KOMPAS.com - Beberapa perusahaan besar ternama di bidang teknologi dan konstruksi telah berkomitmen untuk bersama-sama membeli beton yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen ini pun memberikan jaminan yang dibutuhkan para investor untuk mendukung proyek-proyek manufaktur semen rendah karbon.
Pembelian beton berkelanjutan ini dimungkinkan melalui RMI dan Centre for Green Market Activation yang meluncurkan sebuah aliansi bernama Sustainable Concrete Buyers Alliance' (Aliansi Pembeli Beton Berkelanjutan).
Aliansi ini akan mengumpulkan permintaan untuk semen dan beton rendah karbon.
Kedua organisasi tersebut mengklaim bahwa Aliansi ini adalah yang pertama di dunia. Cara kerjanya akan meniru aliansi pembeli serupa yang sudah ada untuk bahan bakar penerbangan alternatif dan baja rendah karbon.
Melalui aliansi ini, berbagai perusahaan akan bersama-sama mendukung pembelian sertifikat yang mendanai produksi semen dan beton rendah karbon.
Baca juga: Produk Bahan Bangunan Ramah Lingkungan Lebih Diminati Konsumen di Indonesia
Meskipun demikian, mereka tidak harus menggunakan material tersebut secara langsung dalam proyek-proyek mereka sendiri.
"Sistem ini memungkinkan para pembeli untuk memberikan dukungan finansial pada produksi berkelanjutan, terlepas dari di mana material tersebut digunakan. Hal ini menawarkan fleksibilitas dan skalabilitas dalam strategi dekarbonisasi," terang aliansi ini seperti dikutip dari Edie, Selasa (23/9/2025).
Model 'book and claim' (pesan dan klaim) sangat efektif di industri dengan rantai pasok yang kompleks dan sedang berada di tahap awal transformasi teknologi.
Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk mengklaim pengurangan emisi secara kredibel, sekaligus mempercepat transformasi pasar.
Aliansi tersebut akan mulai menghubungkan perusahaan-perusahaan anggotanya, seperti Amazon, Meta, dan Prologis, dengan para pemasok dan produsen material pada akhir tahun ini.
Sementara itu, proses pengadaannya akan kompetitif, pemasok yang terpilih akan bergantung pada faktor seperti ukuran dan lokasi, karakteristik material, serta dampak lingkungannya.
"Sustainable Concrete Buyers Alliance dibangun berdasarkan pendekatan yang telah terbukti dari sektor-sektor lain yang sulit dikurangi emisinya, dengan membawa permintaan kolektif dari para pembeli ke industri beton," kata Kim Carnahan, presiden dan CEO dari The Centre.
"Dengan menghubungkan para pembeli dan pemasok melalui kerangka 'book and claim' yang kredibel, kita bisa membuka investasi yang diperlukan untuk meningkatkan skala solusi semen dan dan beton generasi berikutnya di salah satu industri paling intensif emisi di dunia," katanya lagi.
Baca juga: Bukan Cuma Limbah, Ampas Kopi Bisa Jadi Beton Kuat dan Berkelanjutan
Sektor semen dan beton saat ini sendiri menyumbang sekitar 8 persen dari emisi CO2 global tahunan.
Persentase ini kemungkinan akan bertambah seiring dekarbonisasi listrik dan meningkatnya kebutuhan konstruksi akibat urbanisasi dan digitalisasi.
Tim dari Industrial Transition Accelerator (ITA) yang merupakan bagian dari Mission Possible Partnership sebelumnya telah memperingatkan di awal tahun ini bahwa agar dapat berinvestasi dalam dekarbonisasi dan inovasi material, sektor industri berat perlu mendapat sinyal permintaan yang lebih jelas dari para pembeli.
ITA memperkirakan bahwa dana sebesar 700 miliar dolar AS akan dibutuhkan untuk menjalankan seluruh proyek dekarbonisasi industri yang ada di seluruh dunia, mencakup sektor semen, bahan kimia, baja, dan aluminium.
Pendanaan ini harus berasal dari sumber publik maupun swasta.
Baca juga: RI Usulkan Pendanaan Iklim Rp 1,4 T ke GCF untuk Pangkas Emisi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya