Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Metana Jadi Berkah, Kisah Suami Istri Balikpapan Hidup dari Sampah

Kompas.com, 18 September 2025, 17:00 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - "Kalau bicara soal metana dari sampah, saya tahu-lah semua detailnya," kata Suyono, menerangkan kepakarannya dalam mengelola sampah organik menjadi metana.

Selama bertahun-tahun, ia ikut bertanggung jawab dalam produksi metana dari sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, yang menjadi lokasi binaan program Wasteco milik Pertamina.

"Tiap hari saya harus kontrol itu, pipa mana yang menghasilkan gas. Dari situ, saya pastikan mengalir ke warga," ujar Suyono menguraikan rutinitas hariannya ketika ditemui Kompas.com pada pertengahan Agustus lalu.

Produksi metana, katanya, bisa naik turun. Kuantitasnya tergantung pada jumlah sampah organik yang terakumulasi di TPA. Curah hujan yang cukup juga berpengaruh karena meningkatkan aktivitas penguraian sampah.

Ada faktor lain yang memengaruhi, yaitu keberadaan material pelapis di dasar landfill. Menurut Suyono, jika dilapisi, maka material organik, termasuk yang berbentuk cair, tidak merembes ke tanah, melainkan menjadi bahan baku produksi metana.

Kini, bisa dibilang Suyono hidup dari metana. Bukan hanya karena pekerjaannya sebagai teknisi memberinya penghasilan tambahan, tetapi juga karena istrinya, Karti, memanfaatkan gas metana tersebut untuk usaha.

"Saya bikin usaha keripik ini," kata Karti, seraya menunjukkan keripik pisang buatannya. "Karena pakai metana, harganya bisa murah. Cuma Rp 18 ribu ini (kemasan 500 gram). Coba pakai gas biasa, harganya enggak segini."

Berapa omzet dan keuntungannya? Karti mengaku tak pernah menghitung secara detail. Baginya, yang penting uangnya cukup untuk tambahan biaya sekolah anak-anak sekaligus memenuhi kebutuhannya sendiri.

"Saya bisa beli baju. Beli lipstik ini buat dandan dikit-dikit. Dari jualan ini. Tidak harus minta uang dari suami sekarang," katanya sambil menegaskan bahwa bisa menghasilkan uang sendiri adalah salah satu kepuasannya.

Bukan Cuma Satu Keluarga

Manfaat metana dari TPA Manggar bukan hanya dirasakan Suyono dan Karti, melainkan juga komunitas mereka. Salah satunya berupa penghematan biaya karena tidak perlu lagi bergantung pada gas melon (tabung 3,5 kilogram).

Baca juga: Hari Kelebihan Sampah Plastik 2025: Dunia Gagal Kelola Sepertiga Produksi

"Untuk pakai metana ini, warga cuma bayar Rp 10 ribu per bulan. Biasanya, sebulan butuh 4 gas melon, sekarang cuma butuh satu. Itu pun hanya untuk cadangan kalau metana tidak ada. Banyak hematnya," ungkap Suyono.

Karti menambahkan, komunitasnya juga punya bank sampah yang memberi peluang tambahan penghasilan. "Jadi kadang kita juga enggak bayar metana sama sekali karena biayanya dipotong dari tabungan di bank sampah," jelasnya.

Saat ini, jaringan pipa gas metana sudah mencapai radius 8 kilometer. Setidaknya 380 rumah telah memanfaatkan gas metana dari sampah organik hasil olahan TPA Manggar yang luasnya mencapai 40 hektar.

Potensi gas metana yang bisa dihasilkan dari TPA tersebut sekitar 1,5 juta meter kubik. Namun, baru 60 persen yang berhasil dimanfaatkan. Satu landfill baru bahkan sedang disiapkan untuk menampung lebih banyak sampah dan mengoptimalkan produksi metana.

Menurut Pertamina, TPA Manggar saat ini menghasilkan 820.000 meter kubik gas metana per tahun. Program ini mampu menghemat biaya rumah tangga hingga Rp 456 juta per tahun sekaligus memangkas emisi karbon sebesar 296.356 ton CO?e per tahun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau