JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi sebagian orang, melepas kucing peliharaan ke jalan dianggap memberi mereka kebebasan. Namun, di balik itu, justru terbentang jalan panjang penuh kelaparan, penyakit, dan ancaman yang menanti.
“Mereka bukan membebaskan hewan peliharaannya, tetapi menciptakan masalah baru yang tak berkesudahan,” ujar dosen Program Studi Paramedik Veteriner, Sekolah Vokasi IPB University, Tetty Barunawati Siagian, dikutip dari laman resmi IPB.
Tetty menjelaskan, kucing rumahan yang dilepasliarkan kerap masuk ke rumah warga, membuang kotoran sembarangan, hingga menimbulkan kebisingan saat musim kawin. Kondisi ini sering memicu konflik sosial dan kekerasan terhadap hewan.
Baca juga: Menteri Kehutanan Lepas Liarkan Hewan Dilindungi di Tanah Papua
Selain itu, pelepasan kucing memicu risiko penularan penyakit zoonosis. Kucing liar dapat mencemari lingkungan dan menularkan penyakit ke manusia, serta memangsa satwa liar seperti burung, reptil, dan serangga penting bagi ekosistem.
Bahaya lain adalah ledakan populasi jika kucing dilepas tanpa sterilisasi.
“Overpopulasi kucing berpotensi menimbulkan krisis kesejahteraan hewan karena keterbatasan makanan, tempat tinggal, dan perhatian. Akibatnya, kucing menjadi kelaparan, kurus, dan sakit,” kata Tetty.
Pemerintah dan komunitas pecinta hewan pun harus mengeluarkan biaya besar untuk penanganan, rescue, dan sterilisasi. Namun, semua upaya itu tidak akan menyelesaikan masalah selama pelepasan kucing terus terjadi.
Baca juga: 9 Ras Kucing Besar yang Cocok Jadi Hewan Peliharaan di Rumah
“Shelter dan relawan saat ini sudah kewalahan,” ujarnya, mengimbau pemilik kucing untuk lebih bertanggung jawab dan mencari solusi yang lebih manusiawi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya