Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Demi Capai Target Emisi, China Bangun PLTS Terbesar di Dunia

Kompas.com, 25 Agustus 2025, 20:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah China baru-baru ini merilis rencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya yang diklaim sebagai terbesar di dunia dan akan membentang seluas 610 kilometer persegi di dataran tinggi Tibet.

Panel surya telah dipasang di sekitar dua pertiga dari lahan tersebut. Setelah selesai, proyek ini akan memiliki lebih dari 7 juta panel dan mampu menghasilkan daya listrik yang cukup untuk 5 juta rumah tangga.

Proyek ambisius ini menegaskan betapa cepatnya China memasang panel surya, melampaui upaya global, dan investasi ini kini mulai menghasilkan dampak yang nyata.

Melansir Independent, Kamis (21/8/2025) sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa emisi karbon China turun sebesar 1 persen pada paruh pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini melanjutkan tren positif yang telah diamati sejak Maret 2024.

Baca juga: Panel Surya Antariksa, Solusi 80 Persen Energi Terbarukan Eropa pada 2050

Ini menunjukkan bahwa emisi karbon China mungkin telah mencapai puncaknya jauh lebih awal dari target pemerintah mereka, yaitu tahun 2030.

Namun sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, China menghadapi keharusan untuk mengurangi emisi ini secara jauh lebih drastis agar dapat berkontribusi secara efektif dalam memperlambat perubahan iklim global.

Lauri Myllyvirta, analis utama di Centre for Research on Energy and Clean Air menyoroti bahwa untuk mencapai target netralitas karbon China pada tahun 2060, diperlukan penurunan emisi rata-rata 3 persen per tahun selama 35 tahun ke depan.

Myllyvirta menyebut bahwa China saat ini saja telah memasang kapasitas tenaga surya sebesar 212 gigawatt dalam enam bulan pertama tahun ini. Jumlah ini lebih besar daripada seluruh kapasitas Amerika Serikat yang mencapai 178 gigawatt per akhir tahun 2024.

Di China, listrik dari tenaga surya telah mengungguli tenaga air dan diperkirakan akan melampaui tenaga angin tahun ini untuk menjadi sumber energi bersih terbesar di negara tersebut. Sekitar 51 gigawatt tenaga angin telah ditambahkan dari Januari hingga Juni.

"Ini adalah momen yang sangat penting secara global, menawarkan secercah harapan langka di tengah kondisi iklim yang suram," ungkap Li Shuo, direktur China Climate Hub di Asia Society Policy Institute di Washington.

Baca juga: Pabrik Panel Surya Terbesar di Indonesia Bakal Produksi 1,4 Juta Lembar Per Tahun

Ia menambahkan bahwa hal ini juga menunjukkan bahwa suatu negara bisa memangkas emisi sambil tetap meraih pertumbuhan ekonomi.

Namun, Li memperingatkan bahwa ketergantungan China pada batu bara tetap menjadi ancaman besar bagi kemajuan iklim. Ia menyatakan bahwa ekonomi perlu beralih ke sektor yang membutuhkan lebih sedikit sumber daya.

Lebih lanjut, pembangkit listrik tenaga surya yang tengah dibangun ini masih menghadapi tantangan dalam pendistribusiannya ke pusat-pusat populasi dan pabrik-pabrik di wilayah timur Tiongkok.

“Distribusi sumber daya energi hijau sangat tidak selaras dengan distribusi industri negara kita saat ini,” ujar Zhang Jinming, wakil gubernur provinsi Qinghai.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau