KOMPAS.com – Industri pariwisata Turki terus menunjukkan daya tariknya di kancah global. Pada 2024, negara ini berhasil mencatat pendapatan wisata mencapai 61,1 miliar dolar AS, sekaligus menempatkannya sebagai destinasi wisata terbesar keempat di dunia.
Istanbul dan Antalya menjadi magnet utama, masing-masing menyedot lebih dari 20 juta turis. Namun, daya tarik Turki bukan hanya terletak pada panorama, sejarah, atau kulinernya. Ada faktor lain yang membuat wisatawan datang kembali.
"Anda mungkin bertanya-tanya mengapa begitu banyak orang mengunjungi Turki. Tentu saja, salah satu alasannya adalah Turki negara yang indah. Negara ini menawarkan situs arkeologi yang sangat indah, memiliki sejarah, makanan yang lezat, dan sebagainya. Namun, saya rasa ini bukan satu-satunya alasan mengapa banyak orang datang ke Turki. Saya pikir alasan utamanya adalah karena kami memiliki ekosistem pariwisata yang sangat berkelanjutan di negara kami," tutur Duta Besar Turki untuk Indonesia, Talip Küçükcan, di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Konsep keberlanjutan inilah yang menjadi kunci. Pasca-pandemi Covid-19, Turki mendefinisikan ulang kualitas layanan wisata dengan memperkenalkan sejumlah model baru. Salah satunya adalah program sertifikasi pariwisata aman, yang mendorong hotel dan restoran memenuhi standar kesehatan dan lingkungan.
"Seperti program sertifikasi pariwisata aman, yang mendorong banyak hotel dan restoran untuk memenuhi standar baru yang telah kami buat di Turki, karena banyak orang yang ingin bepergian, mereka hanya ingin melihat apakah ada lingkungan yang sehat," lanjut Talip.
Langkah-langkah tersebut tidak hanya menjaga kepercayaan wisatawan, tetapi juga memperkuat posisi Turki sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Tak heran, sekitar 200.000 warga negara Indonesia berkunjung ke Turki pada 2024.
Untuk memperkuat arus kunjungan, pemerintah Turki bahkan menghapus kewajiban visa bagi WNI, sementara Indonesia juga melakukan hal yang sama bagi warga Turki. Ke depan, frekuensi penerbangan antar kedua negara pun direncanakan bertambah.
Baca juga: Pulau untuk Dijaga, Bukan Dijual: Jalan Menuju Wisata Berkelanjutan
Industri pariwisata yang menyumbang sekitar 10 persen dari total tenaga kerja di Turki ini juga meluas ke sektor wisata medis. Dengan rumah sakit modern dan layanan kesehatan terjangkau, Turki semakin populer sebagai tujuan wisata medis bagi pengunjung dari Eropa hingga Amerika Selatan.
Bahkan, pariwisata Turki mampu menjembatani hubungan yang pernah renggang. Wisatawan dari Armenia, misalnya, tetap datang setiap tahun untuk mengunjungi gereja kuno milik mereka di Turki.
"Kami memiliki gereja kuno milik orang Armenia, meskipun ada banyak masalah antara Turki dan Armenia, tetapi kami telah mempersiapkan gereja tersebut. Dan banyak orang Armenia sekarang datang ke Turki setidaknya setahun sekali untuk mengunjungi situs penting bagi mereka itu," ujar Talip.
Dengan kombinasi keindahan alam, warisan sejarah, layanan kesehatan, serta sistem pariwisata yang berkelanjutan, Turki terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pilihan wisatawan dunia.
Baca juga: Festival Pacu Jalur 2025 Dibuka Menpar, Tradisi yang Hidupkan Ekonomi Lokal dan Wisata Riau
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya