KOMPAS.com - Sebuah studi global baru dari University of British Columbia (UBC) menunjukkan bahwa kondisi yang lebih panas dan kering membuat produksi pangan semakin tidak stabil, dengan hasil panen yang fluktuatif dari tahun ke tahun.
Studi berjudul "Climate change increases the interannual variance of summer crop yields globally through changes in temperature and water supply" yang diterbitkan di Science Advances ini adalah yang pertama menunjukkan secara global bagaimana perubahan iklim memengaruhi fluktuasi hasil panen tiga tanaman pangan terpenting di dunia yaitu jagung, kedelai, dan sorgum.
Menurut studi tersebut untuk setiap kenaikan satu derajat Celsius, tingkat fluktuasi hasil panen dari tahun ke tahun meningkat sebesar 7 persen untuk jagung, 19 persen untuk kedelai, dan 10 persen untuk sorgum.
"Kerugian besar di satu tahun yang buruk dapat menyebabkan kesulitan nyata, terutama di tempat-tempat yang tidak memiliki akses yang memadai terhadap asuransi tanaman atau penyimpanan makanan," kata Dr. Jonathan Proctor, asisten profesor di fakultas sistem lahan dan pangan UBC dan penulis utama studi ini.
Baca juga: Pakar UGM Sebut Perubahan Iklim Ancam Pola Hujan dan Pertanian Indonesia
Meskipun rata-rata hasil panen tidak langsung anjlok dalam semalam, seiring dengan meningkatnya fluktuasi tahunan, kemungkinan terjadinya kegagalan panen atau panen yang sangat buruk juga meningkat.
Melansir Phys, Rabu (3/9/2025) pada kenaikan suhu hanya dua derajat di atas iklim saat ini, bencana kegagalan panen bisa menjadi lebih sering.
Peneliti menghitung kegagalan panen kedelai yang dulunya terjadi setiap 100 tahun kini akan terjadi setiap 25 tahun.
Kegagalan panen jagung yang dulunya sekali seabad, kini akan terjadi setiap 49 tahun. Dan kemudian kegagalan panen sorgum akan terjadi setiap 54 tahun, dari yang tadinya sekali seabad.
Beberapa wilayah yang paling berisiko adalah wilayah yang paling tidak siap untuk menghadapinya, termasuk beberapa bagian di Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Selatan.
Di wilayah-wilayah tersebut banyak pertanian sangat bergantung pada curah hujan dan memiliki jaring pengaman finansial yang terbatas.
Konsekuensinya tidak hanya akan terbatas pada wilayah berpenghasilan rendah.
Sebagai contoh, pada tahun 2012, kekeringan dan gelombang panas di Midwest AS menyebabkan hasil panen jagung dan kedelai turun seperlima.
Kejadian ini merugikan AS hingga miliaran dolar dan memicu kekhawatiran di pasar global. Dalam beberapa bulan, harga pangan global melonjak hampir 10 persen.
Hasil studi ini disimpulkan setelah peneliti menggabungkan data panen global dengan pengukuran suhu dan kelembaban tanah beresolusi tinggi dari stasiun, satelit, dan model iklim.
Peneliti menemukan bahwa cuaca panas mengeringkan tanah.
Baca juga: Ramai PHK dan Susah Dapat Kerja? FAO Ajak Lirik Sektor Pertanian
Sebaliknya, tanah yang kering membuat gelombang panas semakin parah karena memungkinkan suhu naik lebih cepat dan perubahan iklim mengintensifkan proses-proses ini.
Sebagai solusinya, studi menyebut irigasi bisa secara efektif mengurangi ketidakstabilan hasil panen tersebut.
Sayangnya, banyak wilayah yang paling berisiko sudah menghadapi kelangkaan air atau kekurangan infrastruktur irigasi.
Selain itu untuk membangun ketahanan, para penulis menyerukan investasi mendesak pada varietas tanaman tahan panas dan kekeringan, peramalan cuaca yang lebih baik, pengelolaan tanah yang lebih baik, dan jaring pengaman yang lebih kuat, termasuk asuransi tanaman.
Namun, solusi yang paling andal adalah dengan memangkas emisi yang mendorong pemanasan global.
"Tidak semua orang menanam makanan, tetapi semua orang perlu makan. Ketika panen menjadi lebih tidak stabil, semua orang akan merasakannya," tambah Dr. Proctor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya