Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hanya 2 Persen Perusahaan Penuhi Standar AI Bertanggung Jawab

Kompas.com, 19 Agustus 2025, 17:29 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagian besar perusahaan gagal memenuhi standar Responsible Artificial Intelligence (RAI).

Itu merupakan standar yang membuktikan bahwa perusahaan telah mengembangkan dan menggunakan sistem AI secara etis, aman, dan transparan.

Kesimpulan tersebut berdasarkan pada sebuah studi yang diterbitkan oleh Infosys Knowledge Institute. Studi tersebut bersumber dari survei terhadap 1.500 responden, yang secara kolektif mewakili perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS di tujuh negara dan 14 industri.

Melansir Edie, Senin (18/8/2025) selain temuan di atas survei tersebut mengungkapkan sebanyak 95 persen perusahaan sudah pernah menghadapi insiden terkait lingkungan, keselamatan, atau etika yang berhubungan dengan AI.

Selain itu juga hanya 38 persen perusahaan yang mengambil tindakan untuk mengurangi dampak lingkungan dari AI.

Lebih lanjut, laporan memperingatkan jika standar RAI gagal diintegrasikan ke dalam strategi ESG akan ada risiko finansial dan reputasi yang besar akibat "titik buta" yang signifikan.

Baca juga: Menemukan Keseimbangan antara Produktivitas dan Ketahanan Data lewat AI

Hasil temuan ini pun menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi terbatas pada isu karbon, melainkan meluas hingga komputasi.

Sayangnya, kendati kebutuhan energi model AI meningkat tajam seiring dengan pertumbuhannya. Hanya 38 persen perusahaan yang mengambil langkah nyata, seperti memantau emisi, berinvestasi dalam efisiensi energi, atau mengadopsi praktik cloud yang ramah lingkungan.

Persoalan tata kelola juga tak kalah penting. Sebanyak 77 persen perusahaan melaporkan kerugian finansial akibat penerapan AI yang tidak tepat, dan 86 persen para eksekutif memprediksi munculnya tantangan kepatuhan baru yang berkaitan dengan sistem agen yang lebih maju.

Selanjutnya, berdasarkan studi tersebut, perusahaan yang berinvestasi dalam RAI melihat manfaat yang nyata. Perusahaan-perusahaan ini menghadapi biaya insiden 39 persen lebih rendah dan berkurangnya tingkat keparahan risiko.

Penulis penelitian pun percaya bahwa standar RAI dapat menjadi pendorong pertumbuhan dan ketahanan, bukan sekadar persyaratan kepatuhan.

Uni Eropa sendiri merupakan wilayah hukum pertama yang menerapkan kerangka kerja hukum yang komprehensif untuk AI melalui EU AI Act.

Menurut deskripsi Komisi Eropa, EU AI Act adalah hukum AI pertama di dunia. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa sistem AI dapat dipercaya, berpusat pada manusia, dan sejalan dengan nilai-nilai Eropa, termasuk keselamatan, demokrasi, dan hak-hak dasar.

Baca juga: Gunakan AI, Kerugian Infrastruktur karena Bencana Alam Bisa Berkurang 15 Persen

Peraturan ini mulai diluncurkan pada Agustus 2024, dengan tenggat waktu penegakan hukum pertama pada Februari 2025 yang melarang aplikasi tertentu. Contohnya adalah pengambilan gambar wajah tanpa pandang bulu dari internet atau kamera CCTV.

Pada tanggal 2 Agustus 2025, undang-undang tersebut diperluas untuk mencakup model AI serbaguna yang berpotensi menimbulkan risiko sistemik.

Model-model ini termasuk produk dari penyedia global seperti OpenAI, Google, Meta, dan Anthropic.

Meskipun penyedia layanan AI yang baru harus segera mematuhinya, penyedia yang sudah ada diberi waktu hingga Agustus 2027 untuk memenuhi semua persyaratan.

Google telah menyatakan akan mendukung kode etik sukarela milik Uni Eropa untuk AI ini, meskipun ada kekhawatiran bahwa undang-undang tersebut dapat memperlambat daya saing Eropa dalam pengembangan dan penerapan AI.

Lebih lanjut EU AI Act menjadi tonggak penting dalam tata kelola AI, akan tetapi para ahli memperingatkan bahwa undang-undang tersebut belum cukup menekankan pada uji tuntas lingkungan.

Baca juga: Dorong Pebisnis Go Digital, SDS 2025 Tawarkan Solusi AI Siap Pakai

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau