KOMPAS.com - Penggunaan bahan bakar alternatif dalam dunia perkapalan akan meningkat pesat setelah tahun 2030. Hal ini akan terjadi seiring dengan berlakunya standar emisi yang lebih ketat, berbeda dengan transisi yang sekarang masih tersendat-sendat.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh para eksekutif perkapalan dalam konferensi APPEC di Singapura.
Mereka menyebut kenaikan penggunaan bahan bakar alternatif pada dekade ini diperkirakan akan bertahap, karena perusahaan pelayaran masih bergumul dengan berbagai faktor seperti volatilitas perdagangan dan ketidakpastian geopolitik.
Namun, peningkatannya diperkirakan akan terjadi pada 10 tahun berikutnya yaitu setelah tahun 2030.
"Saya rasa, antara tahun 2030 hingga 2040 kita akan melihat pergeseran volume nyata ke bahan bakar rendah karbon," kata Emma Mazhari, CEO Maersk Oil Trading, dikutip dari Reuters, Selasa (9/9/2025).
Baca juga: Transisi Energi, Sektor Perkapalan Bisa Merugi 11 M Dollar AS
Peraturan termasuk skema perdagangan emisi Eropa dan standar bahan bakar maritim mendorong pergeseran ini.
"Saat ini, kami sudah bisa melihat bahwa ketika kami mengisi bahan bakar di Eropa, pasokan bahan bakar rendah karbon semakin banyak. Jadi, sudah pasti akan ada banyak perubahan," ujarnya.
Karena pergeseran yang diperkirakan akan terjadi, perusahaan seperti Maersk tidak lagi berinvestasi pada kapal berbahan bakar tunggal.
"Jika kita berinvestasi pada aset baru sekarang, aset tersebut harus dual-fuel atau menggunakan dua jenis bahan bakar. Dengan begitu, kita memiliki opsi untuk memastikan bahwa kita dapat memperoleh kembali investasi dalam skala jangka panjang," kata Mazhari.
Takeshi Hashimoto, CEO perusahaan pelayaran terbesar kedua di Jepang, Mitsui O.S.K. Lines mengatakan bahwa selama lima hingga 10 tahun ke depan, perusahaan pelayaran akan berfokus pertama pada pengurangan emisi melalui "produk yang telah terbukti" seperti LNG dan metanol.
MOL juga secara agresif mengeksplorasi penggunaan tenaga angin untuk membantu sistem propulsi kapal.
Baca juga: IMW 2025: Membangun Konektivitas, Keberlanjutan, dan Digitalisasi Maritim Asia
Hashimoto menambahkan bahwa dekarbonisasi di sektor perkapalan saat ini masih berjalan "tersendat-sendat". Meskipun demikian, pengembangan bahan bakar kelautan rendah karbon seperti amonia hijau, metanol hijau, dan biometana akan menjadi keharusan bagi industri ini dalam jangka panjang.
Industri perkapalan sendiri telah menjajaki bahan bakar alternatif rendah karbon untuk mengurangi ketergantungannya pada minyak. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi target pengurangan emisi karbon yang telah ditetapkan oleh International Maritime Organization (IMO).
Eksekutif dari Tata NYK Shipping menambahkan terlepas dari volatilitas geopolitik, dekarbonisasi harus menjadi prioritas.
"Dekarbonisasi adalah sebuah keharusan dan strategi bagi para pemilik kapal, dan hal itu akan terus menjadi fokus terlepas dari apa pun kebijakan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih," kata Amitabh Panda, direktur pelaksana di Tata NYK Shipping, sebuah perusahaan patungan dengan Tata Steel dari India.
Tapi, ia mengakui bahwa lanskap geopolitik yang berubah-ubah mempersulit pengambilan keputusan perusahaan.
"Kami tidak terlalu yakin kapan dan seberapa banyak harus berinvestasi, sehingga alokasi modal menjadi sebuah masalah," paparnya.
Baca juga: Rumput Laut di Pantai Serap Karbon, tetapi Juga Sumber Emisi Metara
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya