Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri LH: Emisi Energi Naik hingga 2035, Pertambangan Mutlak Berkelanjutan

Kompas.com, 3 September 2025, 12:15 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq memperkirakan, emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari sektor energi di Indonesia masih mengalami peningkatan hingga tahun 2035.

Perkiraan tersebut berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (LH) yang dilaporkan kepada United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) pada 2019, yang menyebut Indonesia menghasilkan emisi GRK sebanyak 1,145 juta ton CO2.

"Maka, sektor energi masih meningkat emisinya. Jadi Bapak enggak usah sombong, (upaya sektor pertambangan) ini akan menurunkan emisinya, enggak, Pak. Data kami bicara bahwa sampai tahun 2035 toh, sektor energi ini emisinya masih tinggi, bahkan tidak turun," ujar Hanif dalam MINDialogue, Kamis (28/8/2025).

Padahal, Keputusan 1/CMA.5 dalam Pertemuan Resmi Para Pihak Perjanjian Paris meminta semua negara termasuk Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca di angkat 42,10 persen pada 2035 dan 60 persen pada tahun 2045.

Strategi jangka panjang dalam skenario Kementerian LH sebenarnya memproyeksikan puncak peningkatan emisi GRK yang dihasilkan sektor energi terjadi pada 2030.

"Jadi, perlu upaya keras kita untuk kemudian membicarakan ulang nanti dengan asumsi pertumbuhan ekonomi di angka 8,3 persen," tutur Hanif.

Dengan skenario tersebut, kata dia, sektor kehutahan diwajibkan menurunkan emisi GRK hampir 300 juta ton CO2. Ironisnya, sektor kehutanan saat ini masih menghasilkan emisi GRK.

"Hari ini saja sektor kehutanan masih plus. Hari ini sektor kehutanan belum ada tanda-tanda melampaui batas nol. Di (tahun) 2035, itu sudah skenario paling dramatis yang kita lakukan,"ucapnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor energi untuk bersama-sama mengakselerasi penurunan emisi GRK.

Menurut Hanif, sektor energi perlu mengadopsi prinsip-prinsip dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945, terutama perekonomian berlandaskan wawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Baca juga: Jadi Champion Energi Bersih, India dan China Tetap Dominasi Proyek PLTU Baru

Di sisi lain, Hanif mengaku kewalahan mengawasi dampak lingkungan dari jutaan unit usaha yang beroperasi di seluruh Indonesia. Ini mengingat jumlah pengawas lingkungan masih sangat terbatas dibandingkan skala masalah yang harus ditangani.

Hingga Kamis (28/8/2025), hanya ada 1.100 pengawas lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan jajarannya sampai di tingkat kabupaten/kota. Bahkan, jumlah penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) bidang lingkungan hidup hanya sekitar 250 orang di seluruh Indonesia.

"Tanpa kami membangun kedidayaaan di mereka, apa yang kami lakukan tidak berdampak apapun terhadap kualitas lingkungan kita," ujar Hanif.

Ia berupaya mengatasi keterbatasan jumlah pengawas lingkungan dengan pendekatan pembinaan dan dialog bersama pelaku usaha.

"Ke depan, Pak Direktur MIND ID, Pak Ma'ruf, izin, bilamana diperkenankan, maka untuk mengurangi pengawasan kami dengan teknologi yang belum kami miliki dengan sangat sempurna. Kami berharap bisa menyusun dialog-dialog ini pada level teknis untuk mengurangi atau melakukan peningkatan pengendalian kualitas lingkungan kita," tutur Hanif.

Barometer Pertambangan Berkelanjutan

Hanif berharap, Grup MIND ID, perusahaan holding BUMN di sektor pertambangan, akan dapat menjadi contoh dan barometer pengelolaan lingkungan hidup dari sisi tambang.

"Sekali lagi, besarnya harapan saya ini bisa diwujudkan," ucapnya.

Grup MIND ID menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 21,4 persen terhadap skenario business as usual atau setara 6,6 juta ton CO2 ekuivalen pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, MIND ID telah menyusun empat skenario utama.

Pertama, konversi bahan bakar rendah karbon melalui substitusi dari B30 ke B35 untuk peralatan tambang di seluruh wilayah operasi PT ANTAM Tbk. Inisiatif tersebut menurunkan emisi GRK sebesar 13.000 ton CO2 ekuivalen pada 2024.

Kedua, efisiensi operasi melalui pengoperasian empat wheel excavator bertenaga listrik untuk fasilitas coal handling di unit pertambangan Tanjung Enim, PT Bukit Asam Tbk, yang menurunkan emisi GRK sebesar 5.200 ton CO2 ekuivalen.

Ketiga, lebih dari 99 persen energi Inalum saat ini sudah bersumber dari energi terbarukan melalui PLTA di Sungai Asahan. Keempat, instalasi PV rooftop atau pemasangan PLTS atap berkapasitas 300 KWp atau setara 400 MW hour PT Timah Industri yang menurunkan emisi GRK sebesar 300 ton CO2 ekuivalen per tahun.

Namun, capaian pengurangan emisi GRK MIND ID hanya sebesar 0,38 juta ton CO2 ekuivalen pada 2024.

"Ini merupakan tantangan bagi kami, Grup MIND ID, untuk lebih meningkatkan implementasi dari skenario pengurangan gas GRK di wilayah operasional setiap anggota MIND ID," ujar Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin.

Grup MIND ID berkomitmen menjadikan dekarbonisasi sebagai pilar utama dalam transformasi menuju operasi rendah karbon sekaligus berkontribusi nyata pada pencapaian target iklim nasional.

Jadi, kata dia, selain pengurangan emisi GRK, Grup MIND ID juga menggarisbawahi pentingnya aspek keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan.

Selama periode tahun 2016-2024, Grup MIND ID mereklamasi lebih dari 7.000 hektar lahan bekas tambang.

Hingga tahun 2024, Grup MIND ID juga merehabilitasi lebih dari 37.000 hektar daerah aliran sungai (DAS) dan melakukan konservasi mangrove seluas 2.000 hektar.

Baca juga: PLN Usulkan RUU Ketenagalistrikan, Salah Satunya terkait Transisi Energi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
Emisi NOx Indonesia Naik 50 Persen, Hotspot Polusi Tersebar hingga Kawasan Hilirisasi
LSM/Figur
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau