JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkapkan bahwa bahan organik dan surfaktan mencemari Situ Ria Rio, Pulomas, Jakarta Timur. Akibatnya, busa muncul dan mengalir hingga ke Kali Sunter, Jakarta Utara.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan munculnya busa terjadi saat pompa di Rumah Pompa Polder Pulomas 1, Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Pulomas 2 Kayu Putih, Jakarta Timur dinyalakan.
"Menurut petugas, kala itu dilakukan pengosongan air situ untuk mengantisipasi potensi hujan deras. Debit air yang tinggi memicu turbulensi sehingga busa meluap hingga ke Kali Sunter," ujar Asep dalam keterangannya, Kamis (21/8/2025).
Baca juga: Busa Kembali Muncul, DLH DKI Siram Mikroba ke Sungai BKT
Sementara ini, pihaknya memasang kubus apung di hilir outlet pompa 1 dan 2 pada jarak sekitar 100 meter. Asep menyebut, instalasi tersebut dapat mencegah penyebaran busa lebih luas dan ditargetkan selesai pada 30 Agustus 2025.
Selain itu, petugas akan melakukan penyemprotan busa menggunakan metode high pressure spraying sesuai standar operasional.
"DLH juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air, dan pengelola rumah pompa agar langkah responsif bisa segera dilakukan setiap kali pompa beroperasi. Selain itu, identifikasi sumber pencemar di sekitar Situ Ria Rio tengah berlangsung," kata dia.
Untuk jangka panjang, DLH akan berkoordinasi dengan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pengelola Situ Ria Rio. Rencana pemulihan kualitas air mencakup metode fisik maupun biologis untuk menguraikan polutan organik dan surfaktan yang menyebabkan munculnya busa.
“Langkah yang kami ambil bukan hanya penanganan sesaat, tetapi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas air di Jakarta,” jelas Asep.
Sebelumnya, peristiwa serupa terjadi di Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta Utara. DLH menyemprotkan air bertekanan tinggi dan melepaskan mikroba untuk menangani busa.
Baca juga: Sungai di Jakarta Tercemar Berat, 95 Persen Limbah Rumah Tangga Belum Terkelola
Mikroba tersebut akan menguraikan polutan secara biologis atau biodegradasi. Dalam uji coba, DLH menggunakan 10.000 liter air tawar untuk penyemprotan fisik dari darat dan air. Lalu 2.500 liter air yang dicampur 4 liter cairan mikroorganisme untuk degradasi polutan.
DLH mencatat, lima sungai utama Jakarta yakni Sungai Ciliwung, Cipinang, Sunter, Cideng, dan Grogol tercemar berat. Berdasarkan riset bersama Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK UI), pihaknya menemukan mayoritas limbah grey water atau limbah dari mencuci, mandi, dan memasak langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya