Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Oleh Hussein Boon*
KOMPAS.com - Spotify saat ini memiliki sekitar 675 juta pengguna aktif. Seiring eskpansinya menggunakan video untuk streaming musik serta meningkatnya jumlah pengguna aplikasi ini, jejak karbon Spotify diperkirakan akan terus membesar.
Ditambah lagi adanya iklan video yang melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan preferensi pengguna. Artinya, setiap video akan memiliki perbedaan meskipun kecil.
Penggunaan AI membutuhkan pemrosesan tambahan yang disesuaikan dengan resolusi streaming pengguna, dan tentunya menambah banyak jejak karbon.
Dulu, Spotify masih rutin menerbitkan data tentang dampak lingkungan mereka. Namun sejak 2021, laporan-laporan mereka tidak lagi lengkap.
Seperti yang dikemukakan oleh penulis dan cendekiawan Amerika, Shoshanna Zuboff, dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism, banyak perusahaan teknologi kurang memiliki tanggung jawab lingkungan.
The Carbon Trust, konsultan yang membantu pelaku bisnis mengurangi jejak karbonnya, menghitung bahwa rata-rata jejak karbon streaming video di Eropa, mmenghasilkan 55 gram CO?e). CO?e atau carbon dioxide equivalent (setara karbon dioksida) adalah ukuran gabungan dari berbagai gas rumah kaca.
Sebagai gambaran, jumlah ini 50 kali lipat lebih tinggi dibanding streaming audio dan setara dengan jejak karbon saat memanaskan empat kantong popcorn di microwave.
Sebagai seorang peneliti teknologi musik dan kecerdasan buatan, saya menyadari adanya pergeseran tanggung jawab yang menyertai inovasi video Spotify ini.
Baca juga: Inovasi Geothermal Dry House, Pengering Kopi Ramah Lingkungan dari Kamojang
Tanggung jawab perusahaan yang menghasilkan emisi tentu harus kita tagih. Namun di samping itu, pengguna dan kreator konten juga mesti lebih bijak memilih perangkat streaming dan pengaturan kualitas streaming.
Layar besar dan resolusi tinggi bisa menjadi faktor signifikan dalam meningkatkan jejak karbon.
Selain itu, lokasi geografis juga memengaruhi seberapa besar emisi karbon yang dihasilkan dan bagaimana emisi tersebut dikelola.
Jerman, misalnya, memiliki jejak karbon streaming tertinggi di Eropa yaitu 76g CO?e per jam. Sebab, energi mereka masih bergantung pada batu bara dan bahan bakar fosil.
Jejak karbon streaming di Inggris lebih rendah, yakni 48g CO?e per jam berkat bauran energi yang sudah mencakup gas alam dan energi terbarukan—semakin meningkat dengan nuklir sebagai tumpuan energi rendah karbon.
Sementara itu, Prancis yang memakai energi nuklir mencatat angka jejak karbon terendah: 10g CO?e per jam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya