BOGOR. KOMPAS.com – Mulai dari menyantap sarapan, mengendarai kendaraan pribadi menuju bandara, hingga naik pesawat untuk perjalanan bisnis, setiap aktivitas sehari-hari terhubung erat dengan kelapa sawit.
Di sela-sela aktivitas itu, seseorang juga menggunakan sabun dan sampo serta mengonsumsi camilan kemasan.
Kelapa sawit yang selama ini dikenal luas sebagai bahan baku minyak goreng sejatinya memiliki kontribusi jauh melampaui dapur rumah tangga.
Di balik wujudnya yang sederhana, sawit menyimpan potensi besar sebagai pilar gaya hidup modern yang ramah lingkungan lantaran juga menjadi sumber energi yang lebih bersih.
"Sawit adalah sumber energi terbarukan yang sangat potensial. Dari satu tanaman, kita bisa mendapatkan beragam bentuk energi," ujar pakar surfaktan dan bioenergi di Surfactant and Bioenergy Research Center Institut Pertanian Bogor (IPB) Erliza Hambali saat ditemui di rumahnya di bilangan Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025).
Ia merinci, salah satu bentuk energi itu adalah biodiesel B35. Seperti diketahui, program B35 resmi berlaku pada 1 Februari 2023.
Lewat B35, pemerintah memaksimalkan CPO untuk menghasilkan bahan bakar dengan campuran 35 persen biodiesel dengan 65 persen solar. Inisiatif ini merupakan bagian dari kebijakan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menghemat devisa.
Selain biodiesel, Indonesia juga tengah mengembangkan bioavtur, yakni bahan bakar pesawat terbang berbasis sawit.
Uji coba penerbangan dengan campuran bioavtur telah dilakukan oleh Garuda Indonesia dan PT Dirgantara Indonesia. Meski tantangan produksi dan biaya masih besar, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius menjajaki energi terbarukan dari sawit hingga ke langit.
Tak hanya itu, limbah kelapa sawit, seperti palm oil mill effluent (POME), juga bisa diolah menjadi biogas yang dapat mengurangi emisi hingga 65 persen jika ditangani dengan baik.
“Bahkan, cangkang sawit tengah diteliti sebagai bahan pembuat biochar, yaitu bahan penyimpan energi yang dapat digunakan dalam baterai ponsel, laptop, dan mobil listrik,” terang Erliza.
Baca juga: Dari Desa ke Devisa, Menakar Peran Sawit untuk Negeri
Dengan beragam inovasi tersebut, kelapa sawit tak hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam menekan emisi karbon. Potensi ini sekaligus memperkuat peran sawit dalam mendukung pencapaian target net-zero emission (NZE) nasional.
Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono mengatakan bahwa pihaknya tengah memperluas fokus dari sekadar penyerap CPO melalui biodiesel ke penguatan sektor hilir yang berbasis riset dan inovasi.
"Kami membiayai penelitian untuk produk bio-hydrocarbon fuel, bioplastik, bioavtur, bahkan helm dari tandan kosong sawit," kata Lupi dalam wawancara eksklusif di kantor BPDP Jakarta, Senin (28/7/2025).
Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP Lupi Hartono. Salah satu arah baru yang juga didorong BPDP adalah konversi limbah sawit menjadi produk hijau. Tandan kosong, misalnya, bisa diolah menjadi bioethanol, biomaterial, dan komposit teknis.
"Kami mendukung pilot project refinery untuk bio-hydrocarbon fuel dengan RON 110 dari minyak sawit," jelas Lupi.
Secara efisiensi, kelapa sawit juga unggul jauh ketimbang tanaman minyak lain, seperti kedelai, bunga matahari, atau jagung.
Satu hektare lahan sawit dapat menghasilkan minyak lebih banyak. Pohon sawit pun hanya perlu ditanam sekali untuk masa panen hingga 25 tahun. Biaya produksinya juga lebih murah.
“Sawit cocok dengan pola hidup kita (orang Indonesia) yang suka menggoreng dan membutuhkan minyak dalam jumlah besar. Tapi sekarang, sawit juga bisa menjadi solusi energi yang lebih hijau,” ucap Erliza.
Tak heran, Indonesia pun menjelma sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Dari jumlah minyak sawit dunia yang telah tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sekitar 56 persen merupakan minyak sawit yang diproduksi dan berasal dari Tanah Air.
Meski memiliki potensi besar, industri sawit tidak lepas dari sorotan negatif. Isu deforestasi, kerusakan lingkungan, dan ancaman keanekaragaman hayati kerap dikaitkan dengan perkebunan sawit.
Menurut Erliza, sebagian besar stigma ini berasal dari narasi yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan tertentu.
“Yang penting (narasi) itu (harus) basisnya data, bukan katanya. Edukasi publik harus dimulai dari fakta ilmiah, bukan opini dari media sosial,” tegasnya.
Baca juga: Dari Kebun ke Dapur, Ini Kisah Petani Swadaya Sawit dalam Rantai Pangan Indonesia
Dia tak menampik bahwa beberapa praktik perkebunan belum sepenuhnya berkelanjutan akibat lemahnya pengawasan, inkonsistensi kebijakan, dan ketidakpastian hukum.
Untuk itu, tata kelola yang kuat, regulasi yang adil, serta penegakan hukum yang konsisten menjadi syarat mutlak agar sawit bisa bertransformasi menjadi energi bersih yang bisa dibanggakan.
“Pemerintah juga perlu memastikan kepastian hukum dan regulasi yang tidak diskriminatif. Legalitas lahan, konsistensi izin, dan keadilan dalam penegakan hukum menjadi fondasi penting dalam tata kelola sawit berkelanjutan,” jelas Erliza.
Pakar surfaktan dan bioenergi di Surfactant and Bioenergy Research Center IPB Erliza HambaliKeberhasilan transformasi energi berbasis sawit juga sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Mulai dari petani, koperasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), mahasiswa, hingga media, semua harus dilibatkan.
Selain itu, komunitas kreatif pengolah limbah sawit dan industrialisasi hilir berbasis bioenergi bisa dikembangkan.
Sementara itu, dunia akademik tetap menjadi tulang punggung riset dan inovasi. IPB sendiri telah terlibat dalam pengembangan indikator keberlanjutan energi berbasis sawit bersama FAO sejak 2012. Hasilnya menunjukkan bahwa biodiesel sawit dapat dikategorikan berkelanjutan secara lingkungan ataupun sosial.
Erliza menilai, mengedukasi publik tentang sawit juga harus dilakukan dengan pendekatan baru—bukan hanya logika data, melainkan juga emosi.
“Kampanye sawit keren perlu digaungkan, terutama untuk generasi muda. Misalnya dengan narasi seperti ‘Baterai ponselmu tahan lama karena materialnya dari cangkang sawit’, ‘sate yang kamu makan dimasak dengan briket dari limbah sawit’, atau ‘pesawat yang kamu tumpangi bisa lebih hijau karena bioavtur dari sawit’,” ucap Erliza.
Menurutnya, dengan pendekatan yang relatable, publik akan lebih mudah menerima sawit sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan sebagai simbol inovasi dan kebanggaan nasional.
“Gaya hidup modern tak harus bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Justru, dengan pendekatan yang tepat, sawit bisa menjadi kunci menuju masa depan energi hijau yang inklusif, mandiri, dan membanggakan,” kata Erliza.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya