KOMPAS.com - Beberapa bagian dari Great Barrier Reef telah mengalami penurunan penutupan karang hidup tahunan terburuk dalam kurun waktu hampir empat puluh tahun terakhir.
Australian Institute of Marine Science (AIMS), sebuah lembaga sains kelautan, menyatakan bahwa dua dari tiga area yang dipantau oleh para peneliti sejak tahun 1986 telah mengalami penurunan karang pada tahun ini.
Penurunan tutupan karang ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan panas akibat perubahan iklim.
Tekanan panas ini telah memicu peristiwa pemutihan massal, yang diperparah oleh siklon, banjir, dan wabah bintang laut berduri.
Temuan terbaru ini merupakan peringatan bahwa Great Barrier Reef menghadapi masa depan yang "tidak stabil" dan mungkin mencapai "titik di mana tidak dapat pulih".
Baca juga: Mengapa Terumbu Karang yang Cantik Mendorong Konservasi yang Lebih Kuat
Great Barrier Reef, yang terletak di lepas pantai timur laut Australia, merupakan sistem terumbu karang hidup terbesar di dunia dan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini.
Membentang sepanjang 2.400 km di lepas pantai Queensland, kawasan ini terdiri dari ribuan terumbu karang dan ratusan pulau yang terbuat dari lebih dari 600 jenis karang keras dan lunak.
Melansir Independent, Rabu (6/8/2025) AIMS menyurvei 124 terumbu karang antara Agustus 2024 hingga Mei 2025. Hasilnya, mereka menemukan bahwa tutupan karang telah menurun tajam setelah gelombang panas laut yang memecahkan rekor pada tahun 2024. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran besar tentang masa depan keajaiban alam tersebut.
"Kami kini melihat peningkatan volatilitas (ketidakstabilan) pada tingkat penutupan karang keras," ungkap Mike Emslie, kepala program pemantauan jangka panjang di lembaga tersebut.
"Ini adalah fenomena yang muncul selama 15 tahun terakhir dan menunjukkan ekosistem yang sedang tertekan," katanya lagi.
AIMS mengatakan pemutihan karang massal yang berulang semakin sering terjadi seiring dengan pemanasan global.
Pemutihan karang adalah respons stres di mana karang mengeluarkan alga yang memberi mereka warna dan energi, berubah menjadi putih karena air tempat mereka hidup terlalu panas dan berisiko mati jika kondisinya tidak membaik.
Baca juga: Tambang Ganggu Ekosistem Terumbu Karang, Ancam Ikan Napoleon
Pemutihan massal sangat jarang terjadi sebelum tahun 1990-an. Dua peristiwa pemutihan massal besar pertama baru tercatat pada tahun 1998 dan 2002.
Pada tahun-tahun berikutnya, AIMS mencatat, Great Barrier Reef telah mengalami tingkat tekanan panas yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menyebabkan pemutihan paling luas dan parah secara spasial yang tercatat hingga saat ini.
"Ini adalah pertama kalinya kami melihat dampak pemutihan yang substansial di wilayah selatan yang menyebabkan penurunan tahunan terbesar sejak pemantauan dimulai", papar Emslie.
Setelah peristiwa pemutihan massal terakhir pada tahun 2024, survei udara menunjukkan sekitar tiga perempat dari 1.080 terumbu karang yang dinilai mengalami pemutihan. Dan pada 40 persen terumbu karang tersebut, lebih dari separuh karang telah memutih.
Baca juga: KKP Siapkan Peta Nasional Terumbu Karang dan Padang Lamun, Diluncurkan Akhir 2025
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya