KOMPAS.com - Semen pada umumnya cenderung menyerap radiasi inframerah dari matahari dan menyimpannya sebagai panas. Hal ini dapat meningkatkan suhu di dalam bangunan berbahan semen, serta suhu udara di sekitarnya.
Namun sebuah inovasi dari peneliti di Southeast University di Nanjing, China menemukan formulasi semen baru yang dapat memantulkan dan melepaskan panas lebih efektif daripada semen biasanya.
Dengan mengaplikasikan semen baru ini, bangunan bisa menjadi lebih dingin di hari yang panas tanpa memerlukan pendingin ruangan.
Melansir New Scientist, Rabu (20/8/2025) tim peneliti mencoba mengatasi permasalahan panas bangunan dengan menciptakan semen yang permukaannya terdiri dari kristal-kristal kecil reflektif dari mineral yang disebut ettringite.
Semen ini mampu melepaskan cahaya inframerah dari permukaan bangunan, alih-alih menyimpannya sehingga panas cepat hilang.
Baca juga: Perubahan Iklim dan Gelombang Panas Picu Kebakaran Hutan Terburuk di Eropa Selatan
"Semen ini berfungsi sebagai cermin dan radiator, sehingga dapat memantulkan sinar matahari dan mengirimkan panas ke langit jadi bangunan dapat tetap dingin tanpa AC," kata Fengyin Du, peneliti dari Southeast University.
Proses pembuatannya dimulai dengan memproduksi pelet kecil dari mineral seperti batu kapur dan gipsum. Pelet ini kemudian dihaluskan menjadi bubuk dan dicampur air, lalu dituangkan ke dalam cetakan silikon yang memiliki banyak lubang.
Gelembung udara yang melewati lubang-lubang tersebut menciptakan cekungan dangkal di permukaan semen.
Di sinilah kristal ettringite yang memantulkan cahaya bisa tumbuh. Sementara itu, gel yang mengandung banyak aluminium di dalam semen yang sudah mengeras membantu cahaya inframerah untuk menembus material.
Proses ini sangat mudah untuk ditingkatkan produksinya. Selain itu, semen ini harganya 5 dolar AS per ton lebih murah dibandingkan semen Portland biasa, karena dapat diproduksi pada suhu yang lebih rendah.
Baca juga: PBB: Pengurangan Jejak Karbon Bangunan Perlu Segera Dilakukan
Peneliti juga menguji semen mereka di atas yang panas. Hasilnya, mereka menemukan bahwa suhu permukaan semen tersebut 5,4 derajat C lebih rendah dari suhu udara dan 26 derajat C lebih rendah dari suhu semen Portland biasa.
“Ini material yang berguna. Material ini meningkatkan kemampuan memantulkan sekaligus memancarkan energi, sehingga energi apa pun yang ditangkap atau mengalir ke dalamnya akan dipancarkan kembali secara efisien,” tambah Oscar Brousse dari University College London.
Namun, ia juga mencatat mengukur suhu permukaan material saja tidak cukup untuk mengetahui performanya di dunia nyata. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian lebih lanjut.
"Tidak berarti karena suhu permukaannya 5 derajat C lebih rendah, maka suhu udara di sekitarnya juga akan 5 derajat C lebih rendah. Dampak lokalnya bisa sangat terbatas," katanya.
Studi dipublikasikan di Science Advances.
sumber https://www.newscientist.com/article/2493376-super-cool-cement-could-stop-buildings-trapping-heat-inside/
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya