Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rahasia Turki Jadi Destinasi Wisata Terbesar Keempat di Dunia: Ekosistem yang Berkelanjutan

Kompas.com, 26 Agustus 2025, 19:32 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Industri pariwisata Turki terus menunjukkan daya tariknya di kancah global. Pada 2024, negara ini berhasil mencatat pendapatan wisata mencapai 61,1 miliar dolar AS, sekaligus menempatkannya sebagai destinasi wisata terbesar keempat di dunia.

Istanbul dan Antalya menjadi magnet utama, masing-masing menyedot lebih dari 20 juta turis. Namun, daya tarik Turki bukan hanya terletak pada panorama, sejarah, atau kulinernya. Ada faktor lain yang membuat wisatawan datang kembali.

"Anda mungkin bertanya-tanya mengapa begitu banyak orang mengunjungi Turki. Tentu saja, salah satu alasannya adalah Turki negara yang indah. Negara ini menawarkan situs arkeologi yang sangat indah, memiliki sejarah, makanan yang lezat, dan sebagainya. Namun, saya rasa ini bukan satu-satunya alasan mengapa banyak orang datang ke Turki. Saya pikir alasan utamanya adalah karena kami memiliki ekosistem pariwisata yang sangat berkelanjutan di negara kami," tutur Duta Besar Turki untuk Indonesia, Talip Küçükcan, di Jakarta, Selasa (26/8/2025).

Konsep keberlanjutan inilah yang menjadi kunci. Pasca-pandemi Covid-19, Turki mendefinisikan ulang kualitas layanan wisata dengan memperkenalkan sejumlah model baru. Salah satunya adalah program sertifikasi pariwisata aman, yang mendorong hotel dan restoran memenuhi standar kesehatan dan lingkungan.

"Seperti program sertifikasi pariwisata aman, yang mendorong banyak hotel dan restoran untuk memenuhi standar baru yang telah kami buat di Turki, karena banyak orang yang ingin bepergian, mereka hanya ingin melihat apakah ada lingkungan yang sehat," lanjut Talip.
Langkah-langkah tersebut tidak hanya menjaga kepercayaan wisatawan, tetapi juga memperkuat posisi Turki sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Tak heran, sekitar 200.000 warga negara Indonesia berkunjung ke Turki pada 2024.

Untuk memperkuat arus kunjungan, pemerintah Turki bahkan menghapus kewajiban visa bagi WNI, sementara Indonesia juga melakukan hal yang sama bagi warga Turki. Ke depan, frekuensi penerbangan antar kedua negara pun direncanakan bertambah.

Baca juga: Pulau untuk Dijaga, Bukan Dijual: Jalan Menuju Wisata Berkelanjutan

Industri pariwisata yang menyumbang sekitar 10 persen dari total tenaga kerja di Turki ini juga meluas ke sektor wisata medis. Dengan rumah sakit modern dan layanan kesehatan terjangkau, Turki semakin populer sebagai tujuan wisata medis bagi pengunjung dari Eropa hingga Amerika Selatan.

Bahkan, pariwisata Turki mampu menjembatani hubungan yang pernah renggang. Wisatawan dari Armenia, misalnya, tetap datang setiap tahun untuk mengunjungi gereja kuno milik mereka di Turki.

"Kami memiliki gereja kuno milik orang Armenia, meskipun ada banyak masalah antara Turki dan Armenia, tetapi kami telah mempersiapkan gereja tersebut. Dan banyak orang Armenia sekarang datang ke Turki setidaknya setahun sekali untuk mengunjungi situs penting bagi mereka itu," ujar Talip.

Dengan kombinasi keindahan alam, warisan sejarah, layanan kesehatan, serta sistem pariwisata yang berkelanjutan, Turki terus memperkuat posisinya sebagai destinasi pilihan wisatawan dunia.

Baca juga: Festival Pacu Jalur 2025 Dibuka Menpar, Tradisi yang Hidupkan Ekonomi Lokal dan Wisata Riau

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Hasilkan 57 Juta Ton Sampah Per Tahun, dan Hanya 33 Persen yang Dikelola
RI Hasilkan 57 Juta Ton Sampah Per Tahun, dan Hanya 33 Persen yang Dikelola
LSM/Figur
Peneliti Kembangkan AI TreeStructor untuk Kenali Struktur Pohon di Hutan
Peneliti Kembangkan AI TreeStructor untuk Kenali Struktur Pohon di Hutan
LSM/Figur
AS Percepat Izin Perusahaan untuk Tambang Laut Dalam
AS Percepat Izin Perusahaan untuk Tambang Laut Dalam
Pemerintah
Bisakah Biaya Retur Kurangi Dampak Industri Fast Fashion?
Bisakah Biaya Retur Kurangi Dampak Industri Fast Fashion?
Swasta
Nasib Karyawan Jadi Sorotan Usai Izin 28 Perusahaan di Sumatera Dicabut
Nasib Karyawan Jadi Sorotan Usai Izin 28 Perusahaan di Sumatera Dicabut
Pemerintah
Danantara Pastikan Proyek PSEL Pakai Teknologi Lebih Canggih dari China
Danantara Pastikan Proyek PSEL Pakai Teknologi Lebih Canggih dari China
Pemerintah
Ilmuwan Uji Klaim Dark Oxygen dari Batu Logam di Dasar Laut
Ilmuwan Uji Klaim Dark Oxygen dari Batu Logam di Dasar Laut
LSM/Figur
Danantara Bakal Umumkan Tender Pengelolaan Sampah Jadi Listrik Februari Ini
Danantara Bakal Umumkan Tender Pengelolaan Sampah Jadi Listrik Februari Ini
Pemerintah
Mengapa Bencana Meningkat, tapi Angka Kematian Tak Selalu Bertambah?
Mengapa Bencana Meningkat, tapi Angka Kematian Tak Selalu Bertambah?
LSM/Figur
Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim
Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim
LSM/Figur
KLH Akan Bicara ke Kemnaker Soal Nasib Karyawan 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya
KLH Akan Bicara ke Kemnaker Soal Nasib Karyawan 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya
Pemerintah
Tekan Kerusakan Terumbu Karang, Raja Ampat Perluas Mooring dan Wajibkan Retribusi
Tekan Kerusakan Terumbu Karang, Raja Ampat Perluas Mooring dan Wajibkan Retribusi
LSM/Figur
Dampak Kebakaran Hutan Tak Hilang Meski Api Padam, Erosi Tanah Terus Terjadi
Dampak Kebakaran Hutan Tak Hilang Meski Api Padam, Erosi Tanah Terus Terjadi
LSM/Figur
Dukung Transisi Energi, KG Media Beli Sertifikat Energi Terbarukan PLN
Dukung Transisi Energi, KG Media Beli Sertifikat Energi Terbarukan PLN
Swasta
KLH Sebut 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya oleh Prabowo Terbukti Langgar Aturan
KLH Sebut 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya oleh Prabowo Terbukti Langgar Aturan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau