Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bikin Panen Pertanian Semakin Tidak Stabil

Kompas.com, 4 September 2025, 19:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi global baru dari University of British Columbia (UBC) menunjukkan bahwa kondisi yang lebih panas dan kering membuat produksi pangan semakin tidak stabil, dengan hasil panen yang fluktuatif dari tahun ke tahun.

Studi berjudul "Climate change increases the interannual variance of summer crop yields globally through changes in temperature and water supply" yang diterbitkan di Science Advances ini adalah yang pertama menunjukkan secara global bagaimana perubahan iklim memengaruhi fluktuasi hasil panen tiga tanaman pangan terpenting di dunia yaitu jagung, kedelai, dan sorgum.

Menurut studi tersebut untuk setiap kenaikan satu derajat Celsius, tingkat fluktuasi hasil panen dari tahun ke tahun meningkat sebesar 7 persen untuk jagung, 19 persen untuk kedelai, dan 10 persen untuk sorgum.

"Kerugian besar di satu tahun yang buruk dapat menyebabkan kesulitan nyata, terutama di tempat-tempat yang tidak memiliki akses yang memadai terhadap asuransi tanaman atau penyimpanan makanan," kata Dr. Jonathan Proctor, asisten profesor di fakultas sistem lahan dan pangan UBC dan penulis utama studi ini.

Baca juga: Pakar UGM Sebut Perubahan Iklim Ancam Pola Hujan dan Pertanian Indonesia

Meskipun rata-rata hasil panen tidak langsung anjlok dalam semalam, seiring dengan meningkatnya fluktuasi tahunan, kemungkinan terjadinya kegagalan panen atau panen yang sangat buruk juga meningkat.

Melansir Phys, Rabu (3/9/2025) pada kenaikan suhu hanya dua derajat di atas iklim saat ini, bencana kegagalan panen bisa menjadi lebih sering.

Peneliti menghitung kegagalan panen kedelai yang dulunya terjadi setiap 100 tahun kini akan terjadi setiap 25 tahun.

Kegagalan panen jagung yang dulunya sekali seabad, kini akan terjadi setiap 49 tahun. Dan kemudian kegagalan panen sorgum akan terjadi setiap 54 tahun, dari yang tadinya sekali seabad.

Beberapa wilayah yang paling berisiko adalah wilayah yang paling tidak siap untuk menghadapinya, termasuk beberapa bagian di Afrika Sub-Sahara, Amerika Tengah, dan Asia Selatan.

Di wilayah-wilayah tersebut banyak pertanian sangat bergantung pada curah hujan dan memiliki jaring pengaman finansial yang terbatas.

Konsekuensinya tidak hanya akan terbatas pada wilayah berpenghasilan rendah.

Sebagai contoh, pada tahun 2012, kekeringan dan gelombang panas di Midwest AS menyebabkan hasil panen jagung dan kedelai turun seperlima.

Kejadian ini merugikan AS hingga miliaran dolar dan memicu kekhawatiran di pasar global. Dalam beberapa bulan, harga pangan global melonjak hampir 10 persen.

Hasil studi ini disimpulkan setelah peneliti menggabungkan data panen global dengan pengukuran suhu dan kelembaban tanah beresolusi tinggi dari stasiun, satelit, dan model iklim.

Peneliti menemukan bahwa cuaca panas mengeringkan tanah.

Baca juga: Ramai PHK dan Susah Dapat Kerja? FAO Ajak Lirik Sektor Pertanian

Sebaliknya, tanah yang kering membuat gelombang panas semakin parah karena memungkinkan suhu naik lebih cepat dan perubahan iklim mengintensifkan proses-proses ini.

Sebagai solusinya, studi menyebut irigasi bisa secara efektif mengurangi ketidakstabilan hasil panen tersebut.

Sayangnya, banyak wilayah yang paling berisiko sudah menghadapi kelangkaan air atau kekurangan infrastruktur irigasi.

Selain itu untuk membangun ketahanan, para penulis menyerukan investasi mendesak pada varietas tanaman tahan panas dan kekeringan, peramalan cuaca yang lebih baik, pengelolaan tanah yang lebih baik, dan jaring pengaman yang lebih kuat, termasuk asuransi tanaman.

Namun, solusi yang paling andal adalah dengan memangkas emisi yang mendorong pemanasan global.

"Tidak semua orang menanam makanan, tetapi semua orang perlu makan. Ketika panen menjadi lebih tidak stabil, semua orang akan merasakannya," tambah Dr. Proctor.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
Pipa Baja Galvanis Spindo Perkuat Jaringan Air Bersih Kubangsari Tasikmalaya
BrandzView
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
135.793 Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Limbah B3, Pakar Ingatkan Risiko Pencemaran Air
LSM/Figur
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Ancaman El Niño Buat Pelaku Bisnis Kian Cemas
Pemerintah
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Astra Terima Kunjungan Menteri Pariwisata di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Perkuat Wisata Berbasis Budaya
Desa Sejahtera Astra
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Kemenhut: Ancaman Karhutla di Kawasan Bromo Belum Selesai Meski Api Sudah Terkendali
Pemerintah
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Pemerintah
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
Limbah Jagung dan Daun Pepaya Diolah Jadi Penangkal Nyamuk Malaria
LSM/Figur
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Pemerintah
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau