KOMPAS.com - Pemerintah China baru-baru ini merilis rencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya yang diklaim sebagai terbesar di dunia dan akan membentang seluas 610 kilometer persegi di dataran tinggi Tibet.
Panel surya telah dipasang di sekitar dua pertiga dari lahan tersebut. Setelah selesai, proyek ini akan memiliki lebih dari 7 juta panel dan mampu menghasilkan daya listrik yang cukup untuk 5 juta rumah tangga.
Proyek ambisius ini menegaskan betapa cepatnya China memasang panel surya, melampaui upaya global, dan investasi ini kini mulai menghasilkan dampak yang nyata.
Melansir Independent, Kamis (21/8/2025) sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa emisi karbon China turun sebesar 1 persen pada paruh pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini melanjutkan tren positif yang telah diamati sejak Maret 2024.
Baca juga: Panel Surya Antariksa, Solusi 80 Persen Energi Terbarukan Eropa pada 2050
Ini menunjukkan bahwa emisi karbon China mungkin telah mencapai puncaknya jauh lebih awal dari target pemerintah mereka, yaitu tahun 2030.
Namun sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, China menghadapi keharusan untuk mengurangi emisi ini secara jauh lebih drastis agar dapat berkontribusi secara efektif dalam memperlambat perubahan iklim global.
Lauri Myllyvirta, analis utama di Centre for Research on Energy and Clean Air menyoroti bahwa untuk mencapai target netralitas karbon China pada tahun 2060, diperlukan penurunan emisi rata-rata 3 persen per tahun selama 35 tahun ke depan.
Myllyvirta menyebut bahwa China saat ini saja telah memasang kapasitas tenaga surya sebesar 212 gigawatt dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah ini lebih besar daripada seluruh kapasitas Amerika Serikat yang mencapai 178 gigawatt per akhir tahun 2024.
Di China, listrik dari tenaga surya telah mengungguli tenaga air dan diperkirakan akan melampaui tenaga angin tahun ini untuk menjadi sumber energi bersih terbesar di negara tersebut. Sekitar 51 gigawatt tenaga angin telah ditambahkan dari Januari hingga Juni.
"Ini adalah momen yang sangat penting secara global, menawarkan secercah harapan langka di tengah kondisi iklim yang suram," ungkap Li Shuo, direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute di Washington.
Baca juga: Pabrik Panel Surya Terbesar di Indonesia Bakal Produksi 1,4 Juta Lembar Per Tahun
Ia menambahkan bahwa hal ini juga menunjukkan bahwa suatu negara bisa memangkas emisi sambil tetap meraih pertumbuhan ekonomi.
Namun, Li memperingatkan bahwa ketergantungan China pada batu bara tetap menjadi ancaman besar bagi kemajuan iklim. Ia menyatakan bahwa ekonomi perlu beralih ke sektor yang membutuhkan lebih sedikit sumber daya.
Lebih lanjut, pembangkit listrik tenaga surya yang tengah dibangun ini masih menghadapi tantangan dalam pendistribusiannya ke pusat-pusat populasi dan pabrik-pabrik di wilayah timur Tiongkok.
“Distribusi sumber daya energi hijau sangat tidak selaras dengan distribusi industri negara kita saat ini,” ujar Zhang Jinming, wakil gubernur provinsi Qinghai.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya