KOMPAS.com - Tahun lalu, pemerintah di seluruh dunia memberikan subsidi sebesar 80 miliar dolar AS untuk industri plastik primer.
Jika rencana ekspansi industri terus berjalan, jumlah subsidi tersebut bahkan bisa meningkat menjadi 150 miliar dollar AS pada tahun 2050.
Klaim ini dibuat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh konsultan lingkungan Eunomia bekerja sama dengan Quaker United Nations Office (QUNO).
Penelitian mengkaji produksi polimer di lebih dari 70 negara, dengan fokus pada tujuh material umum yakni HDPE, LDPE, LLDPE, polypropylene (PP), PET, PVC, dan polystyrene (PS).
Hasilnya, sebanyak kira-kira 305 juta ton dari material polimer dihasilkan pada tahun 2024.
Baca juga: Menanti Hasil Perundingan Global untuk Akhiri Polusi Plastik
Melansir Edie, Rabu (13/8/2025), dan di 71 negara yang diteliti, ternyata pemerintah menyediakan subsidi senilai 80 miliar dolar AS, yang mencakup potongan pajak, dukungan jaminan pendapatan, serta bentuk bantuan lainnya.
Tingkat produksi tahunan industri plastik sendiri diproyeksikan akan meningkat menjadi 590 juta ton pada tahun 2050.
Sehingga jika kebijakan subsidi tidak diubah dan terus berlanjut seperti sekarang, jumlahnya akan melonjak menjadi 150 miliar dolar AS pada tahun 2050.
Industri plastik menyatakan bahwa jika beberapa subsidi dikurangi secara signifikan, biaya material akan naik drastis.
Hal ini akan menimbulkan dampak berantai pada para karyawan di seluruh rantai nilai, serta pada mereka yang mengandalkan plastik sekali pakai untuk mengakses produk kebersihan, obat-obatan, atau makanan yang memadai.
Namun, studi baru itu menyimpulkan bahwa dampak pada harga barang konsumen dapat diminimalkan jika produsen polimer berhenti mengalihkan biaya-biaya utama ke pihak eksternal.
Untuk barang konsumen yang perputarannya cepat, seperti air minum dalam kemasan, kenaikan harga rata-rata diperkirakan kurang dari 1 persen, bahkan bisa serendah 0,14 persen dalam beberapa kasus.
Laporan ini tersebut diterbitkan di tengah negosiasi perjanjian global yang didukung PBB untuk mengakhiri polusi plastik, yang sedang berlangsung di Jenewa, Swiss.
Baca juga: Perundingan Plastik Global Kritis, Negara Minyak Ganggu Konsensus
Perundingan perjanjian ini telah berlangsung sejak tahun 2022. Para negosiator kini diminta untuk segera mencapai kesepakatan ambisius, setelah putaran sebelumnya terhambat oleh minoritas.
Ada lebih dari 100 negara yang mendukung usulan untuk mengurangi produksi plastik dari hulu. Jumlah negara yang mendukung pencantuman kesehatan manusia dalam perjanjian ini bahkan lebih banyak lagi.
Sebelumnya, penelitian terbaru yang diterbitkan di The Lancet menyimpulkan bahwa polusi plastik mengakibatkan dampak kesehatan masyarakat sebesar 1,5 triliun dolar AS setiap tahun.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya