JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencapai 8.594 hektare (ha) pada Januari-Juli 2025. Mengutip laman Sipongi, Senin (11/8/2025), karhutla paling banyak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan luasan 1.424 ha.
Kemudian disusul Kalimantan Barat 1.149 ha, Riau 751 ha, Nusa Tenggara Barat 662 ha. Lalu Sumatera Barat seluas 511 ha, Sulawesi Selatan 474 ha, Maluku 421 ha, Aceh 354 ha, Kalimantan Timur 331 ha, Sumatera Utara 309 ha, serta Sulawesi Tengah 302 ha.
Dalam lima tahun terakhir, dari 2020-Juli 2025 angka karhutla cenderung menurun. Pada 2020 total luasan mencapai 296.942 ha. Lalu 2021 (358.867 ha) 2022 (204.894 ha), 2023 (1.161.192), serta 2024 mencapai 378.805 ha.
Sebelumnya, Sekretaris Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Kemenhut, Lukita Awang, mengungkapkan ada 854 titik panas atau hotspot tercatat sepanjang 2025.
Baca juga: Perusahaan Sawit Disegel karena Picu Karhutla 1.514 Ha di Kalsel
"Memang titik kebakaran dimulai pada Juli sampai November. Untuk itu tim kami, bahkan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran berusaha untuk tim agar ada di lapangan," kata Lukita dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (23/7/2025).
Berdasarkan jenis tanah, 80,15 persen lahan yang terbakar adalah gambut dan sisanya lahan mineral. Sedangkan berdasarkan jenis tutupan lahan, 93,93 persen terjadi di area non hutan dan 6,07 persen kawasan hutan. Pihaknya menjelaskan faktor manusia mendominasi penyebab kebakaran hutan dan lahan.
Hal ini diperparah dengan melonjaknya jumlah titik panas, cuaca, dan musim kemarau. Sementara itu, Direktur Jenderal Gakkum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menuturkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk mengatasi karhutla.
“Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama antara Kementerian Kehutanan dan BMKG, serta dukungan penuh dari BNPB, BPBD, dan TNI AU,” ujar dia.
Baca juga: Menteri LH: Teknologi Kunci Atasi Karhutla, Deteksi Dini hingga Modifikasi Cuaca
Tahap pertama OMC dilaksanakan pada 2–12 Mei 2025, tahap kedua pada 21 Juli–9 Agustus 2025 dengan dukungan pendanaan dari BNPB. Menurut Dwi, OMC adalah bagian dari inovasi pencegahan permanen karhutla yang sudah dijalankan sejak 2015, untuk menjaga lahan gambut yang kering agar tetap basah.
“Dengan pendekatan ini, kam mampu menurunkan luas karhutla secara signifikan yakni sebesar 77 persen pada 2024 dibandingkan baseline 2019,” jelas Dwi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya