang berada di PLG dan ERU sekitar 61 individu pada tahun 2024," jelas Zaidi.

Baca juga: 90.000 Hektare, Lahan HTI Prabowo Bisa Dukung Konservasi Gajah dengan Pengelolaan Baik

Fragmentasi dan Karhutla

Di sisi lain, fragmentasi habitat memicu gajah lebih rentan berkonflik dengan manusia. Pasalnya, hewan ini kerap berkeliling lalu memasuki lahan yang telah dibuka untuk permukiman.

Zaidi menyebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi ancaman serius bagi gajah sumatera.

"Karhutla tidak hanya menghancurkan vegetasi, tetapi juga memaksa satwa keluar dari habitat alaminya. Oleh karena itu, mitigasi karhutla menjadi prioritas penting dalam strategi konservasi gajah saat ini," papar dia.

Pihaknya lantas berpatroli secara rutin, melakukan early warning system, bekerja sama dengan TNI/Polri, serta masyarakat guna pemadaman dini karhutla.

Tantangan konservasi lainnya ialah perburuan, pendanaan dan sumber daya manusia terbatas untuk patroli, pengawasan, serta pengelolaan habitat. Kemudian, perubahan iklim yang berpengaruh pada ketersediaan air maupun sumber makanan.

"Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, mitra NGO, dan akademisi, tantangan ini dapat diatasi secara bertahap melalui pendekatan konservasi partisipatif," ucap Zaidi.

Baca juga: Pakar Satwa Liar Ungkap, Lahan HTI Prabowo Perlu Restorasi agar Jadi Rumah Nyaman bagi Gajah

Balai TNWK juga melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan ekowisata berbasis lanskap dan gajah. Wisata edukatif, interpretasi gajah liar, dan pelatihan pemandu lokal dilakukan di sejumlah lokasi penyangga TNWK.

"Keterlibatan masyarakat ini tidak hanya membantu mengurangi tekanan terhadap kawasan, tetapi juga menciptakan jejaring sosial yang mendukung konservasi jangka panjang," tutur dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
KLH Identifikasi Hutan di Aceh Dibuka untuk Sawit dan Tambang Ilegal
Pemerintah
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Menjaga Bumi Nusantara Melalui Kearifan Lokal
Pemerintah
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
LSM/Figur
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pemerintah
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Pemerintah
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Pemerintah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
LSM/Figur
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau