KOMPAS.com - Meta tengah menguji coba penggunaan kayu rekayasa (mass timber) untuk mengurangi emisi karbon yang terkandung dalam konstruksi pusat data baru.
Proyek tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai emisi nol bersih (net zero) di seluruh rantai nilainya pada tahun 2030.
Melansir ESG News, Selasa (5/8/2025), Meta mencatat bahwa untuk mengurangi emisi konstruksi, diperlukan alternatif bahan yang lebih rendah karbon dibandingkan bahan konvensional seperti beton dan baja struktural.
Untuk itu berupaya menggunakan mass timber sebagai alternatif bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan.
Mass timber sendiri merujuk pada produk kayu rekayasa, seperti balok dan kolom kayu laminasi (glulam), kayu lapis massal, rakitan dinding kayu, dan kayu laminasi silang (CLT).
Baca juga: Ide Pusat Data Masa Depan: Di Laut, Pakai Energi Angin, Hemat Listrik
Bahan ini dibuat dengan merekatkan atau mengikat beberapa lapisan kayu menjadi satu, menghasilkan balok, kolom, atau panel yang besar dan padat.
Produk-produk ini dirancang untuk aplikasi industri, termasuk pusat data dan bahkan gedung-gedung bertingkat tinggi. Kayu ini menawarkan emisi karbon yang terkandung (embodied carbon) lebih rendah daripada banyak material rekayasa lainnya.
Ini karena bahan biologis yang bersumber secara berkelanjutan dapat menyimpan karbon yang diserap selama proses pertumbuhannya.
Tahun ini, Meta mulai menguji kayu rekayasa di lokasi-lokasi pusat datanya. Gedung administrasi dengan menggunakan kayu rekayasa pertama dibangun di kampus Aiken, South Carolina.
Menyusul pembangunan gedung-gedung tambahan di Cheyenne, Wyoming dan di Montgomery, Alabama.
Di masa mendatang, Meta juga akan menerapkan kayu rekayasa untuk bangunan administrasi, gudang, dan ruang data penting yang menjadi tempat server yang mendukung platform mereka.
Meta memperkirakan bahwa penggunaan kayu rekayasa pada gedung administrasinya mampu mengurangi karbon sekitar 41 persen.
Selain mengurangi karbon, keuntungan lain pun bisa didapat. Karena produk kayu massal sebagian besar dibuat di pabrik, kebutuhan akan pengelasan baja di lokasi proyek berkurang, jadwal pembangunan bisa lebih cepat hingga beberapa minggu, dan emisi dari proses konstruksi konvensional dapat dihilangkan.
Kayu rekayasa juga dapat memangkas kebutuhan beton untuk fondasi bahkan hingga separuhnya sehingga menghemat biaya dan mengurangi emisi dari pengecoran beton.
Baca juga: Pusat Data Rentan Bencana Iklim, Kerugian Bisa Capai Miliaran Dolar
Kayu rekayasa dapat pula direkayasa hingga memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang lebih tinggi daripada baja, menjadikannya pilihan yang kuat dan cocok untuk pusat data.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya