Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inovasi Semen Super-Dingin, Berpotensi Cegah Bangunan Simpan Panas

Kompas.com, 22 Agustus 2025, 22:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Semen pada umumnya cenderung menyerap radiasi inframerah dari matahari dan menyimpannya sebagai panas. Hal ini dapat meningkatkan suhu di dalam bangunan berbahan semen, serta suhu udara di sekitarnya.

Namun sebuah inovasi dari peneliti di Southeast University di Nanjing, China menemukan formulasi semen baru yang dapat memantulkan dan melepaskan panas lebih efektif daripada semen biasanya.

Dengan mengaplikasikan semen baru ini, bangunan bisa menjadi lebih dingin di hari yang panas tanpa memerlukan pendingin ruangan.

Melansir New Scientist, Rabu (20/8/2025) tim peneliti mencoba mengatasi permasalahan panas bangunan dengan menciptakan semen yang permukaannya terdiri dari kristal-kristal kecil reflektif dari mineral yang disebut ettringite.

Semen ini mampu melepaskan cahaya inframerah dari permukaan bangunan, alih-alih menyimpannya sehingga panas cepat hilang.

Baca juga: Perubahan Iklim dan Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Terburuk di Eropa Selatan

"Semen ini berfungsi sebagai cermin dan radiator, sehingga dapat memantulkan sinar matahari dan mengirimkan panas ke langit jadi bangunan dapat tetap dingin tanpa AC," kata Fengyin Du, peneliti dari Southeast University.

Proses pembuatannya dimulai dengan memproduksi pelet kecil dari mineral seperti batu kapur dan gipsum. Pelet ini kemudian dihaluskan menjadi bubuk dan dicampur air, lalu dituangkan ke dalam cetakan silikon yang memiliki banyak lubang.

Gelembung udara yang melewati lubang-lubang tersebut menciptakan cekungan dangkal di permukaan semen.

Di sinilah kristal ettringite yang memantulkan cahaya bisa tumbuh. Sementara itu, gel yang mengandung banyak aluminium di dalam semen yang sudah mengeras membantu cahaya inframerah untuk menembus material.

Proses ini sangat mudah untuk ditingkatkan produksinya. Selain itu, semen ini harganya 5 dolar AS per ton lebih murah dibandingkan semen Portland biasa, karena dapat diproduksi pada suhu yang lebih rendah.

Baca juga: PBB: Pengurangan Jejak Karbon Bangunan Perlu Segera Dilakukan

Peneliti juga menguji semen mereka di atas yang panas. Hasilnya, mereka menemukan bahwa suhu permukaan semen tersebut 5,4 derajat C lebih rendah dari suhu udara dan 26 derajat C lebih rendah dari suhu semen Portland biasa.

“Ini material yang berguna. Material ini meningkatkan kemampuan memantulkan sekaligus memancarkan energi, sehingga energi apa pun yang ditangkap atau mengalir ke dalamnya akan dipancarkan kembali secara efisien,” tambah Oscar Brousse dari University College London.

Namun, ia juga mencatat mengukur suhu permukaan material saja tidak cukup untuk mengetahui performanya di dunia nyata. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian lebih lanjut.

"Tidak berarti karena suhu permukaannya 5 derajat C lebih rendah, maka suhu udara di sekitarnya juga akan 5 derajat C lebih rendah. Dampak lokalnya bisa sangat terbatas," katanya.

Studi dipublikasikan di Science Advances.

sumber https://www.newscientist.com/article/2493376-super-cool-cement-could-stop-buildings-trapping-heat-inside/

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
LSM/Figur
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
Pemerintah
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
LSM/Figur
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
Pemerintah
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
Pemerintah
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
LSM/Figur
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
LSM/Figur
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
LSM/Figur
Kemenhut Hentikan Sementara Pengangkutan Kayu di Sumatera, Cegah Peredaran Ilegal
Kemenhut Hentikan Sementara Pengangkutan Kayu di Sumatera, Cegah Peredaran Ilegal
Pemerintah
Kukang dan Trenggiling Dilepasliar ke Hutan Batang Hari Jambi
Kukang dan Trenggiling Dilepasliar ke Hutan Batang Hari Jambi
Pemerintah
Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu
Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu
LSM/Figur
Survei HSBC: 95 Persen CEO Anggap Transisi Iklim Peluang Pertumbuhan Bisnis
Survei HSBC: 95 Persen CEO Anggap Transisi Iklim Peluang Pertumbuhan Bisnis
Pemerintah
Ketika Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Ketika Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Pemerintah
Suhu Harian Makin Tidak Stabil, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Suhu Harian Makin Tidak Stabil, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Melawan Korupsi Transisi Energi
Melawan Korupsi Transisi Energi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau