DAC dan teknologi "emisi negatif" lainnya bisa menjadi jalan bagi dunia untuk tidak hanya mencapai emisi net-zero, tetapi juga melampauinya dan menghasilkan emisi net-negatif, yang secara efektif membalikkan perubahan iklim.
Jika 1.460 gigaton kapasitas penyimpanan CO2 di bawah tanah yang layak digunakan hanya untuk penyerapan CO2 (dari atmosfer) ini, dunia bisa membalikkan pemanasan hingga 0,7 derajat C.
Baca juga: Rumput Laut di Pantai Serap Karbon, tetapi Juga Sumber Emisi Metara
Namun, Stuart Haszeldine dari University of Edinburgh, Inggris, memperingatkan bahwa meskipun kapasitas penyimpanan geologis yang dapat digunakan kemungkinan lebih kecil dari perkiraan industri sebesar 14.000 gigaton, ia menduga angka baru yang lebih rendah tersebut terlalu konservatif.
Haszeldine berpendapat bahwa pendekatan tim terhadap faktor risiko "sangat berhati-hati". Ia menunjukkan bahwa beberapa daerah yang rawan gempa, seperti Laut Utara, secara efektif dikecualikan oleh pendekatan mereka, padahal sebenarnya masih bisa menjadi tempat yang aman untuk menyimpan karbon.
"Kita tahu cukup banyak tentang penyimpanan karbon dan cadangan minyak untuk menyimpulkan bahwa jika Anda memiliki ladang minyak yang penuh dengan minyak, gas, atau karbon dioksida, bahkan jika terjadi gempa berkekuatan magnitudo 6 yang mengguncangnya, tidak akan terjadi apa-apa," kata Haszeldine.
Haszeldine menunjukkan bahwa sebagian besar analis dan peneliti berasumsi bahwa penyerapan karbon akan digunakan untuk membantu dunia beralih dari bahan bakar fosil.
Artinya, volume karbon yang disuntikkan ke bawah tanah setiap tahun seharusnya menurun setelah dunia mencapai target emisi net-zero, katanya.
"Penangkapan dan penyimpanan karbon tidak pernah dianggap sebagai solusi final untuk semua masalah dan pesimisme terkait perubahan iklim,"
terang Haszeldine.
Menurutnya, metode tersebut lebih dilihat sebagai langkah transisi yang mungkin berlangsung 30, 50, bahkan hingga 150 tahun, untuk membantu beralih dari penggunaan minyak dan gas. Oleh karena itu, kita tidak butuh kapasitas penyimpanan CO2 dalam jumlah yang benar-benar luar biasa besar.
Studi dipublikasikan di Nature.
Baca juga: SBTi Rilis Standar Net Zero untuk Bank dan Investor, Atur soal Pinjaman hingga Asuransi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya