Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dedy Iskandar
Yayasan Konservasi Indonesia

Sumatra Policy Manager Konservasi Indonesia

Batang Toru dan Ujian Keberlanjutan di Sumatra Utara

Kompas.com, 6 Agustus 2025, 14:43 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ekosistem Batang Toru di Tapanuli Selatan adalah lanskap yang memuat salah satu warisan hayati terpenting di Indonesia, bahkan dunia.

Terbentang seluas sekitar 240.000 hektare, kawasan ini merupakan hutan hujan tropis terakhir di barat daya Sumatra yang menjadi habitat spesies langka seperti orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), dan beruang madu.

Batang Toru adalah satu-satunya wilayah di dunia di mana ketiga spesies kunci ini hidup berdampingan dalam satu ekosistem.

Baca juga: Harapan Orangutan di Tengah Ancaman Kepunahan: Sains, Politik, Publik

Namun, alih-alih menjadi kawasan prioritas perlindungan, Batang Toru justru menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

Fragmentasi Habitat

Dalam lima tahun terakhir, fragmentasi habitat akibat ekspansi kebun sawit, kopi, pertambangan, dan infrastruktur telah memperburuk kondisi ekologis kawasan ini. Akibatnya, kejadian bencana hidrologi seperti banjir dan longsor semakin sering melanda masyarakat sekitar.

Habitat satwa terpecah, populasi menjadi terisolasi, dan potensi kepunahan spesies pun meningkat drastis.

Conservation International Indonesia dalam risetnya pada pada 2021, mendata sekitar 40 persen masyarakat di sekitar ekosistem Batang Toru menggantungkan hidup dari produk hutan seperti kayu, buah liar, madu, ikan sungai, hingga rempah-rempah.

Hubungan antara masyarakat dan hutan bersifat struktural dan historis. Sistem irigasi lokal yang dikenal sebagai hatabosi dan aturan adat Harangan Rarangan, yang melarang penebangan pohon secara sembarangan, menunjukkan bahwa nilai konservasi telah lama tertanam dalam budaya lokal.

Baca juga: Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Riau, Dinamai Ade

Namun, relasi ekologis ini mulai tergerus oleh tekanan ekonomi dan pembangunan yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

Untuk menguatkan upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem Batang Toru, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara membentuk Kelompok Kerja Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No. 188.44/156/KPTS/2025.

Langkah ini sejalan dengan mandat Inpres No. 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati.

Kebijakan yang Mampu Ubah Situasi

Tetapi, persoalan pokoknya bukan pada niat administratif, melainkan pada seberapa jauh kebijakan ini memiliki kekuatan politik, hukum, dan anggaran untuk mengubah situasi lapangan.

Konservasi Indonesia telah mendorong pentingnya pembangunan koridor satwa yang menghubungkan blok hutan barat dan timur Batang Toru.

Tanpa konektivitas lanskap ini, populasi orangutan Tapanuli yang diperkirakan hanya tersisa sekitar 800 individu akan menghadapi tekanan genetik dan habitat yang tidak memadai. Jika tren ini berlanjut, proyeksi penurunan populasi akan menjadi tak terhindarkan.

Sayangnya, pembangunan infrastruktur seperti jalan dan pembangkit listrik justru mempercepat fragmentasi tersebut.

Sebagaimana diketahui, visi pembangunan Sumatra Utara dalam lima tahun ke depan mengusung semangat “Kolaborasi Sumut Berkah menuju Sumatra Utara yang Unggul, Maju, dan Berkelanjutan”.

Baca juga: PLTA Batang Toru Beroperasi Akhir Tahun, Pasok Listrik Bersih Sumatera

Namun, semangat tersebut akan lebih berarti dengan adanya revisi terhadap model ekonomi ekstraktif dan keberpihakan yang tegas terhadap perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi. Dengan demikian, konsep keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon dalam dokumen perencanaan.

Batang Toru dan Keberanian Berpihak

Batang Toru adalah cermin dari pilihan moral dan arah pembangunan kita: apakah kita membiarkan lanskap kritis ini terkikis oleh kompromi politik dan ekonomi, atau kita memilih keberanian untuk menata ulang relasi antara manusia, alam, dan negara.

Konservasi bukan hanya soal menyelamatkan satwa langka, melainkan tentang menjaga sistem kehidupan yang menopang masyarakat, menjaga air, pangan, dan iklim yang stabil.

Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Model pengelolaan terpadu yang inklusif dan kolaboratif harus tetap melibatkan masyarakat adat, akademisi, lembaga lingkungan, dan sektor swasta progresif yang bernaung dalam satu kerangka kebijakan yang mengikat dan menuju pada tujuan dan target pengelolan ekosistem Batang Toru yang lebih baik.

Karenanya, perlu ada komitmen untuk membangun skema pembiayaan berkelanjutan, memperkuat dasar hukum perlindungan ekosistem, dan memastikan bahwa partisipasi masyarakat bukan sekadar simbolik.

Sumatra Utara memiliki kesempatan untuk menjadi contoh. Tetapi kesempatan ini hanya akan bermakna jika disertai dengan keputusan sulit yakni menolak proyek yang merusak dan berani menyusun ulang prioritas pembangunan.

Batang Toru sedang menguji keberanian itu. Apakah kita siap menjawabnya?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau