Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

99.032 Hektare Hutan dan Lahan Kebakaran, Terbanyak di NTT dan Sumut

Kompas.com, 28 Agustus 2025, 16:00 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan 99.032 hektare area selama Januari-10 Agustus 2025. Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri, memerinci Nusa Tenggara Timur mengalami karhutla tertinggi dengan total 20.009 ha.

Disusul Sumatera Utara (15.248 ha), Kalimantan Barat (15.248 ha), Nusa Tenggara Barat (9.778 ha), Riau (8.095 ha), serta Kalimantan Selatan (5.517 ha). Sebanyak 49 persen kebakaran terjadi di areal penggunaan lain (APL), dan sisanya di kawasan hutan.

"Kawasan hutan itu terdiri dari hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi yang dapat dikonversi. Memang NTT ini merupakan provinsi yang menjadi rawan terhadap kebakaran karena di sana sebagian besar adalah savana, itu 20.000 ha (terbakar)," ungkap Thomas dalam webinar yang digelar IPB University, Kamis (28/8/2025).

Baca juga: KLH: Sumatera dan Kalimantan Masih Berisiko Tinggi Alami Karhutla

Sementara itu, sebaran hotspot atau titik panas berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) dengan level tinggi tercacat 1.606 titik selama Januari-Agustus 2025. Pada periode yang sama tahun 2024 jumlah hotspot sebanyak 1.498 titik. Artinya, ada kenaikan 7,21 persen hotspot atau 108 titik.

Di sisi lain, Thomas menyebutkan tren karhutla di Indonesia saat ini cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Mengutip laman Sipongi, 296.942 ha lahan terbakar pada 2020, 358.867 ha di 2021, 204.894 pada 2022, 1.161.192 ha di 2023, dan 376.805 pada 2024.

"Dalam satu dekade kita mampu menurunkan ruas kebakaran itu dari 29-87 persen. Sehingga memang menjadi pembelajaran kita bersama bahwa solusi pencegahan permanen baik analisis cuaca, managemen posko taktis, manajemen kebencanaan, landscape manajemennya khusus gambut menjadi salah satu pembelajaran yang positif," papar dia.

Thomas menyebutkan, tantangan penanganan karhutla antara lain perkebunan, konsesi kehutanan, illegal logging dan perambahan, pengelolaan TPA tidak sesuai standar operasional prosedur, hingga pemanfaatan lahan terlantar. Penyebab utamanya tak lain ialah aktivitas manusia.

Baca juga: Karhutla di Sumatera Picu Kematian Gajah akibat Terbakarnya Habitat

"Partisipasi masyarakat dalam karhutla masih rendah di mana jumlah penduduk di dalam dan sekitar hutan 16 juta jiwa dengan kategori miskin. Lalu kapasitas kelompok masyarakat atas akses kelola, inovasi, dan pendanaan terbatas, kelembagaan dan manajemen dalkarhutla terbatas dalam hal kuantitas dan kualitas," ucap Thomas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Harimau Beku Ditemukan dalam Freezer, 2 Orang di Vietnam Ditangkap
Pemerintah
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Bisa Berdampak pada Kesehatan Jangka Panjang
Pemerintah
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan
LSM/Figur
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
LSM/Figur
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
Penyu Bertelur Lebih Awal dan Lebih Sedikit akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
IPB University Dampingi Masyarakat Adat Kembangkan Sea Farming di Wakatobi
LSM/Figur
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane Atasi Pestisida, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
Sungai Cisadane Ditargetkan Bersih Pestisida dalam 2 Minggu, Bagaimana Ekosistemnya?
LSM/Figur
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Jangan Masukkan Sampah Plastik Bernilai Ekonomi Tinggi ke RDF, Mengapa?
Swasta
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
KLH Setop Operasional Boiler Pabrik Kertas di Tangerang karena Cemari Udara
Pemerintah
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040
LSM/Figur
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Target Ambisius Eropa Pangkas Emisi 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR
Nilam Aceh Bangkit di Tengah Regulasi EUDR
LSM/Figur
60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem
60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem
Pemerintah
China Capai Titik Balik Emisi Karbon Sebelum Waktunya
China Capai Titik Balik Emisi Karbon Sebelum Waktunya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau