KOMPAS.com - Satelit-satelit yang mengorbit Bumi telah membantu para ilmuwan memahami planet kita dengan mengumpulkan gambar dan data tentang daratan, hutan, kota, dan perairan pesisir.
Namun, karena gambar-gambar tersebut berasal dari berbagai sumber yang berbeda, menyatukannya menjadi satu gambaran yang utuh menjadi sulit.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, DeepMind, unit AI dari Google, mengembangkan model kecerdasan buatan bernama AlphaEarth Foundations. Model ini diklaim mampu menghasilkan peta dunia yang sangat detail secara hampir real time.
Christopher Brown, insinyur riset di Google DeepMind, mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada bulan Juli bahwa AlphaEarth Foundations berfungsi seperti "satelit virtual" yang dapat memetakan dunia "di lokasi dan waktu mana pun.
Baca juga: Mengapa Kita Perlu Serius Memikirkan Audit AI
"Baik saat memantau kesehatan tanaman, melacak penggundulan hutan, atau mengamati pembangunan baru, para peneliti tidak lagi harus bergantung pada satu satelit yang melintas. Kini mereka memiliki fondasi baru untuk data geospasial," paparnya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Euro News, Senin (11/8/2025).
Sistem ini menggabungkan triliunan gambar dari puluhan sumber publik, seperti foto satelit, hasil pemindaian radar, pemetaan 3D berbasis laser, dan simulasi iklim.
Termasuk berasal dari misi jangka panjang NASA dan ESA, seperti satelit Landsat dan Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) serta armada Sentinel, yang semuanya memantau vegetasi, garis pantai, perairan, salju, dan es.
Dengan data tersebut, sistem ini memetakan seluruh daratan dan perairan pesisir di Bumi.
Google menyatakan bahwa model AI ini dapat menghasilkan data yang sangat akurat tentang suatu ekosistem hingga ke area seluas 10 meter persegi.
Data dari AlphaEarth Foundations juga membutuhkan ruang penyimpanan yang jauh lebih kecil dibandingkan sistem AI sejenis, yang membuat analisis skala besar menjadi lebih praktis.
Selama pengujian awal AlphaEarth Foundations terhadap data dari tahun 2017 hingga 2024, model ini mengungguli model AI sejenis dalam mengidentifikasi penggunaan lahan dan memperkirakan properti permukaan. Menurut sebuah makalah yang diterbitkan oleh DeepMind, tingkat kesalahan rata-ratanya 24 persen lebih rendah.
Baca juga: AI Bantu Kurangi Miliaran Ton Karbon dari Sektor Pangan, Energi, dan Mobilitas
Google berharap sistem ini akan membantu para peneliti mempelajari perubahan di seluruh planet terkait ketahanan pangan, deforestasi, perluasan perkotaan, dan sumber daya air.
Data beresolusi tinggi yang diperbarui secara berkala membantu para peneliti mengukur perubahan lingkungan secara tepat dan memahami penyebabnya.
Sebagai contoh, pada tahun 2020, para ilmuwan di NASA dan University of Copenhagen memetakan 1,8 miliar kanopi pohon individual di wilayah Sahel dan Sahara di Afrika Barat. Pemetaan ini dilakukan menggunakan AI yang dilatih untuk mengenali pohon-pohon tersebut dari citra satelit.
Tanpa AI, hal ini akan membutuhkan jutaan tahun bagi manusia untuk menyelesaikannya.
Google mengatakan modelnya telah diuji oleh lebih dari 50 organisasi di seluruh dunia untuk pemantauan ekosistem dan perencanaan kota.
Baca juga: AI Bantu Kurangi Miliaran Ton Karbon dari Sektor Pangan, Energi, dan Mobilitas
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya