Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Harimau Merasa “Ketagihan” Memangsa Manusia ketimbang Satwa?

Kompas.com, 8 Agustus 2025, 13:56 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Koeksistensi antara manusia dan satwa liar utamanya harimau diperlukan agar tercapai hubungan yang harmonis antara manusia dan hewan liar di lingkungan yang sama.

Ini diperlukan untuk mengurangi konflik dan memungkinkan kedua belah pihak untuk hidup berdampingan dengan aman dan berkelanjutan.

Executive Director Belantara Foundation Dolly Priatna menjelaskan perluasan aktivitas ekonomi telah menyebabkan penyusutan dan fragmentasi habitat hutan. Hal ini memaksa harimau memasuki wilayah yang lebih dekat dengan permukiman manusia.

Baca juga: Kronologi Petani Tewas Dimangsa Harimau di Lampung, Sedang Sendirian di Kebun

"Akibatnya, intensitas konflik antara manusia dengan harimau meningkat, yang tidak jarang berakhir dengan kerugian di kedua belah pihak, baik secara ekonomi maupun ekologis. Dalam konteks ini, hidup berdampingan secara harmonis atau koeksistensi tidak lagi bisa dianggap sebagai gagasan idealistis, melainkan sebagai sebuah keharusan," jelasnya saat berkunjung ke kantor Kompas.com, Jumat (8/8/2025).

Seiring dengan upaya untuk hidup berdampingan ini, masyarakat pun juga harus paham dengan perilaku harimau.

Untuk mencegah serangan harimau, kata dia, manusia perlu memahami perilakunya. Misalnya, harimau selalu menerkam tengkuk, sehingga disarankan untuk tidak beristirahat dengan posisi membuka bagian itu.

"Jadi, yang perlu kita pahami itu perilakunya, harimau itu seperti kucing ya, kalau ada bola dilempar dia mau ya, jadi ketika orang berhadapan dengan harimau kemudian lari, insting harimau itu akan mengejarnya," jelas Dolly.

Baca juga: WWF: Koridor Harimau Terputus, Dampak Genetik dan Ekologinya Serius

Selain itu, harimau juga tidak mungkin menyerang mangsa dan manusia langsung dari depan. Satwa liar ini membutuhkan objek tertentu seperti pohon, untuk mengintai dan menyergap mangsanya.

Harimau Memangsa Manusia dan Mitigasinya

Dalam kesempatan itu, Dolly juga mengungkapkan bahwa harimau yang pernah memangsa manusia akan terus berusaha mencari mangsa manusia lain. Hal ini karena harimau merasa "ketagihan".

Dolly menyatakan perilaku harimau yang pernah memangsa manusia itu lantaran satwa tersebut menganggap manusia sebagai mangsa utama ketimbang hewan ternak maupun satwa lainnya.

"Karena itu, jika ada harimau yang sudah pernah memangsa manusia, harus dievakuasi," ujar Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna di Jakarta, Jumat (8/8/2025).

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan harimau memangsa manusia. Salah satunya adalah saat posisi manusia lebih rendahdari harimau.

"Sering terjadi dalam kasus orang menyergap harimau itu ketika dia buang air di sungai, jongkok, posisinya tidak lebih tinggi dari harimau," ucapnya.

Baca juga: Konservasi Harimau Sumatera Perlu Arah Jelas, SRAK Urgent Diterbitkan

Namun jika ada orang yang berposisi lebih tinggi, harimau akan enggan menyerang. Hal ini juga telah menjadi kearifan lokal dalam berbagai masyarakat.

Karena itu, dia menyarankan jika sedang berada di hutan, sebisa mungkin masyarakat tidak berposisi jongkok. Selain itu, harus ada orang lain yang menemani ketika masuk ke hutan untuk mengantisipasi serangan harimau dari belakang.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau